Pramoedya.id: Di jalan-jalan, di baliho besar, bahkan dalam pidato pejabat, kita sering mendengar slogan Cintai Produk Lokal. Tulisan besar, warna mencolok, kadang disertai wajah pejabat dengan senyum penuh kebanggaan.
Tapi, coba kita perhatikan barang-barang yang mereka pakai. Sepatunya? Mungkin buatan luar negeri. Tasnya, Produk Itali. Jam tangannya, Swiss. Lalu, mengapa kita yang disuruh membeli produk lokal?
Biarlah, semoga pejabat yang seperti itu segera sadar. Karena sebenarnya, cinta produk lokal bukan sekadar slogan untuk terlihat keren di spanduk.
Ini tentang bagaimana uang yang kita keluarkan bisa tetap berputar di dalam negeri. Misalnya, ketika kita membeli jaket buatan Bandung, keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh pabriknya.
Ada penjahit yang tetap bekerja, tukang sablon yang masih bisa membayar kontrakan, kurir yang tetap bisa mencicil motor, hingga warung makan di dekat pabrik yang tidak kehilangan pelanggan. Uangnya berputar di dalam negeri, tidak kabur ke luar negeri seperti mantan yang pergi tanpa kabar.
Tapi, apa jadinya jika kita lebih sering membeli barang impor? Industri lokal bisa tumbang satu per satu. Contoh nyatanya adalah Sritex, perusahaan tekstil yang dulu menjadi kebanggaan Indonesia.
Dulu, Sritex itu raja tekstil. Mereka memproduksi seragam untuk TNI hingga NATO. Ya, NATO! Sebuah pencapaian yang membanggakan. Sekarang? Perusahaan Sritex bangkrut. Kejayaannya pun tamat.
Lebih dari 10.665 pekerja kehilangan pekerjaan. Ini bukan sekadar angka. Ini ribuan keluarga yang tiba-tiba harus berpikir keras: besok makan apa?. Ikhwal Penyebabnya lantaran Sritex Kalah bersaing dengan produk impor.
Tekstil dari China lebih murah, produksinya lebih cepat, dan teknologinya lebih canggih. Bukan karena orang Indonesia tidak nasionalis, tapi ketika ada barang yang lebih murah dan kualitasnya lebih baik, wajar jika orang memilih itu.
Selain itu, Sritex juga tenggelam dalam utang sebesar Rp24,66 triliun. Angka yang jika masuk ke rekening kita, bisa membuat kita pensiun dini dan hidup santai sembari beternak lele. Ditambah pandemi, produksi tersendat, permintaan anjlok, perusahaan pun megap-megap. Memaksa Sritex gulung tikar.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, turut menyuarakan bahwa PHK massal ini bukan hanya soal ribuan orang kehilangan pekerjaan.
Efeknya panjang. Jika daya beli turun, warung makan sepi, tukang ojek kehilangan penumpang, toko kelontong makin lesu. Ini seperti efek domino yang bisa membuat ekonomi semakin terpuruk.
Lalu, siapa yang salah? Apakah masyarakat yang lebih memilih barang impor, tidak sepenuhnya gegara hal tersebut.
Orang membeli barang berdasarkan harga dan kualitas. Jika ada produk yang lebih murah dan kualitasnya lebih baik, wajar jika orang memilih itu. Ini bukan soal nasionalisme, namun isi dompet tidak bisa diajak cinta buta untuk beli produk lokal yang harganya selangit.
Di sisi lain, industri dalam negeri juga tidak bisa hanya berteriak minta didukung tanpa melakukan perbaikan. Jangan hanya mengeluh bahwa barang impor lebih murah, sementara produk sendiri tidak berusaha lebih inovatif.
Proteksi dari pemerintah memang penting, akan tetapi tanpa peningkatan kualitas dan efisiensi, proteksi itu hanya menjadi plester sementara. Produsen harus membuat barang yang lebih baik, lebih menarik, dan yang paling penting, harganya masuk akal.
Nah, jika produsen lokal sudah menyediakan kualitas yang bagus dan bersaing, mbok yo kita bantu beli. Misalnya, ada dua kaos yang sama-sama keren, yang satu produk impor harganya Rp50.000, yang satu produk lokal Rp55.000, jika mampu, belilah yang lokal. Selisih Rp5.000 itu bisa membuat pabrik tetap beroperasi, pekerja tetap mendapat gaji, tukang ojek tetap dapat penumpang, dan warung tetap laris.
Karena, selemah-lemahnya nasionalisme adalah mendukung dengan membeli produk lokal. Itu hal paling mudah yang bisa kita lakukan untuk ekonomi dalam negeri. (*)







