Hari Buruh dan Kenyataan Pahit Dunia Kerja

- Editor

Kamis, 1 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Pramoedya.id: Hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, May Day kembali diwarnai oleh buruh yang turun ke jalan. Poster-poster terangkat, tuntutan dilantangkan: naikkan upah, tegakkan keadilan.

Namun, ada yang terasa janggal. Tuntutan-tuntutan itu kini terdengar seperti sebuah kemewahan. Karena bagi banyak buruh, bisa tetap bekerja saja sudah merupakan anugerah.

Kita hidup di masa ketika mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan terasa nyaris mustahil.

Sejak awal 2025, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) datang seperti arus deras yang sulit dibendung. Lebih dari 60.000 orang kehilangan pekerjaan hanya dalam dua bulan pertama. Itu belum termasuk runtuhnya Sritex yang menyeret lebih dari 10.000 buruh ke dalam jurang ketidakpastian.

Banyak dari mereka bahkan belum menerima pesangon. Mereka bukan sekadar diberhentikan, mereka dihapus dari sistem.
Ini bukan semata-mata karena perusahaan merugi.

Ini adalah dampak dari dunia yang bergerak terlalu cepat dan terlalu keras.
Apalagi, situasinya diperparah oleh memanasnya kembali perang dagang Amerika–Tiongkok. Ongkos produksi melambung, bahan baku langka, pasar ekspor tersendat.

Industri yang bergantung pada pasar global seperti tekstil, elektronik, dan alas kaki mulai goyah. Dan seperti biasa, yang pertama dikorbankan adalah buruh.

Yang masih bekerja hari ini tahu betul: mereka tidak aman. Mereka diam, bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut. Takut menjadi angka berikutnya dalam daftar PHK yang terus bertambah.

Suara buruh hari ini memang lantang, tapi diiringi kecemasan: bagaimana bisa bertahan hidup?

Bahkan buruh di perusahaan besar pun tak lagi merasa aman. Tidak ada lagi istilah “aman”. Yang ada hanya “belum kena”.

Makin pahit lagi nasib buruh lantaran dunia kerja hari ini didominasi oleh kontrak pendek. Di atas kertas fleksibel, tapi kaku saat bicara perlindungan. Jaminan sosial minim. Banyak yang bekerja tanpa terdaftar.

Banyak yang terdampak tanpa terlindungi. Mereka hidup di pinggir sistem, bekerja tanpa pengakuan, dan ketika kehilangan pekerjaan, tak ada kompensasi.

Masih relevan kah menuntut kenaikan upah?

Tuntutan itu semakin penting. Bukan sekadar soal angka, melainkan soal hak dasar untuk hidup layak. Tapi tuntutan itu harus dibarengi dengan kesadaran bahwa sistem tengah berubah.

Dunia kerja tak lagi seperti dulu. Jika buruh tak dilibatkan dalam proses perubahan ini, mereka akan terus menjadi korban.

May Day hari ini bukan sekadar perayaan atau protes. Ia adalah pengingat. Bahwa ada yang salah jika bekerja keras seharian hanya cukup untuk bertahan seminggu. Bahwa ada yang sangat keliru jika bekerja dianggap sebagai anugerah, bukan hak.

Hari ini, buruh tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin yang paling dasar: pekerjaan yang bisa dipertahankan, hidup yang bisa dijalani tanpa ketakutan dihapus dari sistem. Dibenak mereka saat ini, sekadar dipertahankan saja sudah syukur. Selamat Hari Buruh. (*)

Berita Terkait

Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi
Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai
Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan
SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan
Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah
Mengapa RS Hewan Provinsi Lampung Harus Segera Beroperasi?
Praktik Jahiliah Pemkot Bandar Lampung di Akhir Zaman
Mereka yang Tidak Tampak Bahagia
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:25 WIB

Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi

Kamis, 5 Februari 2026 - 06:33 WIB

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:20 WIB

Blunder Klarifikasi: SMA Siger dan Legitimasi Kejahatan

Selasa, 20 Januari 2026 - 21:31 WIB

SMA Siger: Ketika Nasib Orang Miskin Cuma Jadi Kelinci Percobaan

Selasa, 20 Januari 2026 - 11:57 WIB

Bank Lampung: Besar Karena Dipaksa Sistem, Kerdil di Mata Nasabah

Berita Terbaru

Bandarlampung

DEMA FDIK UIN Gugat Polemik SMA Siger di Tugu Adipura

Rabu, 11 Feb 2026 - 22:05 WIB

Foto: Ilustrasi

Perspektif

Almanak Pilrek UIN Lampung: Politik di Kampus Religi

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:25 WIB

Lampung

Gubernur Sambut Lampung Tuan Rumah HPN dan PORWANAS 2027

Senin, 9 Feb 2026 - 15:27 WIB