Skandal Meritokrasi di Lampung Tengah: Ketika Jabatan Sekda Jadi Urusan Keluarga

- Editor

Kamis, 12 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Saddam Lampung, S.Sos

Pramoedya.id: Birokrasi seharusnya menjadi benteng terakhir dari profesionalisme dan integritas pemerintahan. Namun, apa jadinya jika jabatan strategis justru jatuh ke tangan kerabat kepala daerah? Itulah yang kini menjadi sorotan tajam di Kabupaten Lampung Tengah.

Baru-baru ini, Bupati Lampung Tengah, Ardito Wijaya, melantik adik iparnya, Welly Adi Wantra, sebagai Sekretaris Daerah (Sekda). Sebuah langkah yang memantik polemik, mencederai semangat meritokrasi, dan menimbulkan pertanyaan besar: Apakah birokrasi kita telah berubah menjadi alat kekuasaan keluarga?

Proses seleksi yang seharusnya ketat dan profesional justru menjadi abu-abu. Skor tinggi Welly dalam seleksi administratif dan rekam jejak memicu kecurigaan, terutama karena ia adalah keluarga dekat Bupati. Publik pantas bertanya: Apakah ini hasil kerja keras dan kompetensi? Atau karena darah yang sama mengalir dalam lingkar kekuasaan?

Asosiasi wartawan dan aktivis masyarakat sipil pun mengendus potensi kuat praktik nepotisme. Mereka tidak hanya mempertanyakan hasil seleksi, tetapi juga keabsahan prosesnya. Bagaimana mungkin publik percaya jika hasilnya justru menguntungkan kerabat kepala daerah?

Penunjukan seorang Sekda bukanlah perkara sepele. Ia adalah motor utama birokrasi, penentu arah pembangunan, dan pengawal kebijakan strategis daerah. Ketika jabatan ini diisi oleh figur yang dianggap “aman secara politik” namun tak terbukti unggul secara objektif, maka yang dikorbankan bukan hanya kualitas birokrasi, tapi juga masa depan daerah.

Praktik seperti ini menunjukkan kemunduran serius dalam sistem meritokrasi yang dijamin oleh Undang-Undang ASN. Padahal, aturan jelas menyebut bahwa pengisian jabatan pimpinan tinggi harus berbasis pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Bukan koneksi darah.

Jika praktik semacam ini dibiarkan, kita sedang menciptakan budaya birokrasi yang berbahaya: birokrasi yang tunduk pada loyalitas personal, bukan publik. Pegawai ASN akan kehilangan motivasi untuk bersaing secara sehat. Inovasi akan mati. Profesionalisme akan runtuh.

Lebih jauh lagi, masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada sistem pemerintahan. Dan ketika kepercayaan publik hancur, maka kehancuran demokrasi lokal hanya tinggal menunggu waktu.

Pelantikan ini harus menjadi titik balik. Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), DPRD, dan masyarakat sipil harus bersuara lantang. Proses seleksi harus diaudit secara transparan. Jika ditemukan intervensi, maka pelantikan harus dibatalkan dan diganti dengan proses yang independen.

Bupati sebagai pemimpin daerah seharusnya menjadi teladan, bukan pemicu kontroversi. Reformasi birokrasi yang digaungkan pemerintah pusat tak akan berarti jika di daerah justru terjadi pengkhianatan terhadap nilai-nilai integritas dan keadilan.

Lampung Tengah bukan milik satu keluarga. Ia adalah milik seluruh rakyat yang berhak mendapat pelayanan terbaik dari aparatur terbaik. Menjadikan jabatan Sekda sebagai “jatah keluarga” adalah bentuk pelecehan terhadap etika pemerintahan dan amanat reformasi birokrasi. Sudah saatnya publik bersuara. Karena jika kita diam, maka kita ikut merestui runtuhnya marwah birokrasi Indonesia.

Berita Terkait

Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot
Dari Pilkada Langsung Ke Kontrol Elit : Power Continuity dan Kemunduran Demokrasi Lokal
Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran Demokrasi dan Hilangnya Mandat Rakyat
Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban  
Republik di Atas Meja Negosiasi: Siapa Menjual, Siapa Membeli Keadilan?
Mengapa Kita Perlu ‘Gaya’ Kang Dedy?
Robusta, Kafein, dan Revolusi Senyap di Lampung
Wasiat Soemitro dan Silat Gelap Zaman  

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 16:38 WIB

Mimpi Indonesia Emas Terancam Blank Spot

Selasa, 13 Januari 2026 - 01:01 WIB

Dari Pilkada Langsung Ke Kontrol Elit : Power Continuity dan Kemunduran Demokrasi Lokal

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:02 WIB

Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran Demokrasi dan Hilangnya Mandat Rakyat

Selasa, 30 Desember 2025 - 20:43 WIB

Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban  

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:41 WIB

Republik di Atas Meja Negosiasi: Siapa Menjual, Siapa Membeli Keadilan?

Berita Terbaru

Lampung

Gubernur Sambut Lampung Tuan Rumah HPN dan PORWANAS 2027

Senin, 9 Feb 2026 - 15:27 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Kamis, 5 Feb 2026 - 20:55 WIB

Foto: ilustrasi

Perspektif

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Kamis, 5 Feb 2026 - 06:33 WIB

Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico. Foto: BukanAgus

Bandarlampung

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Selasa, 3 Feb 2026 - 16:44 WIB