Pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto beberapa waktu lalu terdengar lembut. Terlalu lembut malah. Ia bilang rakyat Indonesia sebenarnya tidak bermimpi hidup kaya raya. Rakyat, kata dia, cuma ingin hidup layak. Bisa makan enak, beli susu anak, punya rumah, dan berobat ketika sakit.
Pramoedya.id: Sekilas tidak ada yang salah. Narasi itu terdengar seperti doa seorang bapak kepada anak-anaknya. Nyaris tidak mungkin dibantah. Tetapi justru di situlah masalahnya. Sebab saya curiga, itu salah satu fitnah paling sopan yang pernah diucapkan kepada ratusan juta rakyat Indonesia.
Karena siapa manusia yang tidak ingin kaya?
Pertanyaan itu terdengar kasar, tapi mari jujur sebentar saja. Tukang gorengan yang berdiri di pinggir jalan dari sore sampai tengah malam itu bukan sedang bercita-cita hidup “secukupnya”. Ia ingin dagangannya ramai. Ia ingin anaknya sekolah tinggi. Ia ingin suatu hari tidak lagi pusing memikirkan harga minyak goreng.
Kuli bangunan yang punggungnya gosong disiram matahari juga tidak bangun pagi demi sebuah filosofi kesederhanaan nasional. Ia bekerja karena ada harapan. Harapan itu mungkin sederhana: rumah lebih bagus, motor baru, atau hidup yang tidak selalu deg-degan tiap kali dekat tanggal jatuh tempo cicilan.
Dan mari kita jujur lebih jauh lagi: tidak ada rakyat kecil yang menolak kekayaan. Yang ada hanyalah rakyat kecil yang terlalu sering dipaksa realistis.
Mereka belajar sejak lama bahwa mimpi tinggi kadang terasa seperti kemewahan. Maka banyak orang akhirnya menurunkan standar hidupnya sendiri. Bukan karena tidak ingin kaya, tetapi karena hidup telanjur mahal dan kenyataan terlalu bengis untuk ditantang.
Lalu lahirlah kalimat-kalimat khas republik ini:
“Yang penting dapur ngebul.”
“Yang penting anak sehat.”
“Yang penting bisa makan hari ini.”
Kalimat-kalimat pasrah demi bertahan hidup.
Negara sering salah membaca kelelahan rakyat sebagai kesederhanaan rakyat.
Padahal coba saja besok ada malaikat turun ke kampung-kampung dan bertanya:
“Mau kaya tidak?”
Saya yakin tidak ada yang menjawab:
“Tidak usah. Saya cukup hidup layak saja.”
Yang ada justru:
“Kalau bisa sekalian lunasin utang, Malaikat.”
Sebab rakyat Indonesia bukan bangsa anti-kaya. Kita justru bangsa yang sangat akrab dengan mimpi naik kelas sosial. Lihat saja isi media sosial kita tiap hari. Orang ikut seminar cuan, belajar affiliate, trading, jualan online, investasi, sampai percaya konten “cara menghasilkan uang sambil rebahan”.
Mengapa?
Karena diam-diam semua orang ingin hidup lebih aman. Lebih nyaman. Lebih merdeka dari rasa takut. Dan sering kali, jalan menuju itu ya lewat uang.
Maka pernyataan bahwa rakyat tidak ingin kaya raya terdengar aneh. Terlalu menyederhanakan manusia. Seolah-olah orang bekerja banting tulang hanya supaya tetap hidup, bukan supaya hidupnya meningkat. Padahal seluruh sejarah orang miskin justru sejarah tentang harapan. Tentang keinginan agar anaknya tidak mengulang nasib yang sama.
Masalah terbesar rakyat Indonesia bukan mereka tidak ingin kaya, namun terlalu sering diberitahu untuk tidak bermimpi terlalu tinggi. Dan republik ini tampaknya mulai menganggap itu sebagai kebijaksanaan.(*)







