Match Fixing Warnai Porkot Bandar Lampung, Puluhan Atlet Gulat Pilih Boikot

- Editor

Jumat, 26 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber| Ist

Sumber| Ist

Pramoedya.id: Praktik match fixing mewarnai cabang olahraga gulat pada ajang Pekan Olahraga Kota (Porkot) Bandar Lampung 2025. Sekitar 25 atlet gulat Kota Bandar Lampung memilih tidak ambil bagian dalam pertandingan yang digelar Sabtu (27/12/2025) di PKOR Way Halim, sebagai bentuk protes atas pengaturan pertandingan yang dinilai tidak transparan dan mencederai sportivitas.

Puluhan atlet tersebut berada di bawah pembinaan Rina Safitri. Ia menilai sejak awal pelaksanaan Porkot cabor gulat sarat dengan pengaturan, mulai dari penentuan kelas hingga siapa yang diturunkan bertanding.

“Yang boleh main sudah diatur, termasuk lawan dan kelasnya,” ujar Rina.

Pada Porkot tahun ini, cabang gulat hanya mempertandingkan enam kelas, masing-masing tiga kelas putra dan tiga kelas putri. Kelas putra meliputi 60 kg, 65 kg, dan 76 kg, sementara kelas putri berada di 50 kg, 57 kg, dan 62 kg.

Namun, menurut Rina, pembagian kelas tersebut tidak disertai mekanisme seleksi yang terbuka. Sejumlah atlet binaannya dipaksakan turun meski tidak sesuai kelas ideal.

“Atas dasar solidaritas, seluruh atlet akhirnya memilih tidak bermain sama sekali,” kata Rina.

Situasi ini dinilai mencederai semangat sportivitas Porkot. Ketua PGSI Kota Bandar Lampung, Dedi Irawan Gultom, disebut memiliki kendali penuh dalam menentukan siapa yang bertanding dan di kelas mana, tanpa proses yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam sebuah rekaman suara yang diperoleh Pramoedya.id, Dedi juga beberapa kali menyinggung soal uang dan pembagian medali antara atlet yang dibawanya dan atlet binaan Rina. Bahkan, ajang Porkot cabang gulat disebutnya hanya sebagai kegiatan “fun fun”.

Sorotan lain muncul terkait keikutsertaan atlet dari luar daerah. Sejumlah atlet yang dibawa oleh Dedi diketahui berasal dari Lampung Selatan. Padahal, Porkot seharusnya menjadi ajang kompetisi antar-atlet Kota Bandar Lampung untuk menjaga gengsi dan pembinaan daerah.

Atas kejadian ini, Rina Safitri bersama puluhan atlet gulat Bandar Lampung mendesak agar PGSI Kota Bandar Lampung segera dibenahi. Mereka menilai pembiaran terhadap dugaan pengaturan pertandingan hanya akan merusak pembinaan atlet dan masa depan olahraga gulat di daerah.(*)

Berita Terkait

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak
Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit
Asroni Paslah: Verifikasi SMA Siger Jangan Sekadar Formalitas
BRI Dukung Program Pemerintah Melalui KUR
BRI BalamGandeng Agung Podomoro
Kisruh SMA Siger, JPSI Desak Walikota Selamatkan Siswa ke Sekolah Lain
Ironi Genset MPP Balam, Harga Pasar Rp400 Juta, APBD Jebol Hingga Rp1 M
SMA Siger Tersandera Syarat Hampir Mustahil, Disdikbud Panggil Pengelola

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 20:55 WIB

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:44 WIB

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Senin, 2 Februari 2026 - 20:07 WIB

Asroni Paslah: Verifikasi SMA Siger Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 1 Februari 2026 - 17:50 WIB

BRI Dukung Program Pemerintah Melalui KUR

Minggu, 1 Februari 2026 - 17:47 WIB

BRI BalamGandeng Agung Podomoro

Berita Terbaru

Lampung

Gubernur Sambut Lampung Tuan Rumah HPN dan PORWANAS 2027

Senin, 9 Feb 2026 - 15:27 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Kamis, 5 Feb 2026 - 20:55 WIB

Foto: ilustrasi

Perspektif

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Kamis, 5 Feb 2026 - 06:33 WIB

Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico. Foto: BukanAgus

Bandarlampung

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Selasa, 3 Feb 2026 - 16:44 WIB