Bangunan Haram di Sultan Agung: Jejak Kesepakatan Para Bos

- Editor

Kamis, 24 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pramoedya.id: Sebuah bangunan tiga lantai berdiri mencolok di tepi Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung. Bukan sekadar proyek biasa, bangunan ini terang-terangan menabrak aturan, mengangkangi regulasi ruang kota, dan tetap berjalan meski Pemkot sudah mengeluarkan surat larangan hingga instruksi pembongkaran.

Pantauan sejak Senin hingga Rabu (21–23/7/2025) memperlihatkan hal yang kontras: pekerja tetap beraktivitas seperti tak ada masalah.

Bangunan itu diketahui milik Devilson, yang berkantor di depan Bank BCA Antasari. Informasi menyebutkan bahwa bangunan itu akan dijadikan kostel.

Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Bandar Lampung menyatakan secara tegas bahwa bangunan tersebut melanggar Garis Sempadan Bangunan (GSB). Jaraknya terlalu mepet dengan badan jalan, padahal dalam dokumen Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), lokasi tersebut wajib memiliki GSB minimal 22 meter.

“Sudah tiga kali kami surati. Mereka awalnya bilang akan bongkar sendiri. Tapi sampai sekarang, tidak ada tindakan,” kata Kepala Dinas Perkim, Yusnadi Ferianto, di ruang kerjanya.

Pelanggaran itu bertentangan dengan aturan, mulai dari Perda RTRW Nomor 10 Tahun 2011 hingga Peraturan Menteri PUPR No. 20 Tahun 2021.

Yusnadi mengklaim bahwa saat izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) terbit pada awal 2024, lahan masih kosong. Pelanggaran baru ketahuan setelah struktur bangunan naik.

“Kami tidak pernah menyuruh orang melanggar. PBG-nya sah, tapi bangunannya ternyata menyimpang dari ketentuan. Kalau begitu siapa yang salah, coba,” ujarnya, mencoba meluruskan.

Langkah lanjutan, kata Yusnadi, akan dibahas dalam rapat teknis penertiban awal Agustus. Jika pemilik tetap bandel, Pemkot bakal ambil tindakan paksa.

“Kalau tidak dibongkar sendiri, kami yang bongkar. Tapi ya, ini lintas OPD, jadi perlu koordinasi,” katanya.

Kontras dengan jawaban pemkot, Ali Heri yang mengaku bertanggung jawab atas material bangunan, membenarkan sudah ada pengukuran dari pihak dinas. Ia juga menyebut bahwa “bos dan bos” telah “bersepakat” untuk mengurangi bangunan satu meter dari jarak pelanggaran.

“Iya, waktu itu sudah diukur. Ketemu jarak 9 meter. Tapi katanya cukup dikurangi 1 meter biar jadi 10 meter,” ujarnya.(*)

Berita Terkait

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak
Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit
Asroni Paslah: Verifikasi SMA Siger Jangan Sekadar Formalitas
BRI Dukung Program Pemerintah Melalui KUR
BRI BalamGandeng Agung Podomoro
Kisruh SMA Siger, JPSI Desak Walikota Selamatkan Siswa ke Sekolah Lain
Ironi Genset MPP Balam, Harga Pasar Rp400 Juta, APBD Jebol Hingga Rp1 M
SMA Siger Tersandera Syarat Hampir Mustahil, Disdikbud Panggil Pengelola

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 20:55 WIB

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:44 WIB

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Senin, 2 Februari 2026 - 20:07 WIB

Asroni Paslah: Verifikasi SMA Siger Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 1 Februari 2026 - 17:50 WIB

BRI Dukung Program Pemerintah Melalui KUR

Minggu, 1 Februari 2026 - 17:47 WIB

BRI BalamGandeng Agung Podomoro

Berita Terbaru

Lampung

Gubernur Sambut Lampung Tuan Rumah HPN dan PORWANAS 2027

Senin, 9 Feb 2026 - 15:27 WIB

Foto: Ilustrasi

Bandarlampung

Walikota Pertanyakan Sikap Pemprov Usai Izin SMA Siger Ditolak

Kamis, 5 Feb 2026 - 20:55 WIB

Foto: ilustrasi

Perspektif

Orang-Orang yang Selalu Sibuk, Tapi Tidak Pernah Selesai

Kamis, 5 Feb 2026 - 06:33 WIB

Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico. Foto: BukanAgus

Bandarlampung

Skandal Jam KBM dan Aset, Izin SMA Siger Gagal Terbit

Selasa, 3 Feb 2026 - 16:44 WIB