Pramoedya.id: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) meminta jajarannya tidak hanya terpaku pada angka statistik dalam mengendalikan inflasi. Hal itu ditegaskannya saat memimpin rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah di Kantor Gubernur Lampung, Rabu, (7/5/2026).
Berdasarkan data BPS per 4 Mei 2026, inflasi month to month Lampung berada di angka 0,55 persen. Meski secara angka dinilai terkendali, Mirza mengingatkan bahwa kondisi riil di pasar jauh lebih penting.
“Jangan senang kalau inflasi Lampung saat disurvei rendah, karena itu hanya angka. Kita harus lihat kondisi riil di lapangan, bagaimana harga dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Mirza.
Sejumlah komoditas seperti minyak goreng, beras, bawang, dan cabai tercatat menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Mirza menginstruksikan pengawasan ketat terhadap stok dan jalur distribusi agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga.
Selain harga pangan, Gubernur juga mewaspadai ancaman fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada triwulan III tahun 2026. Dampak cuaca ekstrem ini dikhawatirkan mengganggu produksi pangan daerah.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Lampung telah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari operasi pasar murah, sidak pasar, hingga optimalisasi Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk subsidi transportasi komoditas. Mirza meminta seluruh kepala OPD menyusun mitigasi yang lebih terukur agar dampaknya terasa langsung oleh warga. (*)







