Halalbihalal PMII Disertai Isyarat Reposisi PBNU

- Editor

Senin, 20 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pramoedya.id: Di sebuah malam yang mestinya penuh maaf dan silaturahmi, panggung justru berubah menjadi arena “perhitungan dosa”. Nusron Wahid membuka acara bukan dengan basa-basi, melainkan pengakuan yang terasa seperti sindiran terbuka.

“ada yang keliru, dan itu tak bisa lagi ditutup-tutupi,” buka Nusron Wahid di hadapan ribuan kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Aula Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam, Sabtu (19//4/2026).

Suasana yang semula cair dalam balutan halal bihalal mendadak berubah tegang. Bukan karena amarah yang meledak, melainkan karena satu persoalan lama yang akhirnya dibuka terang-terangan bahwa relasi yang merenggang antara kader PMII dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pengakuan Nusron bukan sekadar retorika. Ia menyebut ada “dosa lima tahunan” yang harus dituntaskan, sebuah metafora yang dengan cepat dipahami sebagai kritik terhadap arah organisasi dan relasi kekuasaan di tubuh NU hari ini.

“Ada lima kesalahan, mulai dari hitungan jam hingga kesalahan lima tahunan yang harus saya tebus lunas,” kata Nusron.

Pernyataan itu disambut tawa, namun bukan tawa ringan. Lebih tepat disebut sebagai tawa getir, reaksi dari kegelisahan yang selama ini tersimpan di ruang-ruang diskusi kader.

Bagi banyak kader PMII yang hadir, malam itu terasa seperti titik balik. Halal bihalal dan perayaan Harlah ke-66 PMII menjelma menjadi panggung konsolidasi. Isu “pulang ke rumah sendiri” menggema, merujuk pada posisi kader PMII yang dianggap kian terpinggirkan dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

“Masa puasa sudah berlalu, saatnya Idulfitri. Mari kita sambut kemenangan bersama agar PBNU kembali menjadi rumah bagi kader PMII,” tambah Nusron.

Nada serupa, namun lebih frontal, datang dari Muhaimin Iskandar. Ketua Umum PKB yang akrab disapa Cak Imin itu menilai ada yang tidak beres dalam pengelolaan organisasi NU saat ini. Ia menyebut PBNU sebagai raksasa besar yang belum dikelola dengan manajemen yang tepat.

“PBNU sebagai organisasi besar butuh pengelolaan yang benar. Potensi terbesar untuk masa depan NU ada di tangan IKA PMII,” kata Muhaimin menegaskan.

Pertemuan di Kemayoran bukan hanya soal temu kangen tahunan. Ia menjelma menjadi deklarasi halus bahwa kader PMII, melalui jejaring alumninya, mulai menyusun langkah untuk kembali mengambil peran strategis di tubuh NU. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa mereka tak lagi sekadar menjadi tamu di rumah yang dulu mereka anggap milik sendiri.

Cak Imin bahkan menarik garis lebih jauh. Masa depan Indonesia, dalam pandangannya, tak bisa dilepaskan dari bagaimana NU dikelola.

“Memikirkan NU berarti memikirkan Indonesia, dan memikirkan Indonesia adalah memikirkan dunia,” ujarnya, disambut tepuk tangan panjang.

Sementara itu, Nasaruddin Umar memilih pendekatan yang lebih reflektif. Ia tidak secara langsung menyerang, tetapi melukiskan kondisi NU dengan metafora yang tak kalah tajam. Raksasa yang kelelahan.

“Kita harus paham geopolitik NU. Saat ini, NU telah menjelma menjadi influencer berbasis agama dalam percaturan geopolitik dunia sekaligus menjadi kekuatan diplomatik non-negara,” kata Nasaruddin.

Namun, ia mengingatkan bahwa reputasi global itu tidak boleh membuat organisasi terlena.

“Kita harus mampu membuka tabir baru dan memberikan pencerahan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia internasional,” lanjutnya.

Di penghujung acara, Ketua Umum PB IKA PMII Fathan Subhi menutup dengan nada yang lebih merangkul. Ia mengapresiasi soliditas alumni dan kader yang hadir dari berbagai daerah, menyebutnya sebagai bukti bahwa energi pergerakan masih terjaga.

“Terima kasih kepada seluruh alumni dan kader yang tetap solid hadir menjaga marwah organisasi,” ujarnya.

Namun, pesan yang tertinggal dari malam itu bukan sekadar silaturahmi. Ada semacam kesepakatan tak tertulis yang menguat di antara peserta bahwa momentum ini adalah awal dari konsolidasi yang lebih besar. (Sah)

 

 

 

Berita Terkait

Diduga Gelapkan Uang Investasi Rp4,6 Miliar, Anggota DPR Komisi III Fraksi PKB dilaporkan ke MKD
Diverifikasi KPK, Dugaan KKN Program Umrah Pemkot Bandar Lampung Kian Disorot
Formmasi Bawa Dugaan Korupsi Dinas PU dan Kesra ke Kejagung, Aksi 15 September
Mustafida Mundur, Dugaan “Pabrik Skripsi” An-Nur Masuki Babak Baru
Skandal Tambang Emas Way Kanan Diseret ke Kejagung: Formmasi Bongkar Kejanggalan ‘Penguapan’ Barbuk hingga Penadah Besar
Formmasi Laporkan Trotoar Ambruk Ke Kejagung, Tantang Eva Copot Kadis PU
FORMMASI Resmi Laporkan Dugaan KKN Program Umrah Pemkot Bandar Lampung
Audiensi Formmasi, Kemenag Janji Usut Ulang Dugaan “Pabrik Skripsi” An-Nur

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 17:40 WIB

Diduga Gelapkan Uang Investasi Rp4,6 Miliar, Anggota DPR Komisi III Fraksi PKB dilaporkan ke MKD

Sabtu, 12 September 2026 - 12:10 WIB

Diverifikasi KPK, Dugaan KKN Program Umrah Pemkot Bandar Lampung Kian Disorot

Rabu, 9 September 2026 - 19:18 WIB

Formmasi Bawa Dugaan Korupsi Dinas PU dan Kesra ke Kejagung, Aksi 15 September

Minggu, 6 September 2026 - 14:17 WIB

Mustafida Mundur, Dugaan “Pabrik Skripsi” An-Nur Masuki Babak Baru

Jumat, 4 September 2026 - 19:51 WIB

Skandal Tambang Emas Way Kanan Diseret ke Kejagung: Formmasi Bongkar Kejanggalan ‘Penguapan’ Barbuk hingga Penadah Besar

Berita Terbaru

Bandarlampung

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:33 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:26 WIB

Foto: Ist

Bandarlampung

Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi

Kamis, 17 Sep 2026 - 18:03 WIB