Pramoedya.id: Gua belakangan ini jadi sering naik gunung. Kurang lebih sudah dua bulan terakhir, dan frekuensinya perlahan jadi agak tidak masuk akal kalau dibandingkan dengan kebiasaan beberapa tahun belakangan. Awalnya dua minggu sekali, kemudian seminggu sekali, beberapa kali malah bisa dua kali dalam seminggu. Kalau kaki sedang malas diajak kompromi, air terjun jadi alternatif. Pokoknya ada saja alasan untuk pergi.
Padahal, gua bukan orang yang baru mengenal gunung. Gua sudah naik gunung sejak SMA, sekitar 2012, bahkan kalau tidak salah sebelum film 5 Cm rilis dan ramai dibicarakan. Waktu itu naik gunung punya cerita yang berbeda. Ada carrier, teman-teman, perjalanan panjang, tidur di tenda, lalu bangun dengan badan yang rasanya tidak karuan. Beberapa gunung di Lampung sudah pernah gua datangi dan juga pernah mencoba Merbabu di Jawa Tengah. Setelah itu hidup berjalan dengan segala macam urusannya, sampai akhirnya pendakian terakhir terjadi pada Desember 2020.
Setelah itu berhenti.
Bukan karena ada keputusan besar untuk berhenti mendaki atau karena pernah bersumpah tidak akan naik gunung lagi. Ya berhenti saja. Ada banyak hal lain yang dikerjakan, banyak kesibukan, dan mungkin gunung memang tidak selalu menjadi sesuatu yang kita ingat ketika hidup sedang sibuk-sibuknya. Sampai beberapa waktu lalu, seorang kawan sesama jurnalis ngomongin pola hidup sehat hingga kebiasaan jogging.
Dia memang sudah lebih dulu hobi lari dan belakangan merambah ke trail run, setelah sebelumnya lebih banyak berkutat dengan marathon. Singkatnya, gua mulai jogging, lalu seperti biasa, internet bekerja dengan caranya sendiri. Konten-konten lari mulai bermunculan di beranda medsos. Ada orang lari di jalan, ada yang lari di jalur tanah, ada yang naik turun bukit, ada yang pergi ke gunung dengan sepatu trail dan segala perlengkapannya. Algoritma mungkin mengira gua sedang mencari identitas baru.
Dari situ, si kawan ini mengajak tektok untuk pertama kalinya. Buat yang belum pernah mencoba, tektok itu bukan sekadar naik gunung tanpa membawa tenda. Ada waktu yang dikejar. Naik harus cepat, turun juga harus cepat. Tidak seperti ngecamp yang punya ruang lebih panjang untuk berhenti, makan, duduk, ngobrol, atau sekadar mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan.
Pendakian tektok pertama membuat gua kapok.
Serius. Gua merasa fisik tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Naik saja sudah menguras tenaga, belum lagi mikirin perjalanan turun yang mulai terasa di dengkul dan tetap harus ditempuh dalam waktu relatif singkat. Ada perasaan seperti, “Ngapain juga gua melakukan ini?” Dan setelah sampai rumah, gua pikir mungkin cukup sekali saja.
Ternyata tidak.
Beberapa hari kemudian, keinginan untuk pergi lagi muncul. Lalu pergi lagi. Sampai sekarang malah menjadi kebiasaan baru yang sebenarnya tidak terlalu baru. Karena kalau dipikir-pikir, gua memang sudah menyukai gunung sejak lama. Mungkin yang hilang selama beberapa tahun bukan hobinya, cuma kesempatan untuk kembali melakukannya.
Ada sesuatu yang agak lucu dari hobi mendaki ketika dilakukan setelah dewasa. Dulu waktu masih SMA, badan rasanya punya cadangan tenaga yang tidak ada habisnya. Sekarang baru beberapa perjalanan, kaki sudah mulai mengajukan keberatan. Besoknya badan terasa mengingatkan bahwa umur tidak bisa diajak berdebat. Tapi anehnya, rasa capek itu tidak selalu membuat kapok. Kadang justru beberapa hari setelah kaki kembali enak, muncul lagi keinginan untuk mencari tempat lain.
Gua juga tidak sedang mengejar daftar puncak yang harus ditaklukkan. Kalau kebetulan ada puncak yang belum pernah didatangi, tentu menyenangkan kalau suatu hari bisa sampai ke sana. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Bahkan ketika mendaki bersama orang yang belum pernah naik gunung, gua selalu bilang hal yang sama: kalau tidak kuat, kita turun saja. Tidak usah dipaksa.
Mungkin karena gua mulai melihat gunung dengan cara yang sedikit berbeda.
Ada masa ketika mendaki terasa seperti urusan sampai di puncak. Seolah-olah perjalanan baru dianggap berhasil kalau ada titik tertinggi yang berhasil didatangi. Sekarang gua tidak terlalu memikirkan itu. Kalau sampai ya syukur. Kalau ternyata badan tidak memungkinkan, ya sudah. Kita bisa pulang. Tidak ada yang perlu dibuktikan kepada gunung, apalagi kepada orang lain.
Toh gunung tidak pernah meminta kita menaklukkannya.
Gunung hanya ada di sana, jauh sebelum kita datang dan kemungkinan besar tetap akan ada setelah kita pulang. Kita yang datang membawa segala macam target, ambisi, kamera, jam tangan pintar, aplikasi lari, dan entah apa lagi. Setelah sampai, gunung tetap saja menjadi gunung. Yang berubah mungkin cuma kepala kita setelah beberapa jam berada jauh dari jalan raya dan suara notifikasi.
Mungkin itu yang membuat gua sekarang senang pergi ke alam. Tidak selalu harus mendaki. Tidak selalu harus tektok. Tidak selalu harus camp. Kalau sedang tidak ingin memaksa kaki, air terjun juga cukup. Kalau tidak ingin berjalan terlalu jauh, duduk menikmati pemandangan juga tidak masalah.
Ada kenikmatan tertentu ketika melakukan sesuatu yang tidak harus menghasilkan apa-apa.
Barangkali hidup memang terlalu lama dijalani dengan kebiasaan menghitung hasil. Kerja dihitung dari gaji, tulisan dihitung dari pembaca, perjalanan dihitung dari tempat yang berhasil didatangi, olahraga dihitung dari jarak dan waktu. Bahkan mungkin istirahat pun sekarang sering terasa seperti sesuatu yang harus diposting agar benar-benar dianggap sebagai istirahat.
Padahal ada beberapa hal yang memang boleh dilakukan hanya karena kita menyukainya.
Gua tidak tahu apakah dua bulan lagi gua masih akan sesering ini naik gunung. Bisa jadi bosan, bisa jadi pekerjaan kembali terlalu sibuk, atau kaki akhirnya benar-benar meminta pensiun dini. Gua juga tidak tahu apakah kebiasaan ini akan bertahan sampai bertahun-tahun seperti ketika pertama kali mengenal gunung pada 2012.
Untuk sekarang, gua cuma menikmati perjalanan itu.
Kalau kuat, kita lanjut.
Kalau tidak kuat, kita turun saja.
Barangkali memang sesederhana itu. Tidak semua perjalanan harus dipaksakan sampai tujuan, dan tidak semua kepulangan berarti kegagalan. Kadang kita hanya perlu tahu kapan harus melanjutkan, kapan harus berhenti, lalu pulang. Tidak harus selalu sampai atas.(*)







