Pramoedya.id: Di Lampung, kartu bansos bukan lagi instrumen jaring pelindung sosial, melainkan alat tukar politik yang kotor. Fakta dari juru kunci alias para pendamping mengungkap skenario gila. Ada target bulanan untuk mencoret warga miskin dari daftar bantuan, sementara pintu selebar-lebarnya dibuka bagi mereka yang punya pengaruh dan nilai suara.
Pemaksaan Status Kaya
Istilah kerennya adalah graduasi. Namun di lapangan, ini adalah eksekusi administratif yang brutal. Para pendamping PKH terjepit target. Jika tidak ada warga yang dicabut bantuannya, rapor kinerja mereka merah.
Hasilnya, warga miskin dipaksa kaya. Mereka yang rumahnya masih berdinding geribik dan makannya Senin-Kamis bisa tiba-tiba dicoret dari sistem dan dinyatakan mandiri hanya agar pendamping bisa menyetor angka ke koordinator. Di Lampung, angka kemiskinan turun bukan karena perut rakyat kenyang, tapi karena nama mereka dihapus paksa dari dokumen demi mempercantik statistik daerah di mata pusat.
Si Kaya Disulap Miskin dan Dipelihara
Di sisi lain, terjadi anomali yang menjengkelkan: si kaya dipaksa tetap miskin dalam data. Jangan kaget jika Anda menemukan rumah permanen berlantai keramik dengan kendaraan terparkir di teras, namun namanya abadi di daftar penerima bansos.
Mereka adalah kelompok miskin klaiman yang kebal coret. Mengapa? Karena mereka adalah basis massa sekaligus pion yang loyal atau punya kedekatan dengan elit lokal. Data BPS yang seringkali buta realita lapangan menjadi tameng sempurna. Sementara warga yang benar-benar butuh dibuang karena dianggap tidak dapat menjadi kaki tangan sang politisi kedepan, si kaya yang punya koneksi justru dipelihara sebagai tabungan suara untuk musim pemilihan.
Bansos sebagai Alat Sandera
Politisasi ini mencapai puncaknya saat musim kampanye. Bansos yang selama berbulan-bulan macet, mendadak hujan deras tepat saat wajah-wajah kandidat mulai terpampang di baliho. Bantuan yang dibayar pakai pajak rakyat ini disulap menjadi kemurahan hati personal.
Ini adalah strategi penyanderaan paling efektif, ancaman dicoret dari daftar menjadi hantu yang menakutkan bagi warga menjelang pencoblosan. Rakyat sengaja dijaga agar tetap bergantung pada sekarung beras, karena rakyat yang kenyang dan mandiri adalah ancaman bagi mereka yang ingin membeli suara dengan harga murah. Di Lampung, bansos bukan lagi soal keadilan, tapi soal bagaimana menjaga agar warga tetap miskin dan patuh di hadapan kekuasaan.
Komedi Statistik di Atas Penderitaan
Klaim penurunan angka kemiskinan di Lampung hanyalah sebuah komedi statistik. Negara tidak benar-benar peduli apakah rakyatnya sudah sejahtera. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana angka di layar komputer terlihat cantik, meskipun itu artinya harus membuang mereka yang paling lemah dan memelihara mereka yang paling menguntungkan secara politik. (*)







