Redenominasi: Cara Elegan Menjerat Koruptor Tanpa Drama

- Editor

Minggu, 9 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

Wacana redenominasi rupiah kembali mencuat setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyinggungnya di beberapa forum ekonomi. Ini sebenarnya bukan ide baru. Purbaya pernah mengusulkan hal yang sama saat masih berputar di lingkar kebijakan fiskal beberapa tahun lalu. Bedanya, kalau dulu redenominasi diposisikan sebagai upaya merapikan angka dan penyederhanaan sistem moneter, kali ini konteksnya berbeda.

Pramoedya.id: Sekarang inflasi relatif terkendali, nilai tukar terjaga, dan ekonomi mulai stabil meski masih pincang di beberapa sektor. Dalam situasi seperti ini, redenominasi terlihat wajar: cuma mengurangi nol, bikin pencatatan akuntansi lebih rapi, dan memudahkan transaksi.

Tapi Indonesia bukan negara yang hal-hal teknisnya bebas dari konsekuensi sosial. Di sini, kebijakan sederhana bisa melahirkan efek samping yang jauh lebih luas. Dan kalau kita menengok sedikit keluar dari cara pandang teknokratik, redenominasi rupiah sebenarnya punya potensi menjadi alat penyisiran uang gelap yang sangat efektif.

Skemanya sebenarnya sederhana, Negara mengumumkan redenominasi. Ditetapkan masa penukaran uang lama ke uang baru dengan tenggat jelas. Kemudian, semua uang tunai harus muncul ke sistem keuangan.

Nah, di titik ini, uang yang selama ini disembunyikan oleh koruptor tidak punya banyak pilihan. Ia harus keluar dari brankas rumah, dari dinding palsu, dari gudang batako, dari koper di bagasi Alphard, bahkan dari kebun singkong kalau perlu.

Kalau uang itu tidak keluar?

Ya hangus. Tidak lagi diakui. Hilang nilai.
Bukan karena negara menyita, tapi karena tidak ditukar pada batas waktu tertentu.

Koruptor pun terpaksa membawa uangnya ke bank. Dan begitu uang itu muncul di sistem keuangan, ia tak lagi bisa sembunyi dari PPATK, OJK, pajak, penghasilan dan hukum dasar yang paling sederhana: jelaskan asal-usul uangmu. Cukup prosedur administratif yang berjalan tenang tapi mematikan. Itulah keindahan redenominasi, kalau dilakukan dengan benar.

“Tapi nanti mereka kabur ke luar negeri.”

Iya, itu mungkin terjadi. Tapi justru di situ letak kesempatan kedua. Kalau tiba-tiba terjadi gelombang transfer besar-besaran ke Singapura, Dubai, atau Hong Kong dalam waktu berdekatan, PPATK otomatis punya alarm merah. Setiap transaksi mencurigakan dalam jumlah tak wajar akan masuk radar. Justru, koruptor yang panik memberikan jejak digital yang lebih mudah ditelusuri daripada uang tunai.

Selain itu, kalau pemerintah menyiapkan pembatasan transaksi tunai di atas nominal tertentu, kewajiban pelaporan transfer lintas negara, dan koordinasi lintas lembaga, maka ruang manuver untuk kabur nggak seluas yang mereka bayangkan.

Risiko? Ada. Tapi Bisa Dikendalikan.

Redenominasi bukan tanpa masalah.
Kalau sosialisasinya buruk, publik bisa panik, dan kepercayaan ke rupiah bisa goyah. Makanya kuncinya bukan di gimmick, tapi di disiplin pelaksanaan.

Redenominasi harus diumumkan jauh hari, dijalankan bertahap, diiringi sistem pengawasan transaksi yang kuat. Kalau tiga syarat itu dipenuhi, redenominasi justru mengembalikan kewibawaan negara di hadapan uang.

Koruptor paling takut bukan dengan penjara,
melainkan dengan momen ketika uangnya tiba-tiba kehilangan tempat untuk bersembunyi.

Jika negara benar-benar ingin mencari momentum elegan untuk menata ulang moral ekonomi, maka redenominasi bukan sekadar memotong nol. Negara juga bisa memotong moral rusak pejabat korup.(*)

Berita Terkait

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai
Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan
SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan
Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah
Mengapa RS Hewan Provinsi Lampung Harus Segera Beroperasi?
Praktik Jahiliah Pemkot Bandar Lampung di Akhir Zaman
Mereka yang Tidak Tampak Bahagia
Manusia-Manusia Kesepian

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 06:33 WIB

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:20 WIB

Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan

Selasa, 20 Januari 2026 - 21:31 WIB

SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan

Selasa, 20 Januari 2026 - 11:57 WIB

Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah

Senin, 19 Januari 2026 - 08:17 WIB

Mengapa RS Hewan Provinsi Lampung Harus Segera Beroperasi?

Berita Terbaru

Lampung

Gubernur Sambut Lampung Tuan Rumah HPN dan PORWANAS 2027

Senin, 9 Feb 2026 - 15:27 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Kamis, 5 Feb 2026 - 20:55 WIB

Foto: ilustrasi

Perspektif

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Kamis, 5 Feb 2026 - 06:33 WIB

Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico. Foto: BukanAgus

Bandarlampung

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Selasa, 3 Feb 2026 - 16:44 WIB