Pramoedya.id: Image kontes duta kampus yang kerap diidentikkan dengan sekadar penampilan fisik coba dipatahkan dalam Pemilihan Duta Raden Intan 2026. Ajang yang mencapai malam puncaknya pada Sabtu, 2 Mei 2026, di GSG KH Ahmad Hanafiah ini menekankan pengujian kapasitas intelektual dan ketahanan mental para pesertanya.
Untuk memastikan para duta mampu merepresentasikan motto kampus, yakni Ber-ISI (Intellectuality, Spirituality, Integrity), panitia menerapkan berlapis-lapis tahapan seleksi yang menguras kemampuan berpikir kritis.
Ketua Tim Humas dan Kerja Sama UIN Raden Intan Lampung, Novrizal Fahmi, mengungkapkan bahwa seleksi tertulis dan wawancara sengit sengaja melibatkan para psikolog dari dosen Fakultas Psikologi Islam. Tidak berhenti di sana, 50 peserta yang lolos fase awal harus berhadapan dengan babak Motion Challenge. Pada tahap ini, para calon duta diuji langsung mengenai kedalaman pengetahuan, kemampuan argumentasi, serta kecepatan merespons isu-isu kontemporer secara kritis.
Kapasitas tersebut diuji kembali di atas panggung grand final, khususnya saat dewan juri melemparkan pertanyaan strategis pada babak Top 5 dan Top 3.
Melalui penyaringan ketat tersebut, panitia juga memetakan peran spesifik para finalis ke dalam sejumlah kategori atribut khusus. Di antaranya adalah kategori Duta Lingkungan yang diraih Riski Dames Swara dan Amanda Fitri Yani, Duta Moderasi Beragama oleh M. Alam Faruq dan Rinda Aulia, serta Duta Keterbukaan Informasi yang dimenangkan Bilal Hasta Zaiha dan Challiesta Bunga Armeysha. Langkah ini diharapkan mampu mengarahkan para duta untuk berdampak nyata, bukan sekadar menjadi pemanis di podium formal kampus. (*)







