Pramoedya.id: Lampung Fest akan hadir pada 11–25 November 2025 di PKOR Way Halim, Bandar Lampung. Berbeda dengan festival sebelumnya, hajatan ini dirancang sebagai panggung kolaborasi masyarakat, komunitas kreatif, dan dunia usaha untuk menggerakkan pariwisata daerah. Lebih menarik lagi, penyelenggaraan festival sama sekali tidak menggunakan dana APBD.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, menyebut Lampung Fest lahir sebagai strategi menjawab tantangan pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, salah satu cara mengundang pergerakan wisatawan adalah melalui penyelenggaraan event yang mampu menciptakan belanja tambahan dari para pengunjung.
“Kami ingin meningkatkan spent money, atau uang yang dibelanjakan wisatawan,” ujarnya,.
Bobby menargetkan sedikitnya 200 ribu pengunjung akan hadir selama festival yang berlangsung lima belas hari. Ia optimistis sektor kuliner dan musik akan menjadi magnet utama karena paling dekat dengan masyarakat.
Festival ini, katanya, juga menjadi ajang pertama yang diinisiasi langsung oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sebagai bentuk komitmen menggerakkan pariwisata Lampung melalui model kolaboratif.
Format kolaborasi terlihat jelas dari pola pembiayaan yang sepenuhnya mengandalkan sponsor swasta, skema bagi hasil dengan UMKM, dan tiket konser musik. Bobby menegaskan model ini ideal karena pariwisata tidak boleh selamanya bergantung pada anggaran pemerintah. Pemerintah provinsi hanya menyiapkan konsep besar, sementara ruang kreasi diberikan kepada Forum Lampung Kreatif (FOLK) sebagai mitra pelaksana.
“Semangat kolaborasi ini yang menjadi ciri khas festival,” kata Bobby.
Ketua FOLK, Riqwan Sahari, menegaskan komunitas hadir bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak utama. Ia menyebut Lampung Fest sebagai pembuktian bahwa masyarakat mampu menggelar event besar tanpa bergantung pada APBD. “Kami belajar dari daerah lain seperti Jember, Banyuwangi, Dieng, atau Solo yang bisa membuat festival besar dengan daya dukung komunitas. Lampung juga bisa,” ujarnya.
FOLK sendiri merupakan kumpulan anak muda dari berbagai latar belakang, mulai dari penggiat media sosial, pelaku event, pekerja kreatif, hingga komunitas UMKM. Hampir semua rangkaian Lampung Fest dikerjakan bersama oleh mereka, mulai dari kurasi acara, promosi, pencarian sponsor, hingga pengelolaan stand.
Indikator keberhasilan, kata Riqwan, bukan sekadar jumlah pengunjung, melainkan juga besaran transaksi ekonomi dan keterlibatan komunitas lokal. Festival ini dibuka gratis untuk publik, dengan tiket hanya berlaku untuk konser musik yang menjadi salah satu rangkaian acara.
Ale, salah satu perwakilan FOLK, menambahkan bahwa Lampung Fest 2025 bukan sekadar pesta rakyat, melainkan momentum untuk menunjukkan kapasitas komunitas dalam membangun pariwisata.
“Jika Lampung Fest ini sukses, kami siap terlibat lagi di event-event lain. Kami ingin diakui bahwa festival ini digelar oleh, dari, dan untuk masyarakat,” katanya. (Rilis/*)







