Ditulis Oleh: Sandika Wijaya, Asal Pagar Dewa Ranau
Pramoedya.id: Di tepian Danau Ranau yang terkenal akan keindahan alamnya, terdapat kisah Lebaran yang tak sekadar tentang hari raya.
Kawasan yang berada di wilayah Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Oku Selatan ini menyimpan tradisi unik yang terus hidup dan dijaga masyarakatnya dari generasi ke generasi.
Empat desa: Pagar Dewa, Tanjung Jati, Kota Batu, dan Sukajaya, yang berbatasan langsung dengan Lampung Barat memiliki cara tersendiri dalam merayakan Idul Fitri.
Di wilayah perbukitan yang berhawa sejuk dengan bentang alam yang masih asri ini, Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai momentum budaya yang mempererat persaudaraan.
Berbeda dengan kebiasaan di banyak daerah, masyarakat empat desa ini sepakat melaksanakan salat Idul Fitri secara bersama-sama di satu masjid. Lokasinya tidak tetap, melainkan bergiliran setiap tahun.
Tahun ini, giliran Pagar Dewa menjadi tuan rumah. Tahun berikutnya akan berpindah ke Tanjung Jati, lalu Kota Batu, kemudian Sukajaya, sebelum kembali lagi ke Pagar Dewa. Siklus ini terus berulang tanpa terputus.
Tradisi ini telah berlangsung sejak lama. Ia diwariskan oleh para leluhur sebagai cara menjaga persatuan di tengah perbedaan wilayah.
Dalam praktiknya, tradisi ini bukan sekadar kesepakatan, tetapi telah menjadi identitas bersama yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Semarak kebersamaan sudah terasa sejak malam takbiran. Dari desa tuan rumah, gema takbir mulai dikumandangkan, lalu menjalar ke kampung-kampung lainnya.
Warga dari empat desa berkumpul, membawa kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor untuk mengikuti takbiran keliling. Rute yang dilalui tidak hanya berputar di satu desa, tetapi menghubungkan keempat kampung tersebut.
Suara takbir bersahutan di sepanjang jalan. Lampu-lampu kendaraan berpendar di malam hari, berpadu dengan gemerlap kembang api yang menghiasi langit. Di sela-sela itu, suara knalpot “racing” yang sengaja disiapkan anak-anak muda menambah semarak suasana, menciptakan nuansa yang riuh namun penuh kegembiraan.
Takbiran keliling ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol kuat bahwa keempat desa tersebut adalah satu kesatuan. Tidak ada sekat sosial maupun geografis, semua melebur dalam satu irama kebersamaan.
Puncak tradisi terjadi pada pagi Hari Raya Idul Fitri. Sejak subuh, arus manusia mulai bergerak menuju masjid yang menjadi pusat pelaksanaan salat.
Tahun 2026 ini, Masjid Darussolihin, Pagar Dewa menjadi titik berkumpulnya ribuan jamaah. Warga dari Tanjung Jati, Kota Batu, dan Sukajaya datang berbondong-bondong, ada yang menggunakan kendaraan, ada pula yang berjalan kaki.
Jalanan desa yang biasanya lengang mendadak ramai. Semua menuju satu titik yang sama, membawa semangat kebersamaan yang begitu terasa.
Ketika salat Id dimulai, masjid tak lagi mampu menampung seluruh jamaah. Halaman, pelataran, bahkan hingga badan jalan dipenuhi saf-saf salat yang memanjang. Ribuan orang berdiri sejajar, bahu-membahu, tanpa perbedaan antara tuan rumah dan tamu.
Momen ini menjadi gambaran nyata persatuan bahwa di hadapan Tuhan, semua sama, dan kebersamaan menjadi kekuatan utama.
Bagi warga Pagar Dewa, menjadi tuan rumah adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Mereka menyebut momen ini sebagai “Lebaran besar”.
Persiapan dilakukan jauh hari sebelumnya. Rumah-rumah dibersihkan, kue-kue khas Lebaran dibuat dalam jumlah lebih banyak, dan berbagai hidangan disiapkan untuk menjamu tamu dari tiga desa lainnya.
Aroma masakan khas kampung tercium dari dapur-dapur warga—opor, gulai, rendang, hingga sup tersaji berlimpah. Aneka kue tradisional pun disuguhkan sebagai pelengkap kebahagiaan.
Setiap tamu yang datang disambut hangat. Tidak ada yang merasa asing, karena semua diperlakukan layaknya keluarga sendiri.
Tradisi ini juga menjadi momen yang sangat dinanti oleh para perantau. Mereka yang merantau ke berbagai kota besar di Indonesia rela menempuh perjalanan jauh demi bisa pulang kampung.
Bagi mereka, Lebaran di Ranau bukan sekadar berkumpul dengan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi besar yang sarat makna.
“Lebaran terasa berbeda kalau tidak pulang,” menjadi ungkapan yang kerap terdengar. Tradisi ini telah menjadi pengikat emosional yang kuat, menghubungkan mereka dengan kampung halaman.
Usai salat Id, kebersamaan tidak berhenti. Justru, momen inilah yang menjadi inti dari tradisi tersebut.
Warga dari tiga desa lainnya berkunjung ke rumah-rumah di desa tuan rumah.
Silaturahmi lintas desa ini memperkuat hubungan kekeluargaan. Tidak jarang, hubungan antarwarga sudah seperti saudara sendiri, meski berasal dari kampung yang berbeda.
Tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan sehari-hari.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga ekonomi. Karena salat Id dilakukan secara terpusat, jumlah jamaah yang besar membuat infak yang terkumpul menjadi signifikan.
Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pembangunan dan perbaikan masjid tuan rumah.
Dalam kesempatan sholat idul Fitri kali ini dana darma, infak dan sadaqah yang terkumpul mencapai Rp 259. 000.000 (259 juta). Angka yang cukup besar untuk ukuran desa, dan sangat berarti bagi pengembangan fasilitas ibadah.
Tak heran, masjid-masjid di keempat desa tampak terawat dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Lebih dari sekadar tradisi, apa yang dilakukan masyarakat Ranau adalah contoh nyata bagaimana budaya lokal mampu memperkuat nilai keagamaan sekaligus sosial.
Di tengah arus modernisasi yang kerap membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang, empat desa ini justru menunjukkan hal sebaliknya—bahwa kebersamaan bisa terus dijaga, selama ada komitmen untuk merawatnya.
Tradisi ini bukan hanya diwariskan, tetapi juga dijalankan dengan penuh kesadaran oleh generasi saat ini.
Lebaran di Ranau pada akhirnya bukan hanya tentang hari raya. Ia adalah kisah tentang persatuan, tentang gotong royong, dan tentang identitas kolektif yang terus hidup.
Dari gema takbir yang berkeliling kampung hingga saf salat yang memanjang di satu masjid, semuanya menyatu dalam satu pesan sederhana namun kuat: kebersamaan adalah kekuatan utama.
Dan selama tradisi ini tetap dijaga, Ranau akan selalu memiliki cerita Lebaran yang tak hanya dirayakan, tetapi juga dirasaka oleh setiap orang yang pulang, dan oleh setiap hati yang terikat di dalamnya. Tabik. (*)







