Pramoedya.id: Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (BEM FDIK) UIