Ditulis Oleh, Dr. OKI Darmawan, Dosen UIN Raden Intan Lampung
Pramoedya.id: Di sebuah ruang kelas Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Raden Intan Lampung, duduk tenang seorang mahasiswa asal Kampot Province, Kamboja. Namanya Sen Bukhory, anak pertama dari tiga bersaudara, yang datang jauh dari negeri yang pernah menyimpan luka sejarah di masa kelam pemerintahan Khmer Merah.
“Itu masa nenek dan kakek saya, Pak,” tutur Bukhory pelan ketika ditanya tentang tragedi 1975–1979 yang menewaskan jutaan jiwa. Meski lahir jauh setelah masa itu, bayangan penderitaan bangsanya tetap membekas di ingatan keluarga. Dari kisah para orang tua, ia belajar tentang arti keteguhan, iman, dan perjuangan hidup.
🕌 Jejak dari Kampot ke Lampung
Ayah Bukhory, Sim Matsen, adalah lulusan Fatoni University di Thailand Selatan dan kini mengajar bahasa Arab di Ma’had Attamayyus, Provinsi Preah Sihanouk. Sementara ibunya, Feut Sanas, membantu ekonomi keluarga dengan berjualan baju anak-anak di pasar.
Dari pasangan sederhana inilah semangat belajar dan cinta terhadap ilmu agama tumbuh kuat dalam diri Bukhory. “Ayah saya guru bahasa Arab, dan saya ingin mengikuti jejak beliau mengajar dan membangun lembaga Islam di Kamboja,” ujarnya.
Kini, Bukhory menempuh studi di UIN Raden Intan Lampung bersama sahabat senegaranya, bernama Muslim. Selain mereka, ada pula 13 mahasiswa Kamboja lainnya yang menempuh pendidikan di Poltekkes Tanjung Karang.
🎓 Beasiswa, Tantangan, dan Semangat
Bukhory merasa sangat bersyukur karena mendapatkan beasiswa per semester senilai Rp11 juta, termasuk gratis UKT dan tempat tinggal di Ma’had UIN Raden Intan Lampung. Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan rindu dan perjuangan yang tidak ringan.
“Yang paling sulit itu ketika saudara di rumah sakit. Saya jauh, tidak bisa bantu, cuma bisa doa,” ucapnya lirih saat diwawancarai.
Selain kendala bahasa, ia juga harus beradaptasi dengan budaya Indonesia yang jauh berbeda dari negaranya. “Tapi saya senang di sini, karena dosen dan teman-teman selalu baik, selalu ingatkan saya untuk beribadah,” katanya sambil tersenyum.
🍲 Kehidupan Sehari-hari dan Mimpi Masa Depan
Di tengah padatnya jadwal kuliah, Bukhory tetap hidup mandiri. Ia memasak sendiri, mencuci sendiri, dan kadang menggunakan laundry jika sedang sibuk. Makanan favoritnya di Indonesia sederhana: ayam kuah kecap.
Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan cita-cita besar.
“Saya ingin jadi kepala organisasi Islam dan membangun pesantren atau sekolah Islam di Kamboja. Karena di negara saya, Islam hanya sekitar tiga persen,” ungkapnya penuh harap.
Bukhory juga bermimpi melanjutkan pendidikan hingga S2 atau S3 di Indonesia atau Malaysia, agar kelak bisa kembali dan mencerdaskan generasi muda Muslim di tanah airnya.
✨ Menyalakan Lentera dari Negeri Minoritas
Bukhory adalah potret nyata mahasiswa internasional yang tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menyalakan lentera harapan bagi bangsanya. Di tanah rantau, ia menemukan keluarga baru, budaya baru, dan semangat baru semua berakar dari iman yang kuat.
“Insya Allah, kalau dapat hidayah dari Allah, saya akan terus belajar dan berjuang,” katanya mantap.
Kisahnya mengingatkan kita bahwa ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membangun peradaban dan menebar cahaya di tempat yang masih gelap. (*)







