Pramoedya.id: Perekonomian Provinsi Lampung mencatatkan kinerja positif dengan tumbuh 5,29 persen secara kumulatif hingga triwulan III 2026. Capaian ini menempatkan Lampung di posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera, mengekor Kepulauan Riau yang memimpin di angka 7,19 persen.
Tak hanya itu, Lampung juga menyumbang kontribusi 10,05 persen terhadap total perekonomian Sumatera. Porsi ini menjadi yang terbesar keempat di kawasan setelah Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, mengatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Lampung pada triwulan III 2026 menembus Rp150,55 triliun. Angka ini ditopang oleh geliat industri pengolahan, perdagangan, serta konsumsi rumah tangga yang masih solid.
Meski demikian, Riswan memberi catatan kritis terhadap sektor pertanian yang mulai tertekan ancaman iklim ekstrem. Fenomena El Nino yang cukup kuat diproyeksikan mulai menggerus produktivitas pangan daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Lampung masih ditopang sektor pertanian, meski beberapa lapangan usaha menghadapi tantangan cuaca,” ujar Riswan di Aula Radin Imba Kusuma, BPS Lampung, Kamis (5/11/2026).
Ancaman itu tecermin pada angka sementara Kerangka Sampel Area (KSA). Produksi padi Lampung pada 2026 diperkirakan turun 4,89 persen menjadi 3,09 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 1,78 juta ton beras. Produksi jagung pipilan kering pun menyusut tipis 0,39 persen menjadi 1,25 juta ton.
Di balik ancaman sektor pangan, geliat industri dan investasi justru membendung penurunan lebih dalam. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 59,23 persen tumbuh 4,87 persen, sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi melaju di angka 6,08 persen. Sektor pengadaan listrik dan gas bahkan melonjak 9,74 persen seiring meningkatnya aktivitas pabrik dan pengolahan.
Kondisi ekonomi makro ini juga diimbangi perbaikan kualitas hidup dan ketenagakerjaan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung 2026 merangkak ke angka 74,74, masuk kategori tinggi, disertai penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,01 persen.
Menanggapi rilis tersebut, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, menilai data strategis BPS menjadi cermin realistis bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan.
Menurut Ganjar, capaian pertumbuhan ekonomi ini harus direspons dengan kewaspadaan tinggi, terutama dalam merumuskan mitigasi krisis pangan akibat El Nino agar tidak memicu lonjakan inflasi daerah. (*)







