Ditulis Oleh: Alumni Jurusan PMI FDIK UIN Raden Intan Lampung, Rahmat Basuki
Pramoedya.id: Ada sebuah adagium usang yang masih bernafas lega di lorong-lorong kampus kita: “Masuk mudah, keluar sangat susah.” Kalimat ini sering kali dianggap sebagai lelucon di kantin, namun bagi mahasiswa tingkat akhir, kalimat ini adalah horor nyata yang menghancurkan masa depan secara perlahan.
Kita harus jujur pada diri sendiri. Fenomena dosen pembimbing yang “menghilang bak ditelan bumi” dan birokrasi jurusan yang sengaja memasang kawat berduri bukan lagi sekadar masalah teknis. Ini adalah krisis moral. Ini adalah praktik perbudakan mental yang dibungkus dengan rapi dalam jubah akademik.
Kekuasaan di Balik Pintu Tertutup
Sangat menyedihkan melihat bagaimana nasib masa depan seseorang hanya ditentukan oleh satu tanda tangan yang tertunda berbulan-bulan tanpa alasan logis. Mahasiswa dipaksa menjadi pengemis waktu, menunggu di depan pintu ruang dosen yang terkunci, atau mengirim pesan penuh kerendahan hati yang hanya dibalas dengan kebisuan.
Apakah gelar akademik yang tinggi memberikan hak bagi seseorang untuk mengabaikan hak asasi mahasiswanya? Menunda bimbingan tanpa kejelasan bukan sedang melatih mental, melainkan sedang menunjukkan arogansi kekuasaan. Ingatlah, di balik draf skripsi yang berdebu di meja kerja Anda, ada keringat orang tua yang bekerja keras membayar UKT, ada harapan keluarga yang digantungkan, dan ada kesehatan mental yang perlahan runtuh.
Penyakit Sistemik, Bukan Sekadar Sekat Fakultas
Masalah ini bukan hanya milik satu fakultas. Ini adalah epidemi yang menyerang seluruh sendi universitas. Tidak ada bedanya antara mahasiswa Psikologi, Syariah, Tarbiyah, atau Ushuluddin, semua adalah manusia yang berhak mendapatkan layanan pendidikan yang adil.
Jangan ada lagi anggapan bahwa fakultas tertentu “lebih wajar” jika sulit lulus. Ketidakadilan di satu tempat adalah ancaman bagi keadilan di seluruh kampus. Ketika satu jurusan membiarkan oknum mempersulit mahasiswa, maka institusi tersebut sedang melegalkan praktik “penjegalan” masa depan.
Birokrasi atau Labirin Tak Berujung?
Jurusan seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun, sering kali mahasiswa justru merasa jurusan adalah kurator hambatan. Syarat-syarat administratif yang berubah-ubah di tengah jalan dan validasi data yang lambat seolah memberikan pesan implisit: “Kami tidak peduli Anda lulus kapan, yang penting administrasi kami aman.”
Pesan untuk Para “Oknum” dan Mahasiswa
Untuk para oknum yang merasa bangga ketika mahasiswanya bersusah payah demi sebuah tanda tangan: Jabatan dan gelar Anda adalah amanah, bukan alat intimidasi. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, bukan ajang unjuk kekuatan untuk mematahkan semangat anak muda.
Dan untuk kalian, kawan-kawan mahasiswa yang sedang berjuang: Jangan diam. Kebisuan kita adalah bahan bakar bagi mereka untuk terus bertindak semena-mena. Kita membayar hak kita, kita memenuhi kewajiban kita, maka kita berhak menuntut profesionalisme yang setimpal.
Kampus ini bukan milik birokrat atau dosen semata. Kampus ini adalah rumah bagi ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah tumbuh subur di atas tanah yang dipenuhi ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. LULUS TEPAT WAKTU ADALAH HAK, BUKAN HADIAH. (*)







