Bahan Bakar Mafia: Uang Hilang di Kilang

- Editor

Rabu, 26 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

“Korupsi dan kekuasaan, ibarat dua sisi dari satu mata uang. korupsi selalu mengiringi perjalanan kekuasaan dan sebaliknya kekuasaan merupakan pintu masuk bagi tindak korupsi”.

Pramoedya.id: Kalimat Lord Acton (guru besar sejarah modern di Universitas Cambridge, Inggris, yang hidup di abad ke-19) ini seakan menemukan relevansinya dalam kisah panjang tata kelola energi di negeri ini—terutama ketika segelintir orang mempermainkan hajat hidup orang banyak demi keuntungan pribadi.

Kasus dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang yang kini menyeret sejumlah petinggi PT Pertamina Patra Niaga dan PT Kilang Pertamina Internasional hanyalah satu bab dalam buku tebal praktik curang yang telah berulang. Modusnya klasik: manipulasi harga, impor yang tidak perlu, dan permainan angka yang membuat negara kehilangan Rp193,7 triliun—angka yang, dalam perspektif sederhana, berarti subsidi yang lebih besar, harga BBM yang lebih murah, atau infrastruktur energi yang lebih baik bagi masyarakat.

Kejaksaan Agung mengungkap bagaimana minyak mentah dalam negeri yang seharusnya diserap justru ditolak dengan dalih spesifikasi tak sesuai dan nilai ekonomi yang dianggap rendah. Ini memicu reaksi berantai: bagian minyak dalam negeri diekspor, sementara kebutuhan domestik dipenuhi dengan impor melalui perantara yang telah “diatur” sejak awal. Harga pun melambung karena pembelian dilakukan dengan mekanisme spot yang tidak transparan.

Lebih dari sekadar permainan impor, ada pula praktik oplosan bahan bakar yang memperlihatkan betapa rakusnya mereka yang bermain dalam bisnis energi ini. BBM berjenis RON 90 (Pertalite) yang lebih murah diakui sebagai RON 92 (Pertamax) yang lebih mahal, lalu dioplos di depo penyimpanan. Jika ini bukan bentuk pengkhianatan terhadap publik, lalu apa?

Dampak dari skema ini begitu nyata. Harga dasar BBM yang menjadi patokan indeks pasar melonjak. Negara pun harus turun tangan dengan memberi subsidi dan kompensasi, pada akhirnya kejahatan ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Artinya, uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk kesehatan, pendidikan, dan pembangunan justru tersedot untuk menutupi kebocoran yang disengaja segelintir pihak.

Kisah ini bukan hanya tentang angka triliunan atau daftar panjang tersangka. Ini tentang bagaimana kebijakan yang seharusnya berpihak pada kepentingan nasional justru dimanipulasi demi keuntungan pribadi. Bagaimana kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi, yang seharusnya menjadi sektor strategis negara, terus digerus oleh kepentingan jangka pendek segelintir elite.

Dan yang lebih ironis, di tengah kerugian triliunan, masyarakat tetap harus antre di SPBU, mengeluhkan harga BBM yang kian mahal. Sementara itu, para pelaku menikmati hasil kejahatannya di balik layar, mungkin sembari menunggu celah baru untuk mengulangi permainan lama.

Terkadang masyarakat membeli Pertamax bukan karena kebanyakan uang, tetapi jalur Pertalite terlalu panjang. Dan banyak dari kita yang ternyata membeli BBM bersubsidi dengan harga non subsidi.(*)

Berita Terkait

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terbaru

Lampung

Harlah, PKB Lampung Tegaskan Komitmen Tebar Kebermanfaatan

Minggu, 9 Agu 2026 - 19:33 WIB

Lampung

Soal TBC, Pemprov Lampung Sentil Pemkab Tanggamus

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:27 WIB

Lampung

Sufhie Rahmadi Resmi Pimpin PMII Way Kanan

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:03 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Dugaan Intervensi dan ‘Jatah’ Warnai Program Umrah Pemkot

Kamis, 6 Agu 2026 - 13:53 WIB