Pramoedya.id: Indonesia punya sejarah unik yang jarang dimiliki negara lain. Puncak kepemimpinannya berulang kali dipegang oleh figur berlatar belakang insinyur. Dari Soekarno dengan pendekatan pembangunan simboliknya, hingga Jokowi dengan eksekusi lapangan masifnya.
Kini, tradisi teknokrasi berijazah teknik itu kini rasanya samar-samar sedang merembes ke tingkat daerah di Lampung.
Bukan opini asal penulis belaka. Saat ini Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dan sekretaris Daerah, Marindo Kurniawan, merupakan sosok figur berlatar belakang teknik. Mereka bahkan sama-sama menempuh Program Profesi Insinyur di Universitas Lampung.
Dari latar belakang tersebut rasanya tak berlebihan penulis seperti membaca birokrasi tidak lagi digerakkan oleh sekadar retorika politik, melainkan oleh logika rekayasa sistem (engineering logic). Mari kita ulas
Bagi Insinyur Keran Bocor Itu Bagian Dari Kegagalan
Seorang insinyur tidak pernah membuang waktu untuk mengobati gejala di permukaan, mereka mencari titik sumbatan utama (bottleneck) dalam suatu aliran proses. Dalam membaca pariwisata Lampung, misalnya, birokrasi biasa mungkin hanya berfokus pada membuat acara ramai atau memajang baliho. Namun, kacamata insinyur langsung menghitung efisiensi aliran sepanjang 2025, Pemprov Lampung memang mencatat angka fantastis sekitar 24,7 juta kunjungan wisatawan dengan perputaran uang mencapai Rp53,11 triliun.
Tetapi, jika 24 juta orang itu cuma datang pagi, makan sekali, foto-foto, lalu sorenya kembali melenggang pulang, itu namanya kebocoran sistem. Solusi teknisnya bukan sekadar memoles pantai, melainkan membeli waktu wisatawan (Length of Stay).
Lihat saja proyek pelebaran jalur R.E. Martadinata hingga Lempasing–Padang Cermin sepanjang 5,9 kilometer yang pada akhir pekan disesaki hingga 7.500 kendaraan saat lebarnya masih 5 meter. Begitu pula penataan jalur Simpang Teluk Kiluan–Simpang Umbar menuju Gigi Hiu. Kalkulasinya presisi bahwa pembenahan konektivitas dapat berhasil memangkas waktu tempuh Bandar Lampung dari 4 jam menjadi 2,5 jam.
Di atas kertas insinyur, 1,5 jam yang berhasil dihemat di atas aspal adalah 1,5 jam ekstra yang dipaksa masuk ke dalam putaran ekonomi warga. Dari 1,5 jam itu pelancong dapat membeli makan, menyewa kamar, sehingga menahan perputaran uang lebih lama di daerah.
Bagi Insinyur Gambar Bukan Hanya Estetika Tapi Perhitungan yang Harus Diwujudkan
Di dalam laboratorium teknik, tidak ada komponen yang berdiri sendiri. Aliran listrik, hidrolik, dan mekanis harus saling terhubung dalam satu sirkuit tertutup agar energi tidak terbuang sia-sia. Pola ini tercermin dari cara memeta koridor pembangunan di Lampung, seperti saat Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Lampung mengumpulkan para ahli membicarakan penataan 27 kilometer pesisir Bandar Lampung (Waterfront City).
Gagasan yang sebenarnya sudah ada sejak kajian AMDAL Bukit Kunyit tahun 2009 ini mencoba menyambungkan fungsi pelabuhan, industri, dan ruang publik. Dinas-dinas tidak lagi dibiarkan berjalan sendiri-sendiri dengan agenda sektoralnya. Pembangunan infrastruktur jalan dibaca sebagai jalur sirkuit ekonomi bahwa setiap kilometer aspal yang digelar wajib tersambung ke sentra produksi, simpul wisata, atau kawasan komersial. Jika sebuah jalan tidak memiliki dampak nilai tambah (value-added multiplier) di ujung jalurnya, maka dalam hukum rekayasa, proyek tersebut dianggap sebagai kegagalan desain.
Stop Jualan Mimpi
Insinyur tidak pernah menjual sketsa mentah atau janji di atas kertas. Mereka datang membawa gambar kerja (blue print), kalkulasi beban, dan kepastian teknis. Pergeseran ini terlihat pada pendekatan investasi daerah melalui skema Project Ready to Offer (RTO) dan strategi Quick Wins.
Promosi investasi tidak lagi dihabiskan untuk seremonial makan malam atau kesepakatan di atas kertas yang minim realisasi. Investor disodori dokumen teknis yang sudah matang. Dari status lahan yang bersih, Amdal yang rampung, hingga kepastian regulasi dan hitung-hitungan Return on Investment (ROI). Daripada mimpi menaklukkan 27 kilometer pesisir di atas PowerPoint, insinyur memilih menggarap unit terkecil dulu yang paling realistis. Pembuktian fungsi (proof of concept) pada skala kecil jauh lebih bernilai untuk membangun kepercayaan pasar.
Sayangnya Birokrasi Rusak Tak Semudah Mengencangkan Baut Longgar
Dalam ilmu mekanika, gesekan (friction) adalah penyebab utama hilangnya daya dan pemicu kerusakan komponen. Birokrasi yang berbelit, rapat berantai tanpa keputusan, dan ego sektoral adalah bentuk gesekan mekanis yang menguras energi anggaran. Mesin rusak tinggal dikencangkan bautnya pakai kunci pas dalam lima menit. Dalam birokrasi, kadang bautnya tahu dirinya longgar, tetapi meminta rapat koordinasi tiga kali sebelum bersedia dikencangkan.
Dengan kacamata teknis, alur birokrasi dipaksa untuk disederhanakan. Birokrasi dituntut bekerja dengan indikator teknis yang terukur, memotong alur perizinan yang saling kunci, dan mempercepat respons eksekusi. Tujuan utamanya barang pasti, menyetel ulang mesin pemerintahan agar tidak ada daya sosial maupun anggaran yang terbuang sia-sia di jalan.
Tantangan Logika Insinyur di Lampung
Logika insinyur menyukai kepastian data, perhitungan rasional, dan proses bertahap. Sebaliknya, panggung politik sering kali menuntut hasil instan dan keputusan yang sekadar populis. Masa depan arah pembangunan Lampung akan sangat ditentukan oleh ketahanan para pemegang kebijakan dalam mempertahankan kalkulator dan penggaris teknisnya: apakah mereka sanggup konsisten menjaga presisi sistem hingga akhir, atau akhirnya berkompromi dengan cara-cara lama?
Terlepas dari berbagai kemungkinan dan tantangan politik tersebut, jika logika insinyur memang sedang diterapkan di Bumi Ruwa Jurai, maka seluruh arah pembangunan Lampung hari ini sejatinya sedang menguji sebuah adagium klasik di dunia rekayasa berupa “Insinyur hebat bukan yang paling cepat memperbaiki, tetapi yang paling jarang membongkar.” (*)







