“Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, Ungkapan Jawa yang Sangat tak Jawa

- Editor

Sabtu, 15 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi (Ist)

Foto: ilustrasi (Ist)

“Witing tresno jalaran soko kulino.” Penulis tidak yakin apakah penulisannya benar. Maklum, kalimat di atas bukan bagian dari bahasa keseharian penulis. Meskipun penulis seorang Jawa, penulis lebih dekat dengan dialek ngapak yang kental dengan qalqalah saat berbicara.

Selain itu, penulis lahir dan besar di Lampung, sebuah wilayah di ujung Sumatera yang menjadi daerah transmigrasi sejak masa kolonial. Dengan keberagaman suku di sana, bahasa yang paling sering digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Indonesia. Akibatnya, penulis tidak fasih berbahasa Jawa maupun bahasa Lampung.

Kembali pada ungkapan awal tulisan ini. “Witing tresno jalaran soko kulino” adalah pepatah dalam bahasa Jawa yang berarti “cinta tumbuh karena terbiasa.” Jika ditelaah, maknanya cukup jelas: cinta bisa muncul karena kebiasaan—terbiasa bertemu, terbiasa bersama, dan terbiasa berbagi momen, baik yang serius maupun penuh canda.

Pada awalnya, mungkin rasa itu belum ada. Namun, seiring waktu, karena sering berbagi cerita, ghibah bareng, atau sekadar menertawakan hal-hal kecil dalam hidup, benih-benih perasaan itu bisa saja tumbuh. Bahkan, terkadang di luar dugaan, kita bisa mencintai seseorang yang sama sekali tidak sesuai dengan kriteria awal kita.

Meski berasal dari bahasa Jawa, ungkapan ini bersifat universal. Cinta tidak mengenal batas ras, suku, agama, atau status sosial. Pertemuan yang disengaja atau tidak, tetap bisa memantik rasa suka. Hal itu sangat mungkin terjadi.

Bagi pembaca yang masih sendiri, mungkin bisa mencoba sering bertemu dengan seseorang yang kalian sukai. Siapa tahu, perasaan itu akhirnya tumbuh. Meski begitu, penulis tidak berani menjamin.

Sebaliknya, bagi yang memiliki kriteria ketat dalam memilih pasangan, berhati-hatilah. Jangan terlalu sering bertemu dengan orang di luar kriteria Anda—bisa jadi perasaan Anda berubah tanpa disadari.

Penulis tegaskan, tulisan ini tidak mewakili siapa pun atau ditujukan kepada orang tertentu. Ini hanyalah refleksi dari kisah dan pengalaman manusia yang penulis kenal. Jika ada kesamaan dengan realitas yang Anda alami, anggap saja ini sebagai bahan perenungan.

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” — Sujiwo Tejo.

Beruntunglah mereka yang mencintai seseorang, dan orang itu pula yang menjadi pendamping hidupnya.(*)

 

Berita Terkait

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi
Prabowo Memfitnah Ratusan Juta Rakyat Indonesia
Belum Lama ‘Tantrum’, Dinas PU Seret Nama Eva Dwiana ke Kejagung

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Senin, 8 Juni 2026 - 13:32 WIB

Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:35 WIB

Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG

Berita Terbaru

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Pringsewu, Rusdianto, ketika diwawancarai.

Pringsewu

Jokowi ke Pringsewu, PSI Sebut Dongkrak Elektabilitas Partai

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:17 WIB

Lampung

Kemenag Bandar Lampung Santuni Ratusan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:07 WIB

Lampung

PCNU dan Pemuda Katolik Sepakat Lawan Kekerasan Seksual

Rabu, 24 Jun 2026 - 19:57 WIB