Pramoedya.id: Rumah Film KPI (RFK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) menampilkan hasil produksi terbarunya melalui pemutaran perdana film pendek Teguh di Kolo Garden, Sabtu malam (14/03/2026). Screening ini bukan sekadar ajang tontonan, melainkan etalase kreativitas mahasiswa dalam mengolah gagasan menjadi karya audio visual.
Kegiatan dikemas dalam suasana buka bersama bertema Hangatnya Ramadhan, Teguhnya Kebersamaan. Mengusung konsep Ramadhan Movie Night, acara ini mengajak penonton datang untuk berbuka dan pulang membawa cerita—sebuah pengalaman yang diramu dalam tagline: Datang untuk Berbuka, Pulang dengan Cerita.
Sebagai program kerja Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), kegiatan ini memperlihatkan bagaimana ruang organisasi mahasiswa dimanfaatkan sebagai laboratorium produksi kreatif.
Film Teguh sendiri mengangkat kisah sederhana namun dekat dengan realitas anak muda: seorang anak magang di sebuah agency produksi yang terjebak dalam sikap tidak enakan, hingga perlahan belajar menemukan jati dirinya.
Dari sisi teknis, film ini menunjukkan keseriusan penggarapan. Unsur sinematografi, tata suara, hingga artistik disusun dengan cukup matang. Beberapa adegan komedi yang disisipkan juga berhasil memancing respons spontan dari penonton selama pemutaran.
Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fariza Makmun, mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai karya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan produk yang layak ditampilkan ke publik.
“Film ini luar biasa. Terima kasih kepada seluruh tim produksi yang sudah menghasilkan film ini,” ujarnya.
Ia berharap RFK dapat terus melahirkan karya-karya lain yang tidak kalah kuat, sekaligus memperkuat posisi mahasiswa KPI di bidang produksi film.
Sutradara film, M Haris Munandar, menyebut proyek ini menjadi penutup masa kepengurusan timnya di UKM. Baginya, film ini bukan hanya karya, tetapi juga simbol kerja kolektif yang terbangun selama satu periode.
Dalam sesi diskusi, Haris menekankan bahwa proses produksi berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti. Ia menilai kekompakan tim menjadi faktor utama yang membuat berbagai ide dapat diwujudkan secara utuh.
“Semua bisa berjalan karena kebersamaan tim,” ujarnya.
Film ini diharapkan tidak berhenti di ruang kampus. Haris menyebut Teguh akan didorong untuk mengikuti berbagai festival dan kompetisi film pendek.
Kehadiran tamu dari komunitas film eksternal, unsur humas kampus, serta mahasiswa lintas jurusan turut menambah bobot acara. Screening ini menjadi titik temu antara karya mahasiswa dan publik yang lebih luas.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan waktu, RFK menunjukkan satu hal: kreativitas mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh di ruang-ruang alternatif—termasuk layar sederhana di sudut kota. (*)







