Menakar Netizen dari Penggunaan “di” Dipisah dan “di” Disambung

- Editor

Sabtu, 15 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Medsos jadi wasilah penting di era sekarang. Mau tidak mau; suka ataupun tidak, orang-orang perlahan terlibat dalam urusan dunia maya ini.

Selain menjadi wadah berekspresi, medsos berhasil menghilangkan kelas sosial yang selama ini jadi pembatas di dunia nyata. Mahasiswa mendebat dosen, buruh berkomentar soal kelakuan perusahaan, sampai warga yang menilai kinerja aparat. Hal umum di medsos namun langka di dunia nyata.

Bahkan para introvert yang cenderung jadi pengamat pada kehidupan sehari-hari, kini bebas berkomentar apa pun kepada siapa pun. Bak menemukan panggung sebagai ruang pelampiasan kegelisahan.

Tak ubahnya seperti dunia nyata, entitas penghuni dunia maya yang kerap disebut dengan istilah “Netizen” ini juga berkumpul berdasarkan ketertarikan yang sama. Ada koloni penggemar K-pop, pecinta kucing, bahkan perkumpulan tabu macam LGBT pernah saya temukan.

Jika ada kelompok terbentuk akibat ketertarikan yang sama, sangat mungkin muncul kelompok lantaran membenci hal yang sama.

Jika diamati, kemajemukan di dunia maya justru menjadi titik awal persoalan. Perbedaan latar belakang dan pendidikan membuat tiap personal memiliki cara berpikir dan sudut pandang unik.

Maka wajar jika ada perdebatan antarnetizen yang membahas topik tertentu. Tak sedikit juga bentrok komen antarkelompok terjadi di medsos.

Penulis yang lebih nyaman menggunakan Instagram punya kebiasaan menikmati komentar yang ada. Sebab adu argumen di medsos cenderung tak berujung atau akrab dengan istilah debat kusir. Meski begitu, penulis sesekali ikut komentar atas hal-hal yang jelas tak dapat dibenarkan. Barangkali sebagian pembaca memiliki perilaku demikian ketimbang ikutan komen?

Dari berbagai jenis netizen yang ada, penulis paling menghindari menanggapi komentar seseorang yang tak bisa membedakan cara menulis “di” dipisah dan “di” disambung. Menanggapi orang macam ini jelas merugikan kita, yang jelas kita rugi waktu. Apa yang kita harap dari seseorang yang tak bisa membedakan hal fundamental tersebut?

Seingat penulis, cara penggunaan “di” dipisah dan “di” disambung telah diajarkan saat seseorang menempuh pendidikan di sekolah dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu penulis mengajak para pembaca menghindari netizen macam ini di medsos, tidak ada untungnya karena kita paham kemampuannya.

Tapi sedikit saya ulas bagaimana penulisan “di” dipisah dan “di” disambung. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang memang belum paham dan mau paham. Jangan jadi netizen yang ‘maha benar’.

Mudahnya begini, “di” harus dipisah apabila diikuti dengan kata yang menunjukkan kata benda yang menyatakan tempat, nama, waktu dan lokasi. Contoh: di pasar, di sana, di garasi, di Januari.

Kemudian “di” harus disambung atau digabung apabila diikuti kata kerja. Contoh: dirampok, dilakukan, dimakan.(*)

Berita Terkait

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur
APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung
MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:56 WIB

Sunyi Kopertais di Tengah Riuh An-Nur

Senin, 13 Juli 2026 - 18:29 WIB

APBD Survival dan Hibah Rp35 Miliar: Menguji Arah Fiskal Lampung

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Berita Terbaru

Lampung

Harlah, PKB Lampung Tegaskan Komitmen Tebar Kebermanfaatan

Minggu, 9 Agu 2026 - 19:33 WIB

Lampung

Soal TBC, Pemprov Lampung Sentil Pemkab Tanggamus

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:27 WIB

Lampung

Sufhie Rahmadi Resmi Pimpin PMII Way Kanan

Kamis, 6 Agu 2026 - 16:03 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Dugaan Intervensi dan ‘Jatah’ Warnai Program Umrah Pemkot

Kamis, 6 Agu 2026 - 13:53 WIB