Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah

- Editor

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pramoedya.id: Bank Lampung sudah berdiri sejak 1966. Jika ia adalah seorang manusia, usianya sudah hampir 60 tahun, usia yang seharusnya sudah matang, bijaksana, dan punya aset di mana-mana. Namun sayangnya, selama puluhan tahun berdiri, bank kebanggaan masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai ini terasa hanya jalan di tempat.

Sementara bank daerah lain sudah berlari kencang membangun ekosistem digital, Bank Lampung masih asyik dengan pola lama: jadi “kasir raksasa” untuk gaji ASN.

Bagi ribuan ASN di Lampung, tanggal satu bukan sekadar hari gajian. Itu adalah hari “balapan”. Begitu notifikasi angka masuk ke rekening, jempol mereka segera bergerak lincah memindahkan saldo ke bank besar di Jakarta atau bank digital yang aplikasinya jauh lebih “waras”. Bank Lampung akhirnya tak lebih dari sekadar halte bus yang kumuh: tempat singgah yang terpaksa dikunjungi karena sistem, tapi tak ada yang mau menetap lama di sana.

Hampir Turun Kasta

Kondisi ini mencapai titik nadirnya ketika Bank Lampung hampir saja “turun kasta”. Dalam aturan perbankan, ada standar modal inti yang harus dipenuhi agar sebuah bank tetap bisa disebut bank umum yang gagah. Sialnya, Bank Lampung megap-megap memenuhi itu secara mandiri.

Langkah “numpang hidup” melalui skema Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Jatim di awal 2026 ini sebenarnya adalah pengakuan dosa yang nyata. Ini adalah bukti sahih bahwa setelah puluhan tahun berdiri, bank ini gagal mandiri.

Ia terpaksa “berlindung” di bawah ketiak bank daerah lain agar tidak turun kelas menjadi BPR. Ini bukan cuma soal angka di laporan keuangan, tapi soal harga diri sebuah provinsi yang katanya punya visi besar.

Monopoli yang Mematikan Naluri

Secara logika bisnis, Bank Lampung sebenarnya memegang “kartu mati” yang bikin bank swasta mana pun iri. Triliunan rupiah dana APBD wajib parkir di brankasnya, dan puluhan ribu nasabah “tawanan” (ASN) dipaksa menggantungkan hidup di sana.

Namun, hak istimewa ini justru jadi racun. Karena merasa nasabah tidak bisa lari, bank ini kehilangan naluri kompetisi. Bisnisnya jadi malas. Mereka hanya mengandalkan bunga kredit konsumtif dari skema potong gaji.

Bahasa gampangnya begini: bisnis bank itu ibarat kita dititipkan barang (uang), lalu barang itu kita sewakan ke orang lain supaya dapat untung. Nah, kalau uang ASN cuma “numpang lewat” lima menit lalu dikuras habis, Bank Lampung mau menyewakan apa? Akibatnya, mereka kering likuiditas untuk mendanai sektor produktif seperti pabrik atau perkebunan. Mereka akhirnya hanya jadi “kasir transit” yang kehilangan tenaga untuk memutar ekonomi daerah.

Isu Internal dan Krisis Kepercayaan

Keengganan masyarakat untuk setia bukan tanpa alasan. Coba ketik di mesin pencari Google: “Uang hilang di Bank Lampung”. Hasilnya adalah daftar panjang kasus dari tahun ke tahun, bahkan hingga kasus di 2025. Skandal skimming yang berulang menjadi noda yang sulit dihapus.

Foto: Tangkapan layar ketika mencari di Google

Masalah ini berakar pada internal yang sering kali terasa “gosong”. Sudah jadi rahasia umum bahwa posisi direksi dan komisaris sering kali diisi bukan oleh bankir yang lapar inovasi, melainkan oleh figur-figur yang aromanya lebih dekat ke kepentingan politik. Ketika direktur dipilih karena kedekatan, fokusnya bukan lagi membangun benteng siber yang antipembobolan, melainkan menjaga dividen tetap deras demi memoles citra pemegang saham. Investasi teknologi dikorbankan, sistem keamanan dibiarkan keropos, dan nasabah yang menanggung risikonya.

Angka di Atas Kertas yang “Barang Kecil”

Penulis sebenarnya cukup terhibur saat melihat catatan pembukuan Bank Lampung di tahun 2025. Di sana terpampang angka laba bersih yang mencapai miliaran rupiah, misalnya pada semester pertama yang menunjukkan pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya. Manajemen mungkin menganggap ini adalah prestasi gemilang yang patut dirayakan dengan spanduk di mana-mana.

Namun, mari kita jujur: bagi bank sekelas BPD yang menguasai dana monopoli se-provinsi, angka-angka itu hanyalah “barang kecil”. Itu bukan prestasi hasil inovasi atau ekspansi pasar yang berdarah-darah, melainkan hasil “setoran otomatis” dari bunga pinjaman ASN yang memang tidak punya pilihan lain.

Sangat menggelikan jika pencapaian yang bersifat administratif itu dianggap sebagai kesuksesan besar, sementara di saat yang sama mereka harus menyerahkan kedaulatannya ke Bank Jatim melalui skema KUB hanya demi bertahan hidup.

Bank Lampung Mestinya Jadi Motor Swasembada Perekonomian

Saat ini, Provinsi Lampung sedang gagah-gagahnya menuju swasembada pangan. Sektor pertanian kita kuat, lumbung pangan kita terisi. Namun, swasembada pangan akan terasa hambar tanpa swasembada perekonomian.

Kita semua ingin Bank Lampung maju. Kita ingin bank ini menjadi motor utama yang mendanai petani, peternak, dan pengusaha lokal di pelosok Lampung. Kita ingin Bank Lampung berkembang pesat sehingga pembangunan lebih merata, tanpa kita perlu lagi jauh-jauh pinjam uang ke Bank BJB atau pihak luar. Visi “Lampung Maju” seharusnya berada tepat di depan mata jika bank daerahnya sehat.

Kita merindukan Bank Lampung yang bukan lagi tempat “numpang lewat”, tapi tempat rakyat Lampung menaruh masa depan dengan rasa aman.

Tanpa reformasi total yang membuang jauh-jauh campur tangan politik, Bank Lampung akan tetap menjadi raksasa yang lumpuh alias besar karena dipaksa sistem, tapi kerdil di mata rakyatnya sendiri. (*)

Berita Terkait

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi
Prabowo Memfitnah Ratusan Juta Rakyat Indonesia
Belum Lama ‘Tantrum’, Dinas PU Seret Nama Eva Dwiana ke Kejagung

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Senin, 8 Juni 2026 - 13:32 WIB

Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:35 WIB

Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG

Berita Terbaru

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Pringsewu, Rusdianto, ketika diwawancarai.

Pringsewu

Jokowi ke Pringsewu, PSI Sebut Dongkrak Elektabilitas Partai

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:17 WIB

Lampung

Kemenag Bandar Lampung Santuni Ratusan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:07 WIB

Lampung

PCNU dan Pemuda Katolik Sepakat Lawan Kekerasan Seksual

Rabu, 24 Jun 2026 - 19:57 WIB