Pramoedya.id: Musabaqah Qira’atul Kutub Internasional (MQKI) 2025 resmi dibuka di Pondok Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan, pada 1–7 Oktober 2025. Ajang keilmuan ini menghadirkan 1.359 peserta dari seluruh Indonesia serta delegasi dari sembilan negara sahabat.
MQKI Internasional 2025 mengusung tema kuat: Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam sambutannya menegaskan bahwa MQKI lebih dari sekadar perlombaan, melainkan forum silaturahmi ulama, santri, dan akademisi lintas negara.
“Merawat lingkungan dan menjaga perdamaian adalah tema besar kita. Kini saatnya Kementerian Agama mengarusutamakan apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yaitu kerja sama antara manusia, alam, dan Tuhan,” ujarnya saat membuka acara.
Menag menambahkan, MQKI juga merupakan bentuk diplomasi budaya pesantren yang meneguhkan wajah Islam rahmatan lil-‘alamin di mata dunia, menunjukkan bahwa Islam Indonesia tumbuh melalui dakwah yang ramah dan penuh persaudaraan.
Rektor UIN Raden Intan Lampung, Wan Jamaluddin, yang turut menghadiri pembukaan, menyambut baik kegiatan ini sebagai kontribusi nyata pesantren terhadap kemajuan peradaban.
Ia secara khusus menyoroti gerakan menanam pohon yang dilakukan oleh para santri sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Menurutnya, tradisi keilmuan dalam kitab kuning tidak hanya mengajarkan moralitas kepada sesama, tetapi juga tanggung jawab terhadap alam.
“Santri tidak hanya diajarkan untuk berpikir, tetapi juga bertindak nyata. Gerakan menanam pohon ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keilmuan dapat diwujudkan dalam aksi yang bermanfaat bagi lingkungan,” kata Wan Jamaluddin.
Para peserta berkompetisi dalam berbagai cabang, termasuk debat bahasa Arab dan Inggris, hifdzul mutun, serta penulisan risalah ilmiyyah, menegaskan peran pesantren sebagai fondasi peradaban Islam di Nusantara. (Rilis)







