Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi

- Editor

Rabu, 11 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

Penetapan bakal calon rektor UIN Lampung diumumkan pada 31 Oktober 2025. Sepuluh nama dinyatakan lolos sebagai bakal calon. Secara normatif, tahap berikutnya mestinya bergerak cepat: klarifikasi, pematangan penilaian, lalu penetapan.

Pramoedya.id: Namun kalender tidak berjalan sebagaimana mestinya. November 2025 berlalu tanpa keputusan. Penetapan disebut-sebut diundur ke Januari 2026, namun hingga Februari proses tetap menggantung. Narasi resmi minim, tanggal presisi tak pernah diumumkan. Yang tersisa hanya frasa birokratis: sebentar lagi.

Di ruang sunyi itulah kompetisi menyempit dengan sendirinya. Dari sepuluh nama, pembicaraan internal dan jejaring luar kampus mengerucut pada lima kandidat yang dianggap memiliki daya dorong nyata. Penyempitan ini tidak diumumkan, tidak diperdebatkan secara terbuka, dan tidak diuji di forum akademik. Semua terjadi secara informal—dan justru karena itu terasa politis.

Ketika kampus memilih diam, alumninya memilih bergerak. Pada Kamis, 12 Februari, Serikat Alumni Raden Intan Lampung (Siaril)—yang beranggotakan alumni UIN Lampung yang sedang menempuh pendidikan di Jabodetabek—menyatakan akan menggelar aksi di Kementerian Agama.

Tuntutan mereka kepada Menteri Agama penulis rasa cukup realistis: penetapan rektor yang berintegritas, tidak dekat dengan pengusaha, politisi, atau kepentingan lain di luar mandat akademik. Mereka juga menolak calon rektor titipan.

Penulis menganggap aksi ini bukan cuma protes jalanan, ada sebuah krisis kepercayaan yang terlihat cukup nampak. Ketika proses akademik tak mampu menjelaskan dirinya sendiri, tekanan moral tentu akan datang dari luar.

Pemilihan rektor, pada titik ini, tak lagi semata soal visi dan gagasan. Lima kandidat berikut kerap disebut sebagai poros utama, masing-masing dengan jalur dan catatan kegelisahan yang menempel.
Catatan penting: uraian berikut disajikan sebagai dugaan dan persepsi publik, bukan tuduhan personal penulis.

Wan Jamaluddin – Petahana dan Status Quo

Sebagai petahana, Wan Jamaluddin membawa rekam jejak paling mudah dievaluasi. Ia bukan hanya calon, melainkan representasi arah kampus selama periode berjalan. Kedekatannya dengan Menteri Agama, disebut membawa namanya menjadi calon kuat dalam pilrek ini.

Namun, banyak pihak mulai dari sivitas akademika UIN Lampung, mahasiswa, dan alumni kerap mengkritik dan menyoal orientasi pengelolaan kampus yang dinilai menyerupai logika bisnis. Agenda seremonial dianggap menonjol, sementara kenaikan UKT disebut berlangsung tanpa sensitivitas sosial yang memadai. Belum lagi maraknya pungli di UIN Lampung dalam urusan kemahasiswaan, bukan lagi jadi berita dan kabar mengherankan. Beban moral petahana sederhana: apakah kampus dikelola sebagai ruang akademik, atau sebagai institusi pengelola acara dan angka?

Alamsyah – Wakil Rektor I

Sebagai Wakil Rektor I, Alamsyah berada di jantung kebijakan mutu lulusan. Posisi ini memberi kewenangan besar atas arah kurikulum, standar akademik, dan relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Ada kabar, relasinya cukup kuat dengan birokrasi keagamaan daerah, khususnya Kantor Wilayah Kemenag Lampung, sehingga namanya dianggap layak dan bikin petahana hati-hati.

Namun, di berbagai momentum, alumni UIN Lampung kerap memprotes sulitnya lulusan terserap di dunia kerja. Padahal, butuh kocek agak dalam untuk lulus dari UIN Lampung. Tentu kritik tersebut mengarah pada wilayah kebijakan kurikulum, yang secara struktural berada di bawah tanggung jawab Wakil Rektor I. Pertanyaannya sederhana: jika kurikulum adalah kompas, mengapa banyak lulusan tersesat di pasar kerja?

Sudarman – Tokoh Agama di Lampung

Sudarman dikenal sebagai guru besar dengan basis organisasi keagamaan yang kuat. Legitimasi akademik bertemu dengan jejaring sosial-keagamaan berskala besar. Berdasarkan keterangan seseorang, iya merupakan tokoh penting Muhammadiyah serta dekat dengan elite Kementerian Agama, termasuk relasi dengan salah seorang wakil menteri.

Kekuatan jaringan ormas tentu adalah modal sosial. Namun hal ini juga memunculkan tanya etik: sejauh mana kampus bisa dikelola otonom ketika jejaring eksternal begitu dominan?

Ruslan Abdul Ghofur – Akademisi Pascasarjana

Ruslan Abdul Ghofur dikenal sebagai Direktur Pascasarjana dengan pengalaman kepemimpinan akademik. Namanya kerap dikaitkan dengan Rektor IAIN Metro yang punya pengalaman politik dalam permainan perebutan takhta.

Fitri Yanti – Aktivis Islam

Fitri Yanti dikenal sebagai Ketua Jurusan S2 PMI, dengan latar akademik dan pengalaman organisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Jaringan HMI dikabarkan secara solid telah berhimpun dan melakukan langkah taktis serta politis untuk memenangkan perebutan jabatan tersebut. Tetapi pertanyaan publik mengarah pada visi dan kapasitas manajerial. Tantangannya bukan pada asal-usul organisasi, melainkan pada kemampuan melampaui loyalitas jaringan menuju tata kelola inklusif.

Epilog

Kisah pemilihan rektor UIN Lampung hari ini adalah kisah penundaan yang tak dijelaskan, kompetisi yang menyempit tanpa forum, dan politik jalur yang tak pernah diakui. Aksi alumni di Kementerian Agama menjadi penanda bahwa proses ini telah keluar dari ruang akademik dan memasuki wilayah krisis kepercayaan.

Kampus Islam semestinya berdiri di atas integritas, keterbukaan, dan menyampingkan kepentingan. Almanak ini tidak menutup perkara. Ia justru membuka tuntutan paling mendasar dari sebuah kampus: proses yang jujur, penilaian yang terbuka, dan kepemimpinan yang diuji di hadapan publik akademik.(*)

Berita Terkait

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan
Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur
Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:17 WIB

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Rabu, 1 Juli 2026 - 02:58 WIB

UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam

Berita Terbaru

Bandarlampung

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:33 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:26 WIB

Foto: Ist

Bandarlampung

Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi

Kamis, 17 Sep 2026 - 18:03 WIB