Mengurai Kata Prabowo soal “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”

- Editor

Selasa, 19 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iustrasi

Iustrasi

Pramoedya.id: Setiap dolar naik, suasana Indonesia hampir selalu berubah tegang. Timeline media sosial mendadak muram. Judul-judul media dipenuhi kata “ancaman”, “tekanan”, sampai “krisis”. Orang-orang yang sehari sebelumnya tidak pernah bicara ekonomi global, tiba-tiba berubah seperti analis pasar. Bahkan sebelum dampaknya benar-benar terasa, rasa panik sudah lebih dulu menyebar ke mana-mana.

Karena itu ketika Prabowo Subianto berkata, “orang desa nggak pakai dolar,” publik langsung bereaksi keras. Potongan videonya beredar di mana-mana. Ada yang menertawakan, ada yang marah, ada yang menganggap ucapan itu sebagai bukti pemerintah tidak memahami ekonomi.

Padahal kalau didengar utuh, Prabowo sebenarnya tidak sedang menjelaskan teori moneter. Ia sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang jauh lebih sederhana: Indonesia jangan terlalu gampang merasa kiamat hanya karena kurs dolar naik.

Sebab sering kali masalah terbesar kita bukan cuma kondisi ekonomi itu sendiri, tetapi suasana psikologis yang terlalu mudah panik.

Tentu saja dolar yang naik punya dampak nyata. Tidak ada yang menyangkal itu. Industri penerbangan misalnya, langsung merasakan tekanan karena banyak kebutuhan mereka dibayar menggunakan dolar. Sewa pesawat, perawatan mesin, sampai suku cadang masih bergantung pada luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya operasional ikut membengkak. Ujungnya harga tiket naik dan masyarakat yang menanggung akibatnya.

Industri elektronik juga terkena imbas. Banyak komponen ponsel, laptop, bahkan mesin pabrik masih impor. Ketika dolar naik, biaya produksi ikut terdorong. Harga barang pun perlahan menyesuaikan.

Sektor otomotif mengalami hal serupa. Mobil memang dirakit di Indonesia, tetapi tidak semua komponennya diproduksi di dalam negeri. Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut meningkat. Industri makanan pun tidak sepenuhnya aman. Gandum untuk mie instan masih banyak diimpor. Kedelai untuk tahu dan tempe juga berasal dari luar negeri. Jadi memang benar, kenaikan dolar pada akhirnya bisa sampai ke meja makan rakyat.

Karena itu kritik terhadap ucapan Prabowo sebenarnya wajar. Desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung, tetapi dampak dolar tetap masuk melalui harga barang yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.

Namun persoalannya menjadi berbeda ketika setiap kenaikan dolar langsung diperlakukan seperti tanda akhir zaman. Padahal kalau dipelajari lebih utuh, ekonomi dunia tidak pernah sesederhana itu.

Turki pernah mengalami pelemahan mata uang yang jauh lebih berat dibanding Indonesia. Nilai lira jatuh berkali-kali, inflasi melonjak, harga barang naik tajam. Tetapi negara itu tidak otomatis berhenti hidup. Restoran tetap buka, industri tetap berjalan, sektor pariwisata tetap ramai, dan masyarakat tetap bekerja seperti biasa.

Jepang juga pernah mempertahankan yen yang lemah dalam waktu lama karena kondisi itu justru membantu ekspor mereka. Ketika mata uang melemah, produk buatan dalam negeri menjadi lebih murah di pasar internasional. Akibatnya barang-barang Jepang menjadi lebih kompetitif dibanding negara lain.

China bahkan sejak lama dikenal menjaga mata uangnya agar tidak terlalu kuat. Tujuannya sederhana: supaya produk mereka tetap murah dan menarik bagi pasar global. Ketika harga barang lebih murah, ekspor lebih mudah masuk ke banyak negara. Hal seperti itu juga berlaku di Indonesia.

Ketika rupiah melemah, memang ada sektor yang terpukul. Tetapi ada pula sektor yang justru mendapat keuntungan. Ekspor sawit misalnya. Karena transaksi internasional menggunakan dolar, eksportir bisa memperoleh nilai lebih besar ketika hasil penjualannya dikonversi ke rupiah.

Hal yang sama terjadi pada kopi, karet, batu bara, hasil laut, hingga tekstil. Produk Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri sehingga lebih menarik di pasar internasional. Pariwisata juga ikut terbantu karena Indonesia terasa lebih murah bagi wisatawan asing. Hotel, makanan, transportasi, hingga destinasi wisata menjadi lebih terjangkau bagi turis luar negeri.

