Pramoedya.id: Praktik match fixing mewarnai cabang olahraga gulat pada ajang Pekan Olahraga Kota (Porkot) Bandar Lampung 2025. Sekitar 25 atlet gulat Kota Bandar Lampung memilih tidak ambil bagian dalam pertandingan yang digelar Sabtu (27/12/2025) di PKOR Way Halim, sebagai bentuk protes atas pengaturan pertandingan yang dinilai tidak transparan dan mencederai sportivitas.
Puluhan atlet tersebut berada di bawah pembinaan Rina Safitri. Ia menilai sejak awal pelaksanaan Porkot cabor gulat sarat dengan pengaturan, mulai dari penentuan kelas hingga siapa yang diturunkan bertanding.
“Yang boleh main sudah diatur, termasuk lawan dan kelasnya,” ujar Rina.
Pada Porkot tahun ini, cabang gulat hanya mempertandingkan enam kelas, masing-masing tiga kelas putra dan tiga kelas putri. Kelas putra meliputi 60 kg, 65 kg, dan 76 kg, sementara kelas putri berada di 50 kg, 57 kg, dan 62 kg.
Namun, menurut Rina, pembagian kelas tersebut tidak disertai mekanisme seleksi yang terbuka. Sejumlah atlet binaannya dipaksakan turun meski tidak sesuai kelas ideal.
“Atas dasar solidaritas, seluruh atlet akhirnya memilih tidak bermain sama sekali,” kata Rina.
Situasi ini dinilai mencederai semangat sportivitas Porkot. Ketua PGSI Kota Bandar Lampung, Dedi Irawan Gultom, disebut memiliki kendali penuh dalam menentukan siapa yang bertanding dan di kelas mana, tanpa proses yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sebuah rekaman suara yang diperoleh Pramoedya.id, Dedi juga beberapa kali menyinggung soal uang dan pembagian medali antara atlet yang dibawanya dan atlet binaan Rina. Bahkan, ajang Porkot cabang gulat disebutnya hanya sebagai kegiatan “fun fun”.
Sorotan lain muncul terkait keikutsertaan atlet dari luar daerah. Sejumlah atlet yang dibawa oleh Dedi diketahui berasal dari Lampung Selatan. Padahal, Porkot seharusnya menjadi ajang kompetisi antar-atlet Kota Bandar Lampung untuk menjaga gengsi dan pembinaan daerah.
Atas kejadian ini, Rina Safitri bersama puluhan atlet gulat Bandar Lampung mendesak agar PGSI Kota Bandar Lampung segera dibenahi. Mereka menilai pembiaran terhadap dugaan pengaturan pertandingan hanya akan merusak pembinaan atlet dan masa depan olahraga gulat di daerah.(*)







