Dalam ilmu entomologi, hama adalah organisme yang dianggap mengganggu tujuan utama sebuah sistem. Di sawah, hama mengganggu panen. Di kebun, hama mengganggu pertumbuhan tanaman. Karena itulah para ahli serangga menghabiskan hidup mereka mempelajari cara mengenali, mengendalikan, bahkan memusnahkan hama.
Pramoedya.id: Dadan Hindayana memahami teori itu lebih baik daripada kebanyakan orang Indonesia.
Ia adalah guru besar entomologi. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk meneliti serangga, mempelajari perilaku hama, dan mencari cara agar tanaman tidak dirusak makhluk-makhluk kecil yang mengganggu hasil panen.
Namun politik, seperti biasa, selalu memiliki selera humor yang aneh.
Suatu hari Dadan dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga yang menjadi ujung tombak Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Dari laboratorium serangga, Dadan berpindah ke dapur nasional. Dari mengurus hama, ia dipercaya mengurus gizi jutaan anak Indonesia.
Pada awalnya semua tampak baik-baik saja. MBG dipromosikan sebagai program yang akan memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dadan tampil di berbagai forum. Ia menjelaskan manfaat program, berbicara soal kebutuhan gizi, anggaran, hingga target penerima manfaat.
Wajah MBG perlahan menjadi identik dengan dirinya.
Jika ada yang bertanya tentang program itu, Dadan yang menjawab.
Jika ada kritik, Dadan yang maju.
Jika DPR meminta penjelasan, Dadan yang duduk di kursi panas.
Tetapi program sebesar MBG ternyata tidak hanya menghasilkan pujian.
Dalam perjalanannya, berbagai persoalan mulai muncul. Sejumlah kasus keracunan makanan terjadi di beberapa daerah. Distribusi makanan dipersoalkan. Tata kelola program dipertanyakan. Mekanisme pengawasan menu dan kualitas makanan ikut menjadi sorotan.
Di tengah berbagai kritik tersebut, pemerintah tetap mempertahankan MBG sebagai program prioritas nasional.
Lalu tiba-tiba, awal Juni 2026, terjadi sesuatu yang membuat publik mengangkat alis.
Presiden Prabowo mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN. Bersama dirinya, dua Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya, juga ikut diberhentikan. Posisi mereka kemudian diisi oleh Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN serta Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai wakil kepala.
Pemerintah menyebut pergantian itu sebagai hasil evaluasi.
Kata “evaluasi” terdengar bias. Masalahnya, sehari kemudian cerita berkembang jauh lebih menarik. Kantor BGN digeledah.
Tak lama berselang, Kejaksaan Agung menetapkan Dadan Hindayana, Sony Sanjaya, dan Lodewyk Pusung sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis.
Publik yang sebelumnya mengira pencopotan itu sekadar rotasi jabatan mendadak sadar bahwa mereka sedang menyaksikan babak awal dari cerita yang lebih besar. Menurut penyidik, perkara ini bukan sekadar kesalahan administrasi.
Kejaksaan menduga terdapat yayasan-yayasan yang terafiliasi dengan para tersangka dan memperoleh keuntungan dari pelaksanaan program MBG melalui jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penyidik juga mendalami dugaan intervensi dalam proses verifikasi mitra, dugaan pengaturan yayasan penerima manfaat, hingga dugaan penggelembungan harga dalam pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan program tersebut.
Belakangan muncul pula informasi mengenai penyelidikan terhadap pengadaan puluhan ribu motor listrik bernilai sekitar Rp1 triliun yang berkaitan dengan operasional MBG.
Tentu semua dugaan itu masih harus dibuktikan di pengadilan. Namun satu hal sudah pasti. Narasi tentang Dadan telah berubah. Awalnya publik melihatnya sebagai akademisi yang diberi tugas mengelola program raksasa negara. Kini publik melihatnya sebagai tersangka dalam perkara yang sedang berusaha diurai oleh Kejaksaan Agung.
Ironinya terletak di sini.
Selama hidupnya, Dadan mempelajari bagaimana sebuah ekosistem bisa terganggu oleh keberadaan organisme yang mengambil manfaat dari sistem tersebut.
Kini, justru dirinya yang dituduh mengambil peran dalam sistem yang seharusnya ia jaga.
Jika tuduhan itu terbukti, maka sejarah akan mencatat sebuah kisah yang sulit ditandingi oleh novel satir mana pun.
Seorang ahli serangga yang ditugaskan menjaga program gizi nasional.
Lalu dicopot.
Kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
Dan akhirnya menjadi contoh paling sempurna tentang bagaimana seseorang bisa berubah dari pengendali hama menjadi bagian dari masalah yang ingin dikendalikan.
Di dunia pertanian, ketika hama ditemukan, petani biasanya segera mengambil tindakan agar tanaman tetap selamat. Di dunia politik, prosesnya ternyata tidak jauh berbeda.
Bedanya, kali ini yang disemprot bukan wereng, ulat, atau belalang. Melainkan seorang profesor yang sepanjang hidupnya mengajari kita cara mengenali hama.(*)







