Pramoedya.id: Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah radikal untuk merubah struktur perekonomian agraris dengan menyetop penjualan komoditas pertanian dalam kondisi basah dan mentah. Guna mengeksekusi kebijakan tersebut, Pemprov mematok pengadaan mesin pengering (bed dryer) di 400 desa untuk memotong biaya logistik dan menaikkan daya tawar petani.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menilai kebiasaan menjual hasil panen dalam kondisi basah, seperti gabah, jagung, dan ubi kayu (singkong), selama ini menjadi akar masalah rendahnya tingkat pendapatan petani. Praktik tersebut membuat keunggulan produksi Lampung yang mencapai 3,2 juta ton padi dan 1,7 juta ton jagung justru lebih banyak menguntungkan mata rantai pedagang di luar daerah.
“Pangan di Provinsi Lampung ini selama ini belum bisa memakmurkan masyarakat. Petani kita selama ini menjual bahan mentah. Yang kedua, daya tawar petani ini lemah,” kata Mirzani dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama peserta Sespimti Polri Dikreg ke-36 di Ruang Rapat Utama Pemprov Lampung, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, selama puluhan tahun petani Lampung terjebak dalam skema penjualan instan akibat ketiadaan infrastruktur pengolahan pascapanen di tingkat tapak. Akibatnya, nilai penyusutan (shrinkage) dan harga jual yang merosot harus ditanggung oleh para produsen pangan di desa.
“Kita selalu menjual bahan mentahnya basah. Padi dijual basah, jagung dijual basah, singkong dijual basah. Maka kami buat program di setiap desa, di 400 desa mesin bed dryer. Keluar dari desa itu sudah kering, harganya naik, lebih efisien,” tambahnya.
Melalui payung program Desaku Maju, Pemprov Lampung memproyeksikan transformasi kawasan perdesaan dari sekadar basis bercocok tanam menjadi pusat pengolahan industri agraris berskala mikro dan menengah.
“Ketahanan pangan kita mulai dari desa, bukan dari nation saja. Intinya kami mempersiapkan desa kami bukan hanya memproduksi pangan, tapi juga memproduksi barang jadi,” tegas Mirzani.
Untuk diketahui, langkah ini juga diimbangi dengan pelatihan vokasi bagi pemuda desa serta penyediaan alat industri sederhana agar jagung dan beras dapat langsung diolah menjadi pakan ternak dan produk konsumsi siap edar. (*)







