Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan

- Editor

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

Ada generasi yang tumbuh tanpa benar-benar sadar bahwa dunia sedang berubah begitu cepat di sekelilingnya. Mereka adalah anak-anak yang lahir pada dekade 1990-an, generasi yang masa kecilnya masih cukup akrab dengan halaman rumah, lapangan, televisi, kaset, rental PlayStation, sepeda, dan jerutan ibu yang memanggil dari kejauhan ketika hari mulai gelap.

Pramoedya.id: Ketika itu, dunia belum berada di dalam genggaman. Untuk bertemu teman, seseorang harus keluar rumah. Buku dan koran masih punya tempat yang penting sebagai sumber informasi. Tidak ada yang merasa hidupnya tertinggal hanya karena belum membalas pesan selama beberapa jam. Barangkali dunia pada masa itu tidak lebih baik, tetapi ritmenya jauh lebih bisa dinikmati.

Generasi ini tumbuh, dan internet datang hampir bersamaan dengan masa remaja. Warnet menjadi ruang baru, Friendster dan kemudian Facebook menjadi tempat untuk mengenal dunia sosial yang berbeda, disusul BBM, Instagram, YouTube, TikTok, dan berbagai platform yang membuat jarak antarorang seolah tidak lagi berarti. Anak-anak 90-an adalah salah satu generasi yang mengalami perpindahan itu secara langsung. Generasi ini tidak lahir dengan layar di depan mata, tetapi menjadi dewasa ketika layar mulai menentukan bagaimana manusia bekerja, berkomunikasi, berbelanja, mencari pasangan, mencari pekerjaan, bahkan menilai dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang unik dalam pengalaman itu: mungkin sebagian generasi 90-an masih memiliki ingatan tentang dunia sebelum internet, tetapi kehidupannya sekarang hampir sepenuhnya berlangsung di dalam dunia yang tidak bisa dipisahkan dari internet.

Mungkin karena itu, ada semacam rasa asing yang sesekali muncul ketika melihat kehidupan hari ini. Semua mungkin pernah tahu bagaimana rasanya bosan tanpa harus membuka telepon. Kemudian mengalami sore yang panjang tanpa notifikasi. Kenangan pada masa itu tidak selalu tersimpan dalam galeri ponsel, melainkan di kepala. Bahkan sebagian besar kejadian yang paling diingat dari masa kecil justru adalah kejadian yang tidak pernah difoto.

Ada pertandingan bola di lapangan kampung, perjalanan naik sepeda entah ke mana, bermain sampai pakaian kotor, menunggu teman datang ke rumah, atau duduk berlama-lama membicarakan sesuatu yang sekarang mungkin terdengar tidak penting. Kehidupan tidak selalu harus dipertontonkan agar terasa berarti.
Namun kemudian generasi ini menjadi dewasa dan mendapati bahwa dunia tidak lagi sesederhana itu.

Usia dua puluhan membawa pekerjaan, tuntutan keluarga, kebutuhan ekonomi, hubungan, dan pertanyaan tentang masa depan. Memasuki tiga puluhan, pertanyaan itu semakin sering datang dengan suasana yang lebih serius. Sudah bekerja di mana? Gajinya berapa? Sudah punya rumah? Kapan menikah? Kapan punya anak? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin terdengar biasa, bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai bentuk perhatian. Tetapi bagi mereka yang sedang berusaha memahami hidupnya sendiri, ah K****L!

Di sinilah anak-anak 90-an mulai menemukan persoalan yang mungkin tidak pernah dibicarakan ketika mereka masih kecil: bahwa menjadi dewasa tidak otomatis membuat seseorang tahu ke mana harus pergi. Ada yang pandai menyembunyikan kebingungan. Lalu mempertanyakan apakah pekerjaan ini benar-benar yang diinginkan.

Generasi ini kerap disuguhi pemandangan teman sebaya menikah, membeli rumah, mempunyai anak, membangun bisnis, pergi ke luar negeri, lalu tanpa sadar mulai mengukur kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Media sosial membuat proses itu menjadi jauh lebih brutal.

