SMK: Jalan Pintas ke Dunia Kerja atau Jalan Buntu?

- Editor

Rabu, 26 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kebingungan lulusan SMK.

Ilustrasi kebingungan lulusan SMK.

Pramoedya.id: Dulu, waktu pemerintah gencar mempromosikan “SMK Bisa!”, rasanya keren banget. Anak-anak yang masuk SMK digadang-gadang bakal lebih cepat dapat kerja, nggak perlu kuliah lama-lama, langsung terjun ke dunia industri.

Bahkan, saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai berlaku, SMK disebut-sebut sebagai garda terdepan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

Tapi sekarang, pertanyaannya: SMK bisa apa? Bisa kerja, bisa bersaing, atau malah bisanya hanya jadi penyumbang pengangguran terbesar?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia sebesar 4,82 persen, turun 0,63 persen poin dibanding Februari 2023. Namun, lulusan SMK masih menyumbang jumlah pengangguran tertinggi. Ironis bukan untuk pendidikan yang mestinya begitu lulus langsung kerja.

Apalagi kalau lihat jumlah sekolahnya. Saat ini ada 14.064 SMK di Indonesia (data BPS 2023/2024). Bayangkan, puluhan ribu sekolah kejuruan, tapi lulusannya malah susah cari kerja. Ibarat bikin pabrik tahu dalam jumlah besar, tapi pas dijual, pembelinya malah pilih tempe.

Sebagai lulusan SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), gwaa bisa bilang kalau ada beberapa alasan kenapa lulusan SMK masih kesulitan masuk ke dunia kerja.

Pertama, jurusan yang diajarkan sering kali nggak nyambung dengan kebutuhan industri. Masih banyak sekolah yang mengajarkan teknologi lama, padahal dunia industri sudah berubah jauh. Di jurusan gwaa dulu, misalnya, banyak materi tentang jaringan berbasis kabel, sementara tren sekarang sudah ke arah nirkabel dan cloud computing. Hasilnya? Begitu lulus, ilmu yang dipelajari udah ketinggalan zaman.

Masalah kedua ada di program magang. Harusnya ini jadi kesempatan buat belajar kerja di industri, tapi yang terjadi justru lebih banyak yang magangnya cuma jadi “asisten umum”. Banyak teman-teman yang cerita kalau magang mereka lebih sering diisi dengan bikin kopi, fotokopi, nyapu-nyapu, atau cuma disuruh lihat-lihat tanpa dikasih tugas berarti. Alih-alih jadi bekal buat kerja, magang malah terasa seperti formalitas belaka.

Lalu, ada juga masalah soft skills dan bahasa asing. Persaingan di dunia kerja sekarang bukan cuma soal bisa ngoding atau bikin desain grafis, tapi juga soal komunikasi dan adaptasi. Banyak lulusan SMK yang jago di keahlian teknis, tapi begitu masuk wawancara kerja, bingung harus ngomong apa.

Mau kerja di perusahaan multinasional, bahasa Inggris pas-pasan. Mau wirausaha, ngak ada pelatihan bisnis. Apalagi mau mimpi kerja diluar negeri dengan modal ijazah SMK, itu sudah seperti mimpi disiang bolong.

Pemerintah daerah dan pusat juga seharusnya ikut berperan dalam menyalurkan lulusan SMK ke dunia industri. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih membuka lebih banyak kesempatan kerja, banyak lulusan SMK malah didorong untuk kuliah.

Padahal, sejak awal, mereka sudah memilih jalur pendidikan yang dirancang untuk siap kerja, bukan untuk lanjut sekolah lagi.

SMK sebenarnya bisa tetap jadi solusi kalau ada perombakan besar-besaran. Kurikulum harus diperbarui secara berkala agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Program magang harus lebih dari sekadar formalitas, benar-benar menyiapkan siswa untuk dunia kerja yang sesungguhnya. Pendidikan di SMK juga harus lebih fleksibel, tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tapi juga membekali siswa dengan soft skills, bahasa asing, dan pemahaman bisnis.

Kalau nggak ada perubahan? Ya siap-siap aja, slogan “SMK Bisa!” bakal terus jadi bahan bercandaan. Karena sampai sekarang, pertanyaannya masih sama: bisa apa? (*)

Berita Terkait

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan
Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur
Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:17 WIB

Semangkuk Ketenangan untuk Jiwa Raga yang Kebingungan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Lampung Digerakkan dengan Logika Insinyur

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Rabu, 1 Juli 2026 - 02:58 WIB

UIN Raden Intan Lampung Resmi Buka Program Doktor Pendidikan Agama Islam

Berita Terbaru

Lampung

Wulan Mirza Dorong Kuliner Lampung Tembus Mancanegara

Jumat, 28 Agu 2026 - 18:56 WIB

Lampung

Mirza Apresiasi Kontingen Satlinmas Lampung  

Jumat, 28 Agu 2026 - 18:51 WIB

Bandarlampung

Pemkot Balam Maksimalkan Peran Satlinmas

Jumat, 28 Agu 2026 - 18:48 WIB

Pendidikan

Bacalon Rektor Unila Budiyono Janji Tak Sembrono Naikkan UKT

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:56 WIB

Lampung

Delegasi PWNU Lampung Berangkat ke Muktamar NU di Jombang

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:37 WIB