Mereka tertawa di meja kopi. Ponsel diletakkan terbuka, sesekali bergetar, lalu disentuh dengan refleks yang sudah terlatih. Obrolan mengalir, candaan berseliweran, wajah-wajah tampak ringan. Dari luar, semuanya baik-baik saja. Bahkan bahagia. Setidaknya, begitulah yang ingin ditampilkan.
Pramoedya.id: Zaman ini tidak kekurangan suara. Timeline penuh cerita, grup percakapan nyaris tak pernah benar-benar mati, notifikasi datang silih berganti. Tapi justru di tengah keramaian itulah kesunyian menjelma bentuk baru.
Manusia-manusia kesepian hari ini jarang terlihat murung. Mereka aktif, responsif, dan tahu kapan harus tertawa. Kesepian tidak lagi hadir sebagai air mata, melainkan sebagai jeda. Sebagai kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan. Sebagai percakapan dangkal yang ramai, dan selesai begitu layar dikunci.
Banyak orang tampak punya teman, tapi sedikit yang benar-benar punya tempat pulang secara emosional. Bertukar kabar sudah menjadi rutinitas, namun jarang berlanjut menjadi saling mendengar.
Pertanyaan “apa kabar?” sering kali hanya pembuka, bukan undangan untuk bercerita. Jawaban “baik” pun menjadi penutup yang paling aman.
Di ruang-ruang sosial, tawa hadir karena keheningan terasa canggung. Diam dianggap kegagalan, bukan kesempatan untuk memahami. Maka obrolan dipercepat, topik diganti, dan kesunyian segera ditutup sebelum sempat bertanya apa-apa. Kita takut pada sunyi, karena sunyi memberi waktu untuk merasa.
Kesepian hari ini juga rapi. Kesepian kerap disamarkan lewat unggahan, dibungkus humor, dan disebarkan sebagai konten. Bahagia tidak lagi cukup dirasakan, ia harus ditunjukkan. Seolah-olah perasaan seseorang baru sah jika disaksikan. Dalam proses itu, banyak orang lupa bertanya: apakah kebahagiaan yang dipertontonkan itu benar-benar dialami?
Relasi pun menjadi cepat dan rapuh. Datang mudah, pergi tanpa penjelasan. Kedekatan diukur dari seberapa sering merespons, bukan seberapa dalam memahami. Ketika komunikasi terputus, yang hilang bukan hanya pesan, tapi juga keberanian untuk menanyakan alasan.
Barangkali ini bukan soal kurangnya teman, melainkan minimnya ruang aman untuk jujur. Orang-orang lelah menjadi beban cerita. Mereka memilih menyimpan, menunda, lalu terbiasa menanggung sendiri. Tidak ada yang benar-benar kuat, tapi karena tidak tahu harus berbagi ke mana.
Manusia-manusia kesepian tidak selalu mencari pertolongan. Mereka hanya berharap ada yang tinggal sedikit lebih lama. Ada yang mendengar tanpa buru-buru menimpali. Ada yang hadir tanpa perlu disorot kamera.
Kesepian semacam ini bukan kegagalan personal, melainkan gejala zaman. Ia tumbuh dari cara kita berelasi, berkomunikasi, dan menilai kebahagiaan. Dan mungkin, tanpa sadar, kita semua pernah menjadi bagian darinya. Baik sebagai yang merasa sepi, maupun sebagai yang melewatkan tanda-tandanya.(*)







