Cara Orang Minum Kopi, Cara Mereka Hidup

- Editor

Rabu, 15 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

Pramoedya.id: Caffè sospeso dari Naples, Italia sering disebut sebagai tradisi yang romantis: seseorang membayar dua kopi, meminum satu, dan meninggalkan satu untuk orang lain yang tidak dikenal.

Yang jarang dibicarakan, kebiasaan ini hanya bisa hidup di tempat yang masih percaya pada orang asing.

Kurang lebih polanya sederhana. Satu kopi diminum, satu lagi “dititipkan”—dibayar di muka, lalu dibiarkan menggantung sampai ada orang lain yang datang dan menanyakannya. Kalau masih ada, ia bisa meminumnya tanpa perlu membayar.

Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak awal abad ke-20, di tengah kondisi sosial-ekonomi Napoli yang waktu itu tidak selalu stabil. Di masa ketika kopi adalah kemewahan kecil, kebiasaan ini muncul sebagai bentuk solidaritas: yang sedang punya, meninggalkan sesuatu untuk yang mungkin sedang tidak punya.

Yang mahal dari kebiasaan ini ialah rasa percaya. Percaya bahwa akan ada orang yang membutuhkan. Percaya bahwa yang mengambil tidak sekadar memanfaatkan. Dan percaya bahwa kebaikan tidak harus kembali ke tangan yang sama.

Di situ letak romantisnya. Bukan pada kopinya, tapi pada hubungan sosial yang dibiarkan sedikit longgar agar ada ruang bagi kepercayaan.

Di tempat lain, kopi punya cara hidup yang berbeda.

Di Paris, kebiasaan minum kopi sudah ada sejak abad ke-17, ketika kafe-kafe pertama menjadi ruang berkumpul para penulis, filsuf, dan seniman. Dari sana, kafe berkembang sebagai ruang berpikir.
Seiring waktu, kebiasaan itu bergeser. Bukan lagi selalu tentang diskusi besar, tapi tentang sesuatu yang lebih sunyi: duduk sendiri.

Orang datang ke kafe, memesan kopi, lalu tinggal cukup lama. Tidak selalu sibuk ataupun produktif. Kadang hanya membaca, menulis, atau sekadar diam. Dan itu tidak dianggap aneh.

Di sana, sendiri bukan kegagalan sosial. Tapi pilihan.

Berbeda lagi di Turki. Tradisi kopi di sana sudah berakar sejak masa Kekaisaran Ottoman, dan bahkan diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Kopi tidak diminum tergesa-gesa.
Diseduh dengan cezve, disajikan tanpa disaring, dan diminum perlahan. Percakapan berjalan, waktu dilonggarkan, dan suasana tidak diburu-buru. Bahkan setelah habis, cangkirnya sering dibalik, dan ampasnya dijadikan bahan ramalan. Boleh percaya, boleh tidak.

Yang jelas, kopi di sana bukan sekadar minuman. Ia bagian dari cara orang memberi makna pada waktu.

Kalau ditarik ke Ethiopia, ceritanya bahkan lebih panjang. Sebagai salah satu tempat asal kopi, ada yang disebut coffee ceremony, sebuah proses yang tidak bisa dipercepat.

Biji kopi disangrai di depan tamu, digiling, lalu diseduh dan disajikan dalam beberapa putaran. Orang tidak datang hanya untuk minum, tapi untuk hadir. Duduk bersama, berbincang, menunggu.

Kopi, dalam konteks ini, bukan soal rasa atau kafein. Tapi soal waktu yang dibagi.
Di titik ini, kopi mulai terlihat seperti bahasa.
Dan setiap tempat punya cara mengucapkannya.

Lalu kita?

Di sini, ngopi juga bukan sekadar minum kopi. Tapi cara orang bertemu, membuka obrolan, atau sekadar mengisi waktu yang kosong. Ajakan “ngopi dulu” bisa berarti banyak hal—dari yang serius sampai yang benar-benar tanpa tujuan.

Tapi ada satu bagian kecil yang hampir selalu muncul, dan entah kenapa terasa akrab: urusan siapa yang membayar.
Tidak pernah benar-benar dibicarakan di awal.Tapi hampir selalu hadir di akhir.

Ada yang mengajak dengan santai. Obrolan mengalir, kopi habis, suasana cair. Lalu kasir datang, dan tiba-tiba ada jeda kecil yang aneh. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat orang mulai membaca situasi.

Siapa yang bergerak duluan.
Siapa yang pura-pura tidak sadar.
Siapa yang sudah siap dari awal.

Di beberapa tempat, kopi menjadi simbol kepercayaan, seperti di Naples.
Di tempat lain, kopi memberi ruang untuk sendiri, seperti di Paris.
Atau menjadi bagian dari ritme hidup yang pelan dan penuh makna, seperti di Turki dan Ethiopia.

Di sini, kopi sering menjadi ruang sosial yang lebih cair—dan kadang sedikit ambigu.
Bukan berarti lebih buruk. Hanya bekerja dengan cara yang berbeda.

Mungkin kita tidak mengukur hidup dengan sendok kopi seperti yang ditulis T.S. Eliot.
Di sini, kita kadang mengukurnya dari momen yang lebih sederhana bahkan mungkin lebih jujur.

Ketika percakapan selesai,
ketika cangkir sudah kosong,
dan ketika tagihan akhirnya diletakkan di meja.(*)

Berita Terkait

Hal Kecil yang Menyelamatkan Kita
Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia
Saat Orang Miskin Dipaksa Kaya dan Si Kaya Dipelihara Miskin Demi Suara
Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi
Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai
Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan
SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan
Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 18:58 WIB

Cara Orang Minum Kopi, Cara Mereka Hidup

Kamis, 2 April 2026 - 08:57 WIB

Hal Kecil yang Menyelamatkan Kita

Selasa, 10 Maret 2026 - 12:03 WIB

Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 - 04:40 WIB

Saat Orang Miskin Dipaksa Kaya dan Si Kaya Dipelihara Miskin Demi Suara

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:25 WIB

Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi

Perspektif

Cara Orang Minum Kopi, Cara Mereka Hidup

Rabu, 15 Apr 2026 - 18:58 WIB

Lampung

Wamenkes dan Wamendagri Dorong Percepatan Eliminasi TBC

Selasa, 14 Apr 2026 - 15:19 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Rotasi 51 Kepala SMA dan SMK Negeri

Selasa, 14 Apr 2026 - 15:14 WIB