Hal Kecil yang Menyelamatkan Kita

- Editor

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

Pramoedya.id: Kita hidup di zaman di mana kebahagiaan harus punya bukti. Kalau bisa difoto, kalau bisa diunggah, kalau bisa bikin orang lain bilang “wah”—itu baru dihitung. Di luar itu, ya cuma lewat, seperti tidak pernah terjadi.

Kopi harus estetik, liburan harus punya langit biru, bahkan rasa capek sekarang punya versinya sendiri yang bisa dipamerkan, lengkap dengan caption tentang “healing” dan “self reward”. Perlahan, tanpa banyak tanya, kita ikut percaya: bahagia itu harus kelihatan. Kalau tidak kelihatan, berarti belum cukup.

Padahal, hidup kita tidak selalu punya bahan untuk dipajang. Dan anehnya, yang sering bikin kita tetap waras justru bukan hal-hal yang layak dipajang itu.

Saya pernah duduk di warung kopi pinggir jalan, di hari yang rasanya berantakan dari pagi. Tempatnya biasa saja—meja plastik agak lengket, suara motor lewat tidak berhenti, dan kopi yang seingat saya hanya 5 ribuan.

Hari itu banyak yang tidak beres. Pekerjaan mandek, rencana berantakan, dan kepala penuh hal-hal yang tidak bisa dibereskan dalam sehari. Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk, minum pelan, melihat jalan, sesekali melamun tanpa arah.

Waktu yang saya biarkan berlalu perlahan, tidak memberi pencerahan. Tapi ada satu perasaan sederhana yang muncul pelan-pelan: hari ini ternyata masih bisa dilewati. Tidak lebih dari itu. Dan anehnya, itu cukup. Momen seperti itu tidak akan pernah masuk media sosial. Terlalu biasa dan nggak perlu repot pilih filter. Padahal justru di situ hidup sedang bekerja diam-diam, menahan kita supaya tidak jatuh lebih jauh.

Di waktu lain, saya pernah tertawa cukup lama hanya karena obrolan yang sebenarnya tidak penting. Tidak ada topik besar, tidak ada kesimpulan yang bisa dibawa pulang—cuma candaan receh yang mungkin besoknya sudah lupa. Tapi di tengah kepala yang biasanya ribut, tawa itu terasa seperti jeda kecil. Macam ada yang bilang, “sudah, santai dulu.” Dan lagi-lagi, itu cukup.

Kita jadi lebih sibuk mengejar momen besar yang bisa diceritakan, sampai lupa hidup itu sendiri jarang punya cerita. Kita minum kopi sambil melihat layar, mendengar orang bicara tapi pikiran ke mana-mana, duduk bersama tapi masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.

Seolah-olah hadir itu tidak pernah benar-benar jadi pilihan. Seolah-olah kalau kita berhenti sebentar, kita akan ketinggalan sesuatu, padahal yang kita kejar pun sering tidak jelas apa.

Kebanyakan kita terbawa arus: bekerja, lelah, mencari pelarian, lalu mengulang lagi. Di sela-sela itu, hidup sebenarnya menyelipkan hal-hal kecil yang cukup untuk membuat kita bertahan. Tapi karena terlalu sederhana, kita kerap melewatkannya begitu saja.

Padahal, kalau dipikir-pikir, hidup ini jarang sekali diselamatkan oleh hal-hal besar. Tidak setiap hari ada kabar baik, tidak setiap minggu ada pencapaian, dan sebagian besar waktu kita memang diisi oleh hal-hal yang biasa saja. Justru di situlah hidup berdiri—ditopang oleh yang biasa-biasa itu. Oleh kopi yang diminum tanpa alasan penting, oleh tawa yang tidak direncanakan, oleh momen diam yang tidak pernah diposting ke mana-mana. Hal-hal yang tidak bisa dipamerkan, tidak bisa dibandingkan, dan mungkin karena itu, jadi satu-satunya yang benar-benar jujur.

Karena mereka tidak butuh dilihat siapa-siapa. Cukup kita rasakan, sebentar saja, sebelum kita sibuk lagi menjadi orang lain di layar.(*)

Berita Terkait

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terbaru

Lampung

Harlah, PKB Lampung Tegaskan Komitmen Tebar Kebermanfaatan

Minggu, 9 Agu 2026 - 19:33 WIB

Lampung

Soal TBC, Pemprov Lampung Sentil Pemkab Tanggamus

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:27 WIB

Lampung

Sufhie Rahmadi Resmi Pimpin PMII Way Kanan

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:03 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Dugaan Intervensi dan ‘Jatah’ Warnai Program Umrah Pemkot

Kamis, 6 Agu 2026 - 13:53 WIB