Nilai Festival Krakatau 2026 Terlalu Seremonial, Klasika Lampung Minta Aspek Edukasi Diperkuat

- Editor

Kamis, 23 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pramoedya.id: Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menyayangkan masih minimnya ruang edukasi substansial dalam agenda tahunan Festival Krakatau 2026. Perhelatan yang membawa nama besar peristiwa bersejarah tersebut dinilai cenderung seremonial dan berisiko hanya menjadi panggung hiburan semata.

Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan bahwa perhelatan yang menyematkan nama Krakatau seharusnya menjadi medium refleksi sejarah dan pembelajaran publik mengenai literasi kebencanaan, ekologi, serta kemanusiaan.

“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan, ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” tegas Mufid, Kamis (23/7/2026).

Festival Krakatau 2026 sendiri masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) dan dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 di Lapangan Saburai Enggal, Bandar Lampung. Agenda ini diisi berbagai kegiatan mulai dari Krakatau Run, Mengan Balak, Seruit Battle, karnaval budaya, hingga tur edukasi Gunung Anak Krakatau.

Meski dinilai mampu menyedot antusiasme warga, Klasika menilai rangkaian acara tersebut belum mengangkat perspektif sejarah lokal secara mendalam.

Sebagai solusi, Mufid mengusulkan agar panitia menghadirkan Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh. Naskah tersebut merupakan dokumen langka yang merekam langsung dampak letusan dahsyat Krakatau 1883 dari sudut pandang warga lokal.

“Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik,” jelasnya.

Menurut Klasika, mengabaikan aspek sejarah lokal dalam festival ini berisiko mengaburkan makna historis bagi generasi mendatang.

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” tutup Mufid. (*)

Berita Terkait

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK
Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID
Peringati HUT ke-81 PMI, Batin Wulan Dorong Penguatan Kolaborasi
Gubernur Lampung Pimpin Apel Pramuka ke-65, Dorong Ketahanan Pangan
Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi
Persiapan Porwanas 2027, Tim Minisoccer PWI Lampung Patok Target Lolos Final
Sentil Layanan RSUD Abdul Moeloek, Gubernur Lampung Minta Pasien Tak Lagi Diabaikan
Diduga Gelapkan Uang Investasi Rp4,6 Miliar, Anggota DPR Komisi III Fraksi PKB dilaporkan ke MKD

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 18:33 WIB

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK

Kamis, 24 September 2026 - 18:26 WIB

Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID

Kamis, 24 September 2026 - 18:23 WIB

Peringati HUT ke-81 PMI, Batin Wulan Dorong Penguatan Kolaborasi

Selasa, 22 September 2026 - 16:54 WIB

Gubernur Lampung Pimpin Apel Pramuka ke-65, Dorong Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 - 18:03 WIB

Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi

Berita Terbaru

Bandarlampung

FORMMASI Laporkan Dugaan Korupsi PU Balam Senilai Miliaran ke KPK

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:33 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Raih Peringkat I TPID

Kamis, 24 Sep 2026 - 18:26 WIB

Foto: Ist

Bandarlampung

Dua Calon Ketua SMSI Bandar Lampung Siap Beradu Visi Misi

Kamis, 17 Sep 2026 - 18:03 WIB