Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot

- Editor

Kamis, 29 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ditulis Oleh: Syahrul Rhamadhan, Ketua Rayon Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN

Pramoedya.id: Menjadi dewasa di era globalisasi bukan sekadar urusan bertambah usia, melainkan tentang bagaimana generasi muda mampu berselancar di atas gelombang teknologi yang terus berubah. Saat ini, kecepatan informasi bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak. Generasi muda dituntut tidak hanya mahir menggunakan gawai, tetapi juga harus memiliki daya kritis dan kemampuan adaptasi yang tangguh agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan dunia.

Namun, kita harus jujur pada realitasnya, daya saing pemuda Indonesia masih perlu dipacu. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, kita masih memiliki celah lebar dalam hal kualitas pendidikan dan literasi digital. Tanpa penanganan yang sistematis dan berkelanjutan, ketertinggalan ini akan menjadi beban yang menghambat langkah bangsa di panggung global. Maka, menghadirkan pendidikan yang merata dan berbasis teknologi bukan lagi sekadar wacana, melainkan prioritas utama untuk mencetak generasi yang inovatif.

Semangat ini merupakan fondasi utama menuju impian besar Indonesia Emas 2045. Kita ingin melihat Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi. Namun, jalan menuju ke sana masih terhalang oleh tembok besar bernama ketimpangan akses. Bagaimana kita bisa memimpikan transformasi digital jika di banyak sudut negeri, sinyal internet masih menjadi barang mewah?

Kenyataannya cukup mengejutkan. Data dari Katadata.co.id menyebutkan sekitar 93,4 juta penduduk kita belum menyentuh dunia maya. Senada dengan itu, Bambang Dwi Anggoro dari Kominfo sempat mengungkapkan dalam diskusi di Tangerang bahwa masih ada sekitar 24.000 desa yang belum terjangkau layanan internet. Angka-angka ini adalah pengingat bahwa kesenjangan digital adalah persoalan serius yang menghambat pemerataan kecerdasan bangsa.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Percepatan infrastruktur, terutama listrik dan jaringan internet, harus dilakukan serentak karena keduanya adalah jantung dari kemajuan teknologi. Tanpa listrik yang stabil dan internet yang menjangkau pelosok, mustahil transformasi pendidikan bisa berjalan optimal.

Jika akses teknologi tetap timpang, kita sebenarnya sedang membiarkan jurang sosial dan ekonomi antarwilayah semakin dalam. Untuk itu, diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Kita perlu bergotong-royong menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembangnya karakter dan keterampilan generasi muda di mana pun mereka berada.

Dengan langkah yang terencana dan inklusif, kita bisa optimis bahwa Indonesia akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dan adaptif, tetapi juga memiliki karakter kuat. Merekalah yang nantinya akan menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju yang berkeadilan pada 2045 mendatang. Jika masih begini-begini saja, penulis lebih meyakini Indonesia cemas 2045 ketimbang Indonesia Emas (*)

Berita Terkait

NU, Ahwa Sebagai Manifestasi Demokrasi Kualitatif VS Demokrasi Liberal
Kasus An-Nur dan Pencalonan Menteri Agama sebagai Ketua Umum PBNU
Gaya Pecicilan Nunik Menginvasi Panggung Politik Tanpa Permisi
Belasan Tahun Mandek di Papan Bawah, Ada Apa dengan Pendidikan Lampung?
Membedah Relasi Kuasa dan Modal: Ketika Hukum Menjadi Pelayan Oligarki
Daerah Lain Putus Rantai Tengkulak Lewat SRG, Petani Lampung Masih Gigit Jari
Berebut Dekat Jokowi di Lampung
MBG: Ketika Politik Menjadi Lagu, dan Lagu Menjadi Cermin Zaman

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 00:16 WIB

NU, Ahwa Sebagai Manifestasi Demokrasi Kualitatif VS Demokrasi Liberal

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Kasus An-Nur dan Pencalonan Menteri Agama sebagai Ketua Umum PBNU

Rabu, 29 Juli 2026 - 23:07 WIB

Gaya Pecicilan Nunik Menginvasi Panggung Politik Tanpa Permisi

Senin, 6 Juli 2026 - 11:28 WIB

Belasan Tahun Mandek di Papan Bawah, Ada Apa dengan Pendidikan Lampung?

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:52 WIB

Membedah Relasi Kuasa dan Modal: Ketika Hukum Menjadi Pelayan Oligarki

Berita Terbaru

Bandarlampung

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:33 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:26 WIB

Foto: Ist

Bandarlampung

Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi

Kamis, 17 Sep 2026 - 18:03 WIB