Ada kecenderungan ganjil di dunia hari ini: orang merasa berhak menilai kebahagiaan orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan. Wajah ceria dianggap sehat, wajah datar dicurigai bermasalah. Yang sering tertawa disebut menikmati hidup, yang pendiam lekas dicap kurang bersyukur.
Pramoedya.id: Logika semacam ini bukan hanya dangkal, tapi juga berbahaya. Menyederhanakan hidup manusia yang kompleks menjadi soal ekspresi semata. Seolah-olah bahagia adalah kewajiban sosial yang harus dipertontonkan agar sah di mata sekitar.
Orang-orang yang tampak tidak bahagia, bukan berarti mereka gagal menikmati hidup, bisa jadi hidup terlalu banyak meminta mereka bertahan. Tidak semua orang yang jarang tertawa sedang bermasalah. Tidak semua wajah datar menandakan kehampaan. Kadang, itu adalah wajah orang yang sedang memikul tanggung jawab terlalu lama.
Beban Psikis Kerap Tak Terlihat
Banyak orang hidup dengan beban yang tidak pernah masuk statistik kebahagiaan. Mereka bangun pagi dengan kewajiban. Lalu tersenyum bukan karena ingin, tapi karena harus.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering berkaitan dengan stres kronis. Beban ekonomi, tanggung jawab keluarga, tekanan kerja, dan tuntutan sosial membentuk tekanan psikis jangka panjang. Stres semacam ini tidak selalu membuat orang menangis atau ambruk. Justru sering menghasilkan orang-orang yang tampak tenang, namun tumpul secara emosional.
Emosi yang Diredupkan sebagai Cara Bertahan
Psikologi mengenal istilah emotional blunting atau peredaman emosi. Berbagai kajian dalam Journal of Affective Disorders menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat menurunkan respons emosi, baik negatif maupun positif.
Artinya sederhana: seseorang bisa terlihat biasa saja bukan karena ia tidak punya rasa, tapi karena sistem sarafnya sedang bekerja dalam mode hemat. Otak menurunkan intensitas emosi agar individu tetap bisa berfungsi.
Dalam konteks ini, emosi yang datar bukan tanda kegagalan personal, melainkan mekanisme perlindungan diri.
Bertahan Bukan Berarti Tidak Bahagia
Kesalahan paling umum banyak orang ialah menyamakan ekspresi bahagia dengan kondisi bahagia. Padahal psikologi perkembangan menunjukkan bahwa emosi manusia berubah seiring usia dan pengalaman.
Banyak orang dewasa tidak lagi mengekspresikan bahagia dengan cara meledak-ledak. Bahagia hadir sebagai stabilitas, sebagai tidak runtuh, dan sebagai kemampuan menjalani hari tanpa jatuh. Ini bukan versi bahagia yang fotogenik, tapi nyata.
Menilai kebahagiaan orang lain tanpa memahami konteks hidupnya adalah bentuk reduksi yang kejam.
Budaya Mengatur Perasaan Orang Lain
Sosiolog Arlie Russell Hochschild menyebut bagaimana masyarakat menuntut individu mengelola emosi sesuai ekspektasi sosial melalui konsep emotional labor. Dalam budaya Indonesia, tuntutan ini meluas ke hampir semua ruang hidup.
Orang diharapkan ramah, sabar, bersyukur, dan tidak banyak mengeluh. Emosi yang tidak sesuai dianggap masalah moral, bukan sinyal psikis. Akibatnya, banyak orang memilih menahan emosi agar tidak dihakimi.
Ketika seseorang tampak dingin atau datar, sering kali itu bukan karena tidak bahagia, tapi karena lelah dinilai.
Jangan Menghakimi Sesuatu yang Tidak Kita Jalani
Penelitian James Gross dan Oliver John menunjukkan bahwa supresi emosi berkorelasi dengan kelelahan psikologis. Namun masyarakat justru sering mendorong supresi ini lewat komentar-komentar ringan: jangan lebay, jangan cengeng, harus kuat.
Komentar yang terdengar sepele, namun dampaknya panjang. Ia mengajarkan bahwa perasaan harus disembunyikan agar tetap diterima. Maka wajar jika banyak orang memilih wajah datar sebagai bentuk perlindungan sosial.
Yang Mereka Butuhkan Bukan Penilaian
Viktor Frankl mengingatkan bahwa manusia bisa bertahan selama ia menemukan makna. Banyak orang hari ini masih bertahan, meski tampak tidak bahagia. Itu sendiri sudah menunjukkan daya hidup yang besar.
Yang sering mereka butuhkan bukan motivasi, bukan ceramah bersyukur, apalagi penilaian cepat. Mereka hanya butuh pengakuan bahwa kondisi psikis itu nyata.
Tidak semua orang punya kemewahan untuk terlihat bahagia. Sebagian orang harus lebih dulu memastikan hidup tetap berjalan: pekerjaan tidak hilang, dapur tetap mengepul, dan banyak hal lainnya. Di titik itu, wajah datar bukan tanda kekosongan, melainkan disiplin bertahan. Senyum yang jarang bukan berarti kegagalan menikmati hidup, bisa jadi itu tanda energi dipakai untuk hal yang lebih mendesak.
Maka berhentilah mengukur kebahagiaan orang lain dari ekspresi luar. Kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang mereka pikul, atau berapa lama mereka sudah menahannya sendirian.
Tidak semua orang wajib terlihat bahagia. Sebagian hanya sedang berjuang agar hidup tidak ambruk. Dan itu, dalam dirinya sendiri, adalah bentuk kekuatan yang layak dihormati.(*)







