Pramoedya.id: Nuansa khidmat menyelimuti peringatan Hari Jalan ke-5 yang digelar insan Bina Marga se-Provinsi Lampung di Kantor Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Lampung, Jumat (19/12/2025).
Ratusan pegawai dari tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten/kota berkumpul, bukan untuk pesta pora, melainkan untuk berefleksi dan memperkuat solidaritas.
Perayaan tahun ini sengaja digelar sederhana. Tidak ada hingar-bingar, berlebihan sebagai bentuk empati mendalam terhadap bencana alam yang baru saja menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Padang.
Kepala Dinas BMBK Lampung, M.Taufiqullah, mengatakan acara yang sedianya jatuh pada tanggal 20 Desember ini dipercepat satu hari. Keputusan itu diambil agar para pegawai memiliki waktu berkualitas bersama keluarga saat hari libur tiba.
Gelaran acanya pun, sambungnya, hanya senam bersama, renungan, kemudian disambut untuk saling berbagi.
“Kita laksanakan sesederhana mungkin sebagai wujud empati bahwa saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Padang sedang tidak baik-baik saja,” Kata dia dihadapan para pengelola jalan di Lampung.
Mengusung tema “Konektivitas Jalan dalam Mendukung Swasembada Pangan,” peringatan ini menjadi momentum untuk menengok kembali sejarah dan menata masa depan. Tema ini merujuk pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 1511 Tahun 2021.
Taufiq juga mengingatkan kilas balik ke era 1811, saat Daendels membangun Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Jika dahulu jalan dibangun demi pertahanan kolonial, kini orientasinya berubah total untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional sesuai arahan Presiden.
“Jalan yang kita bangun memiliki banyak fungsi. Selain mendukung ketahanan pangan, sumber daya ekonomi sangat bergantung pada akses jalan yang bagus. Makanya, logo kita kali ini menyertakan gambar memegang cangkul dan traktor,” tuturnya, menegaskan kaitan erat antara aspal dan pertanian.
Acara ini juga menjadi ajang “kopi darat” strategis antara Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Kepala Dinas Bina Marga, hingga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari seluruh pelosok Lampung.
Pesan utamanya jelas: hapus ego sektoral. Penyelenggara menekankan agar tidak ada lagi dikotomi antara orang “pusat” dan orang “daerah”. Sinergi tanpa sekat diyakini akan mempercepat eksekusi infrastruktur di lapangan.
“Kita tidak kotak-kotakkan, semuanya sama. Kita bersinergi di sini, membangun untuk Lampung dan untuk masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Solidaritas insan Bina Marga tak berhenti di lisan. Dalam sepekan terakhir, mereka menggalang donasi dan berhasil mengumpulkan dana Rp55 juta. Bantuan ini akan segera disalurkan untuk meringankan beban korban bencana di wilayah Sumatera.
Menutup acara yang diisi dengan senam bersama itu, Taufiqullah melontarkan pesan reflektif sekaligus menepis anggapan miring tentang pekerja proyek. Ia menyebut profesi ini sebagai ladang pahala yang tak putus.
“Bangun jalan itu membuat amal jariah. Selama jalan itu dipakai dan digunakan masyarakat, itu akan terus dicatat sebagai amal baik. Insya Allah, kita semua di sini adalah penghuni surga karena setiap hari membangun kemaslahatan,” tutupnya mengingatkan untuk selalu menebar kebermanfaatan. (*)







