#PolisiPembunuh: Barracuda Menggilas Kepercayaan Rakyat

- Editor

Jumat, 29 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber| Akun X Nafas Perlawanan.

Sumber| Akun X Nafas Perlawanan.

Pramoedya.id: Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, barangkali mengira nasib buruk terbesar dalam pekerjaannya hanyalah bertemu pelanggan yang kabur tanpa bayar atau pesanan yang salah alamat. Ia pasti tak pernah membayangkan bahwa perjalanan terakhirnya justru berakhir di bawah roda Barracuda milik Brimob, di tengah pembubaran demo di sekitar DPR, 28 Agustus 2025.

Ironi itu terasa menohok: lelaki yang sehari-hari mengantar makanan untuk orang lain, malah tubuhnya sendiri yang dihabisi oleh kendaraan negara. Dari tragedi itu, publik mendidih, dan sebuah tagar pun lahir: #PolisiPembunuh.

Roda baja yang melindas Affan bukan hanya menghancurkan tubuhnya, tapi juga mengulang sejarah kekerasan negara. Negara sudah berkali-kali menghadirkan cerita yang sama, hanya dengan aktor dan lokasi berbeda.

Kita masih mengingat Trisakti dan Semanggi pada 1998–1999, ketika mahasiswa ditembak mati di jalanan saat menuntut reformasi. Hingga hari ini, dalangnya masih bebas berjalan. Lalu Mei 2019, puluhan orang tewas dalam kericuhan pasca-Pemilu, sebagian ditembak, sebagian hilang, dan negara hanya menjawab dengan penyelidikan yang hilang arah.

Bahkan dalam dunia sepak bola, tragedi Kanjuruhan 2022 menorehkan luka serupa: ratusan nyawa melayang setelah gas air mata ditembakkan tanpa kendali ke tribun stadion. Semua tragedi ini punya satu benang merah, kekerasan aparat selalu dinormalisasi, dan rakyat selalu yang harus membayar harganya.

Maka tidak heran jika publik kini semakin skeptis tiap kali negara buru-buru merapikan wajahnya. Kapolri mungkin datang melayat, menyampaikan permintaan maaf, bahkan menjanjikan pemeriksaan terhadap tujuh anggota Brimob. Tetapi rakyat sudah hapal jalan cerita: setiap tragedi dimulai dengan “luka bangsa” dan diakhiri dengan “sudah ditangani internal.” Keadilan tidak pernah benar-benar hadir, yang ada hanya santunan seadanya, karangan bunga, atau sekadar konferensi pers.

Di jalanan, polisi seolah lupa bahwa mereka bukan pengemudi bumper car di Dufan. Yang mereka tabrak bukan boneka karet, melainkan manusia dengan keluarga, dengan hidup, dengan masa depan. Affan hanyalah satu nama dari sekian banyak korban yang terseret dalam logika kekuasaan yang menempatkan aparat di atas rakyat. Roda baja Barracuda itu pada akhirnya bukan hanya menggilas tubuh Affan, tetapi juga menggilas kepercayaan publik terhadap institusi yang seharusnya melindungi.

Munculnya tagar #PolisiPembunuh di media sosial bukan sekadar luapan emosi. Ini merupakan catatan kolektif, memo publik bahwa negara berulang kali gagal menjaga nyawa rakyatnya. Tagar ini mungkin akan tenggelam digantikan isu baru, tetapi memori sosial tidak akan pernah hilang. Dalam ingatan rakyat, harga nyawa di republik ini semakin murah, jauh lebih murah daripada ban kendaraan taktis yang melindasnya.

Negara boleh meminta maaf, boleh berjanji, boleh menggelar upacara belasungkawa. Tetapi luka sosial tidak bisa ditutup dengan kata-kata manis. Yang lebih menyakitkan dari roda baja bukan hanya tubuh yang hancur, melainkan rasa bahwa kita semua, setiap hari, hidup di jalan yang sama: jalan yang bisa sewaktu-waktu melindas siapa saja dengan nama keamanan. Dan ketika aparat kembali berkilah dengan kata “oknum,” publik hanya bisa menjawab dengan getir: oknum siapa, kalau sejarahnya selalu sama?(*)

Berita Terkait

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan
Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah
HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri
Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik
Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG
Andi Warisno dan Semesta Multiverse Pendidikan Tinggi
Prabowo Memfitnah Ratusan Juta Rakyat Indonesia
Belum Lama ‘Tantrum’, Dinas PU Seret Nama Eva Dwiana ke Kejagung

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:34 WIB

MBG, Posisi dan Persepsi: Ketika Pertanyaan Dibalas Tepuk Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:07 WIB

Di Balik Diabaikannya Kritik Kelas Menengah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:51 WIB

HIPMI dan Ilusi Pengusaha Mandiri

Senin, 8 Juni 2026 - 13:32 WIB

Prabowo dan Warisan yang Dibaca Terbalik

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:35 WIB

Ketika Ahli Serangga Jadi Hama MBG

Berita Terbaru

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Pringsewu, Rusdianto, ketika diwawancarai.

Pringsewu

Jokowi ke Pringsewu, PSI Sebut Dongkrak Elektabilitas Partai

Sabtu, 27 Jun 2026 - 15:17 WIB

Lampung

Kemenag Bandar Lampung Santuni Ratusan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 17:07 WIB

Lampung

PCNU dan Pemuda Katolik Sepakat Lawan Kekerasan Seksual

Rabu, 24 Jun 2026 - 19:57 WIB