MBG: Ketika Politik Menjadi Lagu, dan Lagu Menjadi Cermin Zaman

- Editor

Minggu, 31 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Oleh: Penta Peturun (Ketua Ikadin Lampung)

MBG: Ketika Politik Turun ke Dapur Rakyat

Ada masa ketika politik datang kepada rakyat dengan gaya pidato panjang, jas rapi, dasi perlente, mimbar tinggi nan mewah, dan mikrofon yang lebih besar daripada isi hati manusia. Ada masa ketika kekuasaan ingin dihormati melalui jarak. Pejabat berdiri di panggung, rakyat duduk di bawah, tepuk tangan diatur, kamera diarahkan, dan bahasa negara dibuat setebal tembok kantor kementerian.

Tetapi zaman berubah. Kini politik tidak selalu datang dari istana, parlemen, kantor partai, atau ruang rapat berpendingin udara. Politik kadang lahir dari kolom komentar. Dari jemari iseng. Dari anak muda yang tertawa di kamar kos. Dari emak-emak yang menggulir layar sambil menunggu air mendidih. Dari sopir ojol yang berhenti sejenak di warung kopi sambil menunggu pelanggan. Dari ponsel murah yang layarnya retak, tetapi nalurinya tajam membaca zaman.

Lalu muncullah lagu itu: MBG, Mas Bahlil Ganteng.

Lagu pendek. Genit. Receh. Menggoda.
Ia tidak membawa manifesto. Tidak membawa program kerja. Tidak membawa tabel APBN. Tetapi ia membawa sesuatu yang sering gagal dibawa pidato politik: rasa ingin mengulang.

Di sinilah letak kekuatannya.
Ia tidak mengetuk pintu akal lebih dulu. Ia masuk lewat telinga. Lalu tinggal di kepala. Kemudian menari di lidah rakyat. Esoknya, tanpa sadar, orang menyenandungkannya. Bukan karena setuju. Bukan karena menolak. Kadang hanya karena lucu.
Dan di republik yang sering terlalu serius terhadap kekuasaan, sesuatu yang lucu bisa lebih berbahaya daripada seribu editorial.
Lagu MBG disebut mulai viral dari unggahan TikTok akun @vokaliz_netizen pada 29 April 2026, lalu menyebar luas ke berbagai platform digital. Kumparan mencatat, hingga 29 Mei 2026, unggahan tersebut telah memperoleh lebih dari 1,4 juta likes dan puluhan ribu komentar.

Dari Komentar Menjadi Komoditas

Yang menarik dari lagu ini bukan hanya nama Bahlil. Bukan pula semata permainan kata yang manis-manis kecut seperti jajanan pasar. Yang paling penting adalah asal-usulnya: komentar warganet +62.

Dalam dunia lama, komentar adalah suara pinggir. Ia berada di bawah berita, unggahan, dan status. Ia seperti rakyat kecil dalam struktur kekuasaan: ada, ramai, tetapi sering dianggap remeh.

Namun dalam dunia digital, komentar bisa naik pangkat. Ia bisa berubah menjadi konten. Konten berubah menjadi lagu. Lagu berubah menjadi tren. Tren berubah menjadi berita. Berita berubah menjadi modal politik.
Begitulah republik layar bekerja.

Lagu MBG dilaporkan lahir dari komentar-komentar warganet yang dirangkai menjadi lirik jenaka. Di masa lalu, rakyat menulis pamflet. Di masa Orde Baru, bisik-bisik bisa menjadi bentuk perlawanan. Di masa kini, rakyat membuat meme.

Bukan karena rakyat tidak serius.
Justru karena kadang keseriusan terlalu sering dikhianati. Maka rakyat memilih tertawa. Dan tawa, bila diarahkan kepada kekuasaan, adalah palu kecil yang mengetuk kepala patung besar. Tetapi tawa memiliki nasib aneh di zaman algoritma. Ia bisa membongkar kuasa. Tetapi ia juga bisa mengiklankan kuasa.

