Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

- Editor

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Belakangan ini, barangkali “sibuk” jadi jawaban paling aman. Lebih aman dari jujur, lebih sopan dari mengaku bingung, atau lebih terhormat daripada mengatakan hidup sedang tidak ke mana-mana. Orang bisa diterima sebagai manusia dewasa hanya dengan satu kalimat pendek: lagi sibuk.

Pramoedya.id: Hal demikian menjadi ladzim, tapi begitulah cara zaman bekerja. Kesibukan jarang ditanya untuk apa. Yang penting terlihat bergerak. Kalender penuh, notifikasi ramai, kepala capek. Padahal sering kali yang bergerak hanya tubuh, bukan arah hidupnya.

Manusia hidup di masa ketika “diam” dianggap mencurigakan dan waktu kosong dicurigai sebagai kemalasan. Tidak punya agenda dianggap tak memiliki masa depan. Entah bagaimana ceritanya, kata “rehat” kini diberi nama: healing, quality time, atau me time.

Sebagian orang takut berhenti. Kesibukan kerap jadi cara melarikan diri dari banyak hal. Mungkin ada gagal yang belum sempat diakui. Mungkin ada yang merasa hidup begini-begini saja, padahal sudah bangun paling pagi dan tidur paling malam.

Produktivitas kemudian jadi agama baru. Barometernya: semakin penuh harimu, semakin bernilai dirimu. Tidak penting apakah yang dikerjakan itu bermakna atau tidak. Yang penting ada yang dikerjakan. Selebihnya bisa dipikir nanti atau tidak sama sekali.

Di titik ini, manusia berubah menjadi proyek tanpa garis akhir. Selalu ada versi diri yang harus diperbaiki, target baru yang harus dikejar, standar baru yang harus dipenuhi. Selesai satu, muncul dua. Ironisnya, kita jarang benar-benar selesai dengan diri sendiri. Banyak yang sudah menyelesaikan pekerjaan, tapi belum pernah menyelesaikan kegelisahan.

Sebenarnya, banyak dari kita yang sudah menuntaskan target, tapi apakah target itu miliknya sendiri atau sekadar pinjaman dari omongan orang?

Diam sejatinya adalah ruang. Di sana manusia bisa ragu tanpa ditertawakan dan bingung tanpa harus memberi jawaban. Tapi ruang semacam ini makin sempit untuk zaman yang terlalu bising. Akhirnya, kita punya generasi yang terus bergerak tapi tidak pernah tiba. Terus sibuk tapi tidak pernah selesai.(*)

Berita Terkait

Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia
Saat Orang Miskin Dipaksa Kaya dan Si Kaya Dipelihara Miskin Demi Suara
Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi
Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan
SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan
Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah
Mengapa RS Hewan Provinsi Lampung Harus Segera Beroperasi?
Praktik Jahiliah Pemkot Bandar Lampung di Akhir Zaman

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 12:03 WIB

Di Tengah Kesibukan MBG, Jakarta Menyeru Perdamaian Dunia

Selasa, 10 Maret 2026 - 04:40 WIB

Saat Orang Miskin Dipaksa Kaya dan Si Kaya Dipelihara Miskin Demi Suara

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:25 WIB

Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi

Kamis, 5 Februari 2026 - 06:33 WIB

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:20 WIB

Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan

Berita Terbaru

Bandarlampung

Eva Targetkan Jalan Mulus dan Bebas Banjir

Sabtu, 28 Mar 2026 - 22:31 WIB

Pendidikan

Posko Ramah Pemudik UIN Lampung Layani Pemudik hingga 27 Maret

Rabu, 25 Mar 2026 - 10:10 WIB

Kolom

Tradisi Lebaran Empat Kampung Di Ranau Masih Terawat

Sabtu, 21 Mar 2026 - 10:09 WIB

Pendidikan

Rektor UIN Lampung Lantik Jajaran Pimpinan Periode 2026–2030

Jumat, 13 Mar 2026 - 21:40 WIB