Karena penulis tinggal di Lampung, fenomena itu terasa cukup menarik untuk dibayangkan. Jika fasilitas dan promosi pariwisata terus dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin pelemahan rupiah justru membuat destinasi wisata di Lampung lebih ramai dikunjungi wisatawan asing. Pantai, pulau, dan kekayaan alam yang selama ini kurang mendapat perhatian bisa menjadi lebih kompetitif dibanding destinasi luar negeri lain yang lebih mahal.

Dari situ terlihat bahwa pelemahan rupiah sebenarnya seperti pisau bermata dua. Ada sektor yang berdarah, tetapi ada juga sektor yang justru tumbuh lebih kuat. Bahkan dalam banyak kondisi, ekonomi Indonesia yang masih ditopang sektor riil justru memiliki ruang keuntungan ketika dolar naik. Karena itu ucapan Prabowo soal desa sebenarnya punya makna yang lebih dalam daripada sekadar disebut Presiden tak paham ekonomi.

Ia seperti sedang mengingatkan bahwa fondasi Indonesia bukan hanya pasar uang atau grafik perdagangan saham. Indonesia masih ditopang oleh sawah, nelayan, UMKM, pasar tradisional, logistik, dan konsumsi domestik yang besar. Itulah sebabnya gagasan swasembada pangan menjadi penting untuk dibicarakan.

Swasembada pangan berarti negara mampu memenuhi kebutuhan makan rakyatnya sendiri tanpa terlalu bergantung pada impor. Jika beras, jagung, dan kebutuhan pokok tersedia dari produksi dalam negeri, tekanan global akan lebih mudah dikendalikan. Negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri biasanya jauh lebih tahan menghadapi guncangan ekonomi dunia.

Namun tetap dengan catatan: swasembada pangan juga tidak boleh dijalankan sembarangan. Semua kebijakan harus memiliki master plan yang jelas dan berpihak pada rakyat. Jangan sampai semangat swasembada justru melahirkan kebijakan yang membebani petani atau merugikan masyarakat kecil.

Data Badan Pusat Statistik April 2026 menunjukkan Nilai Tukar Petani nasional masih berada di angka 125,24. Dalam ukuran ekonomi pertanian, angka di atas 100 menunjukkan pendapatan petani relatif masih lebih baik dibanding pengeluaran mereka. Itu berarti sektor pertanian Indonesia belum menunjukkan gambaran kehancuran seperti yang sering dibangun di media sosial.

Tentu Indonesia tetap memiliki pekerjaan rumah besar. Ketergantungan impor bahan baku masih tinggi. Energi masih sensitif terhadap dolar. Pemerintah tetap harus berhati-hati menjaga stabilitas ekonomi nasional. Tetapi ada perbedaan besar antara waspada dan panik.

Dan mungkin di situlah inti narasi yang sedang dibangun Prabowo. Ia tidak sedang mengatakan dolar tidak penting. Ia sedang mencoba membangun kepercayaan publik terhadap ekonomi Indonesia. Sebab dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah hal yang sangat menentukan roda perekonomian. (*)

Berita Terkait

Tanda Lampung All-In Pariwisata
Cara Orang Minum Kopi, Cara Mereka Hidup
Hal Kecil yang Menyelamatkan Kita
Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia
Saat Orang Miskin Dipaksa Kaya dan Si Kaya Dipelihara Miskin Demi Suara
Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi
Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai
Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:50 WIB

Mengurai Kata Prabowo soal “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”

Minggu, 19 April 2026 - 06:03 WIB

Tanda Lampung All-In Pariwisata

Rabu, 15 April 2026 - 18:58 WIB

Cara Orang Minum Kopi, Cara Mereka Hidup

Kamis, 2 April 2026 - 08:57 WIB

Hal Kecil yang Menyelamatkan Kita

Selasa, 10 Maret 2026 - 12:03 WIB

Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia

Berita Terbaru

Bandarlampung

Warga Rajabasa Tanam Pohon di Tengah Ruas Jalan

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:44 WIB

AJI Bandar Lampung ketika melakukan aksi

Lampung

AJI Bandar Lampung Kecam Pembungkaman Pers di Misi Gaza

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:40 WIB

Iustrasi

Perspektif

Mengurai Kata Prabowo soal “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:50 WIB