Mas Bahlil di Antara Pujian, Canda, dan Satire

Nama Bahlil Lahadalia dalam lagu ini menjadi pusat permainan. Ia tidak hadir sebagai menteri dengan seluruh perangkat kebijakan energi, tambang, investasi, partai, dan posisi politiknya. Ia hadir sebagai tokoh meme. Sebagai figur yang dipanggil dengan nada manja, lucu, dan sedikit menggoda.

Di sinilah bahasa rakyat bekerja seperti pisau kecil. Tidak selalu menikam, tetapi cukup menggelitik hingga yang digelitik tidak tahu apakah ia sedang dipuji atau dipermainkan.

Frasa pendek seperti “MBG, Mas Bahlil Ganteng” membuat politik terasa seperti lagu anak-anak yang tersesat ke panggung negara.

Tetapi justru di situlah daya ledaknya.
Ia membuat figur elite turun dari singgasana serius menuju ruang bercanda. Dari rapat kabinet ke FYP. Dari podium menjadi backsound.

Partai Golkar merespons fenomena ini dengan santai. Golkar menyebut lagu tersebut sebagai sesuatu yang “cute”, sementara pemberitaan lain mencatat Bahlil sendiri penasaran ingin bertemu pembuat lagu itu dan menyebut anaknya ikut menertawakan panggilan “Bapak MBG”.

Respons tersebut penting. Sebab ketika elite marah terhadap meme, meme bisa menjadi perlawanan. Tetapi ketika elite tertawa bersama meme, meme bisa berubah menjadi panggung promosi. Ini jurus lama dalam baju baru: menjinakkan sindiran dengan pelukan.

Kalau rakyat tertawa untuk mengejek, elite bisa berkata, “Terima kasih, rakyat sedang senang.”
Kalau rakyat membuat satire, elite bisa menyebutnya apresiasi.
Kalau lagu lahir dari kolom komentar, partai bisa membawanya ke ruang citra.
Dan begitulah satire kadang berubah menjadi parfum politik.

Algoritma Tidak Punya Moral, Ia Hanya Punya Nafsu Atensi

Yang membuat MBG besar bukan hanya kreativitas. Ada mesin raksasa di balik layar: algoritma. Ia tidak bertanya apakah lagu ini kritik atau pujian. Ia tidak peduli apakah rakyat sedang meledek atau jatuh hati. Ia tidak membaca niat. Ia membaca perilaku.

Apakah orang menonton sampai selesai?
Apakah orang mengulang?
Apakah orang berkomentar?
Apakah orang memakai ulang audio?
Apakah orang membagikan?
Apakah orang tertawa lalu menyimpan?
Bila jawabannya iya, algoritma akan berkata: naikkan.

Maka lagu MBG seperti tubuh kecil yang diberi roda oleh mesin besar. Ia pendek. Mudah diulang. Mudah diparodikan. Mudah dipakai untuk joget, reaction, meme, potongan video, hingga obrolan politik.

Ia tidak meminta konsentrasi panjang.
Ia cukup hadir beberapa detik, lalu menempel.

Inilah rahasia banyak konten viral: bukan kedalaman, melainkan kelengketan.
Dalam bahasa ilmiah, MBG memenuhi hukum sederhana budaya digital: pendek, repetitif, emosional, ambigu, dan mudah ditiru.

Pendek membuatnya cepat dikonsumsi.
Repetitif membuatnya mudah diingat.
Emosional membuatnya mengundang reaksi.

Ambigu membuatnya dapat dipakai banyak kubu. Mudah ditiru membuatnya menjadi milik bersama. Fenomena ini menjadi contoh bagaimana jingle yang awalnya bisa bermuatan ejekan terhadap figur politik justru berubah menjadi alat reproduksi popularitas. Semakin sering diputar, semakin kuat pula eksposur nama tokoh tersebut.

Rakyat Menyindir, Kekuasaan Mendapat Sorotan

Di sinilah paradoks MBG.
Rakyat mungkin merasa sedang bercanda. Sebagian mungkin merasa sedang menyindir. Sebagian lagi hanya ikut arus.
Tetapi hasil akhirnya sama: nama Bahlil semakin disebut, semakin dinyanyikan, semakin muncul, dan semakin masuk ke ruang anak muda yang sebelumnya mungkin tidak peduli pada rapat partai maupun kebijakan energi.

