Lampung Lumbung Singkong, Petani Puasa Sampai Lebaran Hong

- Editor

Minggu, 9 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Pramoedya.id: Pernah dengar pepatah “hidup segan, mati tak mau”? Nah, itu kira-kira kondisi petani singkong di Lampung sekarang. Harga anjlok, pabrik tutup, dan mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama nggak enak: jual hasil panen dengan harga miris atau biarkan membusuk begitu saja.  

Masalah ini mencuat sejak pemerintah pusat menetapkan harga dasar Rp1.350 per kilogram. Alih-alih bikin petani lega, kebijakan ini malah bikin beberapa pabrik gulung tikar. Logika pabrik, harga segitu bikin tekor.

Dampaknya langsung terasa. Di Lampung Utara, misalnya, beberapa pabrik yang biasanya nyerap singkong petani buka-tutup. Petani yang selama ini bergantung ke pabrik-pabrik itu pun kelimpungan. Mau jual ke mana? Siapa yang mau nampung? Sementara itu, ongkos produksi jalan terus, utang pupuk tetap harus dibayar.

Padahal, kalau lihat angka, Lampung ini juara nasional dalam produksi singkong. Tahun 2020, hasil panennya 5,8 juta ton. Tahun 2021 naik sedikit jadi 5,9 juta ton, lalu meningkat lagi jadi 6,7 juta ton pada 2022. Tahun 2023 naik jadi 7,1 juta ton, dan kalau tren ini berlanjut, 2024 bisa tembus 7,5 juta ton. Mestinya ini kabar baik. Tapi apa gunanya produksi melimpah kalau distribusinya berantakan dan petani cuma bergantung pada pabrik?

Sekarang saatnya gubernur dan wakilnya yang masih anget dilantik, Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela, turun tangan. Kalau pabrik besar merasa keberatan dengan harga yang ditetapkan, harus ada solusi alternatif. Masa iya Lampung yang sebesar ini nggak bisa mikir jalan keluar?

Salah satu opsi yang bisa dicoba: libatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi. Itu sih saran gwaa.

Jadi, kedua instrumen tersebut bisa didorong menjadi bagian dari rantai distribusi. BUMDes bisa jadi pengepul di tingkat desa. Dengan begitu, petani nggak harus berhadapan langsung dengan tengkulak yang suka kasih harga seenaknya. Bahkan, kalau serius, BUMDes juga bisa mulai bikin industri kecil seperti tepung mocaf, chips singkong, beras analog, atau pakan ternak, biar nilai jualnya naik, nggak cuma mentok jadi bahan baku murah.

Koperasi juga bisa ikut main. Selama ini, petani terlalu bergantung pada pabrik tapioka besar. Padahal, di luar sana banyak industri lain yang butuh singkong, dari usaha kecil sampai pasar ekspor. Kalau koperasi bisa jadi jembatan, petani nggak harus terus-terusan pasrah sama kebijakan pabrik. Ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto soal swasembada pangan. Kalau pengolahan singkong bisa jalan dari desa, impor produk berbasis singkong bisa ditekan. Dan Lampung, sebagai produsien terbesar, harusnya bisa jadi role model daerah swasembada pangan.

Itu sih cuma saran gwaa. Tapi tenang, pasti ada yang lebih tahu solusinya. Lagian, nggak mungkin kan petani disuruh puasa lebih lama sampai Lebaran berikutnya? (*)

Berita Terkait

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi
Prabowo Memfitnah Ratusan Juta Rakyat Indonesia
Belum Lama ‘Tantrum’, Dinas PU Seret Nama Eva Dwiana ke Kejagung

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Senin, 8 Juni 2026 - 13:32 WIB

Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:35 WIB

Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG

Berita Terbaru

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Pringsewu, Rusdianto, ketika diwawancarai.

Pringsewu

Jokowi ke Pringsewu, PSI Sebut Dongkrak Elektabilitas Partai

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:17 WIB

Lampung

Kemenag Bandar Lampung Santuni Ratusan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:07 WIB

Lampung

PCNU dan Pemuda Katolik Sepakat Lawan Kekerasan Seksual

Rabu, 24 Jun 2026 - 19:57 WIB