Prabowo Representasi Orba dalam Kemasan Baru?

- Editor

Jumat, 21 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Pramoedya.id: Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa rezim otoriter tidak runtuh oleh manuver elite politik, tetapi oleh gerakan akar rumput yang lahir dari rakyat yang muak dengan penindasan. Mahasiswa, buruh, petani, dan berbagai elemen sipil telah menjadi ujung tombak dalam menumbangkan penguasa yang menindas.

Soeharto, misalnya, jatuh bukan karena rival politiknya, melainkan karena mahasiswa, petani, buruh, dan rakyat kecil yang sudah bosan dicekik sistem.

Kini, di era Prabowo Subianto, ada kekhawatiran bahwa pola lama Orde Baru (Orba) sedang dihidupkan kembali.

Jika Prabowo terus mengulang formula yang sama dari kooptasi politik dan represi terhadap suara kritis maka skeptisisme bahwa ia bisa menyelesaikan satu periode penuh menjadi wajar. Bisa jadi, nasibnya tak jauh beda dengan mantan mertuanya. Kirannya itu prolog yang penulis hidangkan.

Awal tahun 2025 menjadi saksi gelombang protes besar-besaran di berbagai kota di Indonesia. Gerakan “Indonesia Gelap” muncul bukan sekadar sebagai reaksi atas pemotongan anggaran pendidikan, tapi juga sebagai tanda bahwa rakyat mulai sadar bahwa pola Orba sedang bangkit kembali.

Hanya dalam 100 hari pertama pemerintahannya, Prabowo sudah menunjukkan warna asli kepemimpinannya yang mirip dengan Orba, meski dalam kemasan yang lebih modern.

Salah satu contoh nyata terjadi di Papua. Ribuan orang turun ke jalan menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan karena mereka menolak bantuan itu sendiri, tapi karena mereka muak diperlakukan seperti anak kecil yang hanya perlu disuapi.

Mereka butuh pendidikan berkualitas, akses ekonomi yang adil, bukan sekadar piring nasi sebagai alat populisme. Ini adalah pola lama yang pernah digunakan Soeharto, bantuan sosial sebagai alat kontrol, bukan solusi nyata.

Kini, Prabowo, mantan menantunya, tampaknya mengadopsi pendekatan serupa menyuapi rakyat dengan program populis sambil membatasi akses politik dan ekonomi mereka.

Di tingkat politik, Prabowo bergerak lebih cepat daripada Soeharto. Jika Soeharto butuh bertahun-tahun untuk mematikan oposisi, Prabowo hanya perlu 100 hari untuk memastikan semua elite politik ada di genggamannya. Wacana koalisi permanen yang ia usung bukan sekadar strategi politik, tapi upaya untuk memastikan oposisi tidak punya ruang untuk bernapas.

Seperti Orba dengan Golkarnya, Prabowo ingin partai-partai politik hanya jadi pajangan. Ada tapi tak berarti.

Belum genap setahun berkuasa pun, Partai Gerindra sudah mulai bicara tentang dua periode untuk Prabowo. Ambisi? Bisa jadi. Tapi ini juga cerminan pola pikir yang melihat demokrasi sebagai formalitas belaka.

Soeharto dulu menyusun peta politik agar pemilu jadi ritual tanpa kejutan. Prabowo? Dia sedang menulis skenario yang mirip, hanya dengan dialog yang lebih kekinian.

Namun yang perlu diketahui sejarah punya kebiasaan nakal. Mereka yang terlalu rakus pada kekuasaan seringkali jatuh oleh rakyat yang lelah ditindas.

Soeharto dulu mengira akan berkuasa selamanya, sampai mahasiswa dan rakyat yang ia abaikan menulis akhir ceritanya.

Jika Prabowo terus menapaki jalan yang sama, siapa tahu? Mungkin rakyat Indonesia akan kembali menulis bab baru dalam buku sejarah mereka. (*) 

 

Berita Terkait

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terbaru

Lampung

Harlah, PKB Lampung Tegaskan Komitmen Tebar Kebermanfaatan

Minggu, 9 Agu 2026 - 19:33 WIB

Lampung

Soal TBC, Pemprov Lampung Sentil Pemkab Tanggamus

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:27 WIB

Lampung

Sufhie Rahmadi Resmi Pimpin PMII Way Kanan

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:03 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Dugaan Intervensi dan ‘Jatah’ Warnai Program Umrah Pemkot

Kamis, 6 Agu 2026 - 13:53 WIB