Satire yang gagal dijaga arah politiknya bisa berubah menjadi billboard gratis.
Ini bukan berarti rakyat salah tertawa.
Tidak.

Rakyat berhak tertawa. Rakyat berhak menggoda kekuasaan. Rakyat berhak menjadikan pejabat sebagai bahan meme.
Dalam demokrasi, pejabat publik bukan patung keramat. Mereka boleh dikritik, digugat, ditertawakan, bahkan dijadikan bahan lagu selama tidak mengarah pada fitnah dan kebencian yang merendahkan martabat manusia.

Tetapi rakyat juga perlu sadar.
Di zaman algoritma, tawa adalah data.
Data adalah trafik.
Trafik adalah uang.
Uang adalah pengaruh.
Pengaruh adalah politik.
Maka pertanyaan terdalam bukan lagi apakah lagu ini lucu.
Pertanyaan terdalam adalah: siapa yang akhirnya paling diuntungkan oleh kelucuan itu?

Politik Baru: Dari Ideologi ke Earworm

Dulu politik bekerja melalui ideologi.
Orang membaca buku, mengikuti pendidikan politik, masuk organisasi, mencetak selebaran, dan berdebat hingga larut malam.

Politik memiliki bau kertas, asap rokok, kopi pahit, dan risiko dipanggil aparat.
Kini politik juga bekerja melalui earworm: lagu yang menempel di kepala.
Satu jingle bisa lebih cepat menjangkau jutaan orang dibanding satu pidato kebijakan.

Satu potongan audio bisa lebih hidup daripada konferensi pers.
Satu meme bisa lebih kuat daripada baliho.
Sebab baliho menunggu dilihat.
Meme mengejar orang hingga ke tempat tidur.

Inilah republik baru: republik yang tidur dengan layar menyala.
Di sini, figur politik tidak hanya membutuhkan program.
Ia membutuhkan narasi.
Tidak hanya narasi.
Ia membutuhkan citra.
Tidak hanya citra.
Ia membutuhkan suara.
Tidak hanya suara.
Ia membutuhkan ruang emosional di kepala rakyat.

MBG adalah contoh kecil dari pergeseran besar itu. Politik tidak lagi hanya bertarung di TPS. Politik bertarung di memori pendek. Di ritme jempol. Di lagu 15 detik. Di komentar yang diubah menjadi chorus. Di lelucon yang tampak remeh, tetapi diam-diam membentuk keakraban.

Antara Genit dan Gawat

Ada sesuatu yang genit dalam MBG.
Genit bukan dalam arti murahan, melainkan bermain-main dengan batas.
Ia menggoda kekuasaan, tetapi tidak menyerangnya secara langsung.
Ia memuji, tetapi pujiannya terlalu berlebihan untuk sepenuhnya dipercaya.
Ia lucu, tetapi di balik kelucuannya ada bayangan politik.

Jenis humor yang disukai zaman digital: humor yang tidak perlu dijelaskan, tetapi bisa diperdebatkan setelah viral.
Rakyat menikmati bunyinya.
Media mengejar beritanya.
Elite membaca peluangnya.
Pengamat membedah maknanya.
Platform memanen trafiknya.
Semua mendapat bagian.
Kecuali mungkin satu hal: substansi.
Sebab di balik lagu yang ramai, ada pertanyaan yang tetap menunggu.
Bagaimana kebijakan energi?
Bagaimana tambang?
Bagaimana investasi?
Bagaimana nasib rakyat kecil?
Bagaimana partai politik membangun kaderisasi?
Bagaimana negara memastikan publik tidak hanya kenyang hiburan, tetapi juga kenyang keadilan?

Kalau politik hanya berubah menjadi lagu lucu, republik bisa tertawa sambil lupa menagih janji. Dan bangsa yang terlalu lama tertawa tanpa menagih janji, suatu hari bisa bangun dalam keadaan lapar, lelah, dan merasa telah ditipu oleh backsound.