Barangkali masalah terbesar generasi ini bukan kekurangan pilihan, melainkan terlalu banyak pilihan. Ketika kecil, kehidupan terasa seperti memiliki jalur yang cukup jelas. Sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya keluarga. Tetapi ketika sampai pada usia dewasa, para 90-an sadar bahwa hidup tidak lagi sesederhana itu. Ada begitu banyak kemungkinan, tetapi bersamaan dengan itu muncul begitu banyak kecemasan.

Mungkin itu pula yang menjelaskan kenapa sebagian anak 90-an kemudian mulai mencari sesuatu yang sederhana. Mereka berlari, bersepeda, pergi ke gym, mengendarai sepeda motor menempuh jalan panjang, berkemah, atau naik gunung. Dari luar, semua itu terlihat seperti gaya hidup. Ada sepatu lari, pakaian olahraga, kamera, perlengkapan mendaki, dan unggahan media sosial yang tak boleh tertinggal. Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, mungkin ada kebutuhan lain yang sedang dicari: ruang untuk berhenti sejenak. Setelah bertahun-tahun hidup dengan tuntutan untuk bergerak cepat, tubuh dan pikiran barangkali mulai mencari aktivitas yang justru membuat kembali merasakan tubuh sendiri.

Ada ironi yang menarik di sana. Generasi 90-an berlari untuk menemukan ketenangan, naik gunung untuk melarikan diri dari kebisingan kota, dan pergi jauh untuk bisa mendengar pikiran sendiri. Di tengah pekerjaan yang menuntut produktivitas, olahraga menjadi salah satu cara untuk menghabiskan waktu tanpa harus menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Tidak semua orang berlari untuk mengejar medali. Tidak semua orang mendaki gunung untuk menaklukkan puncak. Kadang seseorang hanya ingin berjalan sampai tubuhnya lelah, lalu tidur dengan perasaan bahwa untuk satu hari ia berhasil melepaskan sesuatu yang selama ini dibawanya.

Gunung mungkin menjadi salah satu tempat yang paling jujur untuk itu. Di sana, gelar dan jabatan kehilangan sebagian besar maknanya. Tubuh yang kuat pun tetap membutuhkan istirahat. Orang yang biasanya duduk di balik meja dan memerintah orang lain tetap harus berjalan dengan kakinya sendiri. Tidak ada algoritma yang menentukan apakah seseorang cukup berhasil untuk berada di sana. Tidak ada angka pengikut yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna. Yang ada hanya jalan, napas, keringat, cuaca, teman seperjalanan, dan tujuan yang kadang terasa jauh. Dalam kesederhanaan semacam itu, seseorang mungkin menemukan kembali dirinya yang sempat hilang di tengah kehidupan kota.

Tetapi tentu saja, naik gunung tidak akan menyelesaikan tagihan. Berlari tidak otomatis membuat karier menjadi lebih baik. Bersepeda tidak menjawab pertanyaan tentang masa depan. Dan setelah pulang, semua persoalan masih ada di tempatnya masing-masing. Pekerjaan tetap menunggu, keluarga tetap punya harapan, rekening tetap harus diisi, dan pertanyaan tentang pernikahan tetap akan muncul dalam berbagai bentuk. Namun mungkin ketenangan memang bukan tentang menghilangkan persoalan. Ketenangan adalah kemampuan untuk kembali menghadapi persoalan tanpa merasa seluruh hidup sedang runtuh.

Pada titik ini, pembicaraan tentang anak 90-an juga tidak bisa dilepaskan dari soal pernikahan. Generasi ini berada dalam posisi yang menarik. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menganggap menikah sebagai bagian yang hampir pasti dari perjalanan hidup, tetapi ketika sampai pada usia menikah, mereka hidup dalam kondisi sosial dan ekonomi yang jauh lebih rumit. Biaya hidup meningkat, pekerjaan tidak selalu stabil, hubungan tidak selalu sederhana, dan mereka memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk melihat berbagai macam kehidupan rumah tangga. Mereka melihat pernikahan yang bahagia, tetapi juga melihat pernikahan yang berakhir. Mereka melihat keluarga yang hangat, tetapi juga mengetahui bahwa membangun keluarga membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta.

Karena itu, ketika sebagian anak 90-an belum menikah pada usia yang dianggap “seharusnya”, mungkin tidak selalu tepat jika mereka disebut takut berkomitmen atau terlalu menikmati kebebasan. Bisa jadi mereka hanya semakin sadar bahwa keputusan sebesar pernikahan tidak seharusnya dilakukan karena takut tertinggal. Ada orang yang memang belum bertemu dengan orang yang tepat. Ada yang sedang membangun kehidupan terlebih dahulu. Ada yang masih belajar memahami dirinya sendiri. Ada pula yang memang memilih jalan hidup berbeda. Semua itu tidak otomatis menjadikan seseorang gagal. Manusia tidak pernah benar-benar berjalan dalam kalender yang sama.

Mungkin generasi ini sedang belajar membedakan antara kehidupan yang mereka inginkan dengan kehidupan yang sejak kecil diberitahukan kepada mereka sebagai satu-satunya kehidupan yang benar. Perbedaan itu penting. Sebab menjadi dewasa seharusnya bukan sekadar mampu memenuhi daftar pencapaian yang dibuat orang lain. Menjadi dewasa mungkin justru berarti berani bertanya kepada diri sendiri: apakah kehidupan yang sedang saya jalani benar-benar kehidupan yang saya pilih?
Pertanyaan semacam itu tidak selalu menghasilkan jawaban cepat. Bahkan mungkin tidak menghasilkan jawaban sama sekali dalam waktu yang lama. Tetapi tidak apa-apa. Ada masa ketika manusia memang perlu berhenti mengejar jawaban dan mulai belajar tinggal bersama pertanyaan.

Anak-anak 90-an mungkin sedang berada di fase itu. Mereka bukan generasi yang tidak punya arah. Mereka hanya hidup di antara dua dunia: dunia lama yang mengajarkan kesederhanaan dan dunia baru yang menuntut kecepatan. Mereka pernah mengenal kehidupan sebelum semua orang bisa melihat kehidupan mereka, lalu tumbuh menjadi dewasa ketika hampir semua hal harus terlihat.

Barangkali itulah sebabnya semakin banyak orang seusia kita mulai menghargai hal-hal yang dahulu dianggap biasa. Duduk di warung setelah bekerja. Ngopi tanpa membicarakan pekerjaan. Makan bersama teman. Berjalan pagi. Mengendarai kendaraan tanpa tujuan yang terlalu penting. Pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Membaca buku. Mematikan telepon untuk beberapa jam. Atau sekadar duduk sendirian di kamar tanpa merasa harus mengisi setiap detik dengan sesuatu. Setelah hidup bertahun-tahun dalam keadaan terkoneksi, kesendirian justru bisa menjadi bentuk kemewahan baru.

Pada akhirnya, mungkin generasi ini tidak sedang mencari kehidupan yang sempurna. Mereka hanya ingin kehidupan yang terasa cukup tenang. Mungkin ketenangan itu tidak perlu dicari terlalu jauh. Ia bisa datang dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti semangkuk makanan hangat setelah tubuh dan pikiran seharian bekerja. Tidak mewah, tidak perlu difoto, tidak perlu dibagikan kepada siapa pun. Cukup duduk, menyendok perlahan, merasakan hangatnya, dan untuk beberapa menit membiarkan dunia berjalan.

Anak-anak 90-an mungkin belum menemukan semua jawabannya. Mungkin masih bingung soal pekerjaan, pasangan, uang, rumah, keluarga, bahkan tentang siapa sebenarnya diri mereka setelah melewati begitu banyak perubahan. Tetapi mungkin tidak semua kebingungan harus segera diselesaikan. Ada kebingungan yang hanya perlu ditemani sampai ia menemukan bentuknya sendiri.

Dan jika suatu hari nanti benar-benar lelah, mungkin tidak perlu buru-buru pergi terlalu jauh. Cukup duduk di sebuah kedai, pesan semangkuk makanan. Lalu, biarkan dunia menunggu sebentar.(*)

Berita Terkait

Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur
Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:17 WIB

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Rabu, 1 Juli 2026 - 02:58 WIB

UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi

Perspektif

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan

Sabtu, 22 Agu 2026 - 21:17 WIB

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dinobatkan sebagai lulusan terbaik pertama dalam pengukuhan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Lampung angkatan 15.

News

Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur

Jumat, 21 Agu 2026 - 11:51 WIB