Pramoedya.id: Di tengah masifnya penetrasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang kini mampu menulis esai hingga mendiagnosis penyakit, dunia kerja menghadapi pergeseran nilai yang drastis. Fenomena ini disorot tajam dalam Wisuda Periode I Tahun 2026 UIN Raden Intan Lampung yang berlangsung di GSG KH Ahmad Hanafiah, Kamis, 30 April 2026.
Rektor UIN Raden Intan Lampung mengingatkan para lulusan bahwa kepintaran kognitif saja tidak lagi cukup untuk bersaing di era algoritma. Menghadapi disrupsi digital dan dinamika sosial saat ini, integritas dan etika menjadi benteng terakhir yang membedakan manusia dengan mesin.
“Dunia tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang jujur. Ilmu tanpa integritas dapat menjadi bencana,” tegas Rektor di hadapan ribuan wisudawan dari berbagai fakultas, termasuk 96 lulusan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi serta 430 lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Menurut Rektor, maraknya pemanfaatan AI mengharuskan institusi pendidikan membekali mahasiswa dengan konsep wahdatul ulum—kesatuan ilmu yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai spiritual dan ukhrawi. Lulusan perguruan tinggi Islam diharapkan tidak terjebak dalam pragmatisme industri, melainkan mampu menjadi penengah dan pembawa pesan moderasi di tengah masyarakat.
Kepada para alumni baru, pihak rektorat juga mengingatkan agar tidak cepat berpuas diri dengan gelar akademis yang diraih. Di era yang berubah cepat ini, gelar sarjana hingga doktor dipandang bukan sebagai akhir proses belajar, melainkan sekadar modal awal untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat di tengah publik. (*)