Lagu Kecil, Cermin Besar

MBG adalah lagu kecil dengan cermin besar. Ia memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia memiliki bakat luar biasa mengolah kekuasaan menjadi bahan tertawaan. Ia juga menunjukkan bahwa algoritma dapat mengubah apa saja menjadi komoditas: cinta, marah, kritik, doa, bahkan satire.

Lagu MBG mengajarkan satu hal penting di zaman digital: popularitas tidak selalu lahir dari kekaguman.

Ia bisa lahir dari keisengan.
Dari ejekan.
Dari rasa geli.
Dari komentar yang dirangkai.
Dari akronim yang dibelokkan.
Dari suara digital yang bernyanyi seperti anak kecil menemukan mainan baru di halaman republik.

Tetapi kekuasaan selalu pandai belajar.
Ia bisa mengambil ejekan, mengelapnya, memberi pita, lalu menjadikannya hadiah citra. Maka rakyat perlu tertawa, tetapi jangan kehilangan daya baca. Tertawalah, sebab tawa adalah hak rakyat.

Bernyanyilah, sebab lagu adalah jalan pendek menuju ingatan. Tetapi setelah lagu selesai, setelah FYP berganti, setelah komentar tenggelam, jangan lupa bertanya:
Siapa yang bekerja untuk rakyat?
Siapa yang hanya menikmati sorotan?
Siapa yang mengubah satire menjadi panggung?
Dan siapa yang diam-diam memanen keuntungan dari tawa kita?
Karena di republik ini, bahkan lagu paling receh pun bisa menjadi kitab kecil tentang kekuasaan.

Dan MBG, dengan segala genit dan ganjilnya, telah membuktikan satu hal:
Politik hari ini tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling benar, tetapi juga oleh siapa yang paling mudah dinyanyikan.
Saya merapikan alur, ejaan, dan ritme kalimat tanpa mengubah substansi utama. Yang saya pangkas hanya selingan tokoh-tokoh yang tidak memperkuat argumen sehingga esai terasa lebih fokus, lebih enak dibaca, dan lebih kuat sebagai tulisan opini. Judulnya masih bisa dipertahankan, tetapi saya pribadi melihat bagian penutup justru mengarah kuat pada judul alternatif: “Politik Hari Ini Ditentukan oleh Siapa yang Paling Mudah Dinyanyikan.”(*)

Berita Terkait

Arogansi Pejabat dan Pertaruhan Hukum Kebebasan Pers di Lampung
Berpraktek Hilirisasi di Lampung Menuju Industri Manufaktur
Menuju Kodifikasi UU Pemilu: Mengakhiri Dominasi, Memulihkan Res Publica
Ketika Kampus Menguji Mental, Bukan Intelektual
Arsip Gelap Republik: Dari Enny Arrow ke Algoritma
Negara Restui Petani Way Kanan Jadi Tumbal
Tradisi Lebaran Empat Kampung Di Ranau Masih Terawat
Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:20 WIB

MBG: Ketika Politik Menjadi Lagu, dan Lagu Menjadi Cermin Zaman

Minggu, 17 Mei 2026 - 23:30 WIB

Arogansi Pejabat dan Pertaruhan Hukum Kebebasan Pers di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:57 WIB

Berpraktek Hilirisasi di Lampung Menuju Industri Manufaktur

Minggu, 3 Mei 2026 - 20:18 WIB

Menuju Kodifikasi UU Pemilu: Mengakhiri Dominasi, Memulihkan Res Publica

Sabtu, 25 April 2026 - 00:59 WIB

Ketika Kampus Menguji Mental, Bukan Intelektual

Berita Terbaru

Lampung

PWNU Lampung Salurkan 1.328 Paket Daging Kurban

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:31 WIB

Pesawaran

Bidik Ketua KNPI Pesawaran, Ini yang Dibawa A Zahriansyah

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:15 WIB

Foto: ist

Bandarlampung

Dugaan Korupsi Proyek PU Balam Dilaporkan ke Kejagung

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:47 WIB