Pramoedya.id: Euforia Piala Dunia selalu berhasil menyatukan jutaan orang. Warung kopi penuh perdebatan soal taktik, media sosial dipenuhi prediksi skor, sementara anak-anak kembali berlari mengejar bola dengan mimpi suatu hari bisa berdiri di panggung yang sama.
Namun di balik gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: apa yang bisa dipelajari Lampung dari Piala Dunia?
Pertanyaan inilah yang mendorong DPW PKB Lampung menggelar diskusi publik bertajuk “Demam Piala Dunia dan Mimpi Masa Depan Sepak Bola Lampung” yang akan dihelat besok Jumat (17/7/2026).
Forum ini sengaja dirancang bukan sekadar untuk mengekor tren, melainkan mengubah euforia sesaat menjadi gagasan konkret bagi kemajuan lapangan hijau di Bumi Ruwa Jurai.
Bagi Ketua DPW PKB Lampung, Chusnunia Chalim, sepak bola memiliki kekuatan besar yang melampaui urusan mencetak gol.
Olahraga ini adalah instrumen ampuh untuk membangun karakter sekaligus ruang pemersatu masyarakat yang paling cair.
“Olahraga, khususnya sepak bola, memiliki kekuatan besar untuk membangun karakter generasi muda sekaligus menjadi ruang pemersatu masyarakat. Karena itu, momentum Piala Dunia dinilai tepat untuk mengajak publik berdiskusi tentang masa depan sepak bola Lampung,” Kata Nunik, sapaan akrab Chusnunia Chalim, Kamis (16/7/2026).
Guna membedah sengkarut dan potensi lokal tersebut, diskusi ini menghadirkan barisan pemateri lintas sektoral. Mulai dari praktisi, pengamat, hingga legislator yang peduli pada pembinaan olahraga di daerah.
Di barisan pembicara, hadir anggota DPRD Provinsi Lampung, Sasa Chalim, yang akan mengupas kolaborasi kebijakan daerah. Selain itu, ada Iman Hidayat yang mewakili PSSI Provinsi Lampung untuk menyoroti regulasi, Juwendra Asdiansyah sebagai pengamat yang jeli membaca peta sepak bola nasional, serta Bung Dolop, pegiat sepak bola akar rumput yang selama ini vokal menyuarakan nasib lapangan hijau di daerah.
“Dari silang pemikiran mereka, forum ini membidik cetak biru pembinaan usia dini yang selama ini kerap terputus, penguatan kompetisi lokal yang mandek, hingga peningkatan kualitas wasit dan pelatih di Lampung,” lanjut Nunik menerangkan.
Sebab, urainya, bagi PKB Lampung sepak bola bukan sekadar urusan peluit babak pertama hingga pertandingan berakhir selama 90 menit.
Di dalam lapangan, ada taruhan harapan, disiplin, kerja sama, dan mimpi besar yang perlu terus dipupuk dengan sistem yang sehat.
Melalui diskusi pemantik ini, PKB Lampung berharap keriuhan Piala Dunia di layar kaca tidak berhenti sebagai tontonan belaka.
Lebih dari itu, ia harus menjelma menjadi komitmen bersama untuk membangun sepak bola Lampung yang lebih kompetitif, berprestasi, dan mampu melahirkan talenta-talenta yang kelak membawa nama daerah di panggung nasional maupun internasional.
“Karena pada akhirnya, setiap mimpi besar sepak bola selalu dimulai dari keberanian untuk membicarakan masa depannya,” tutup Nunik. (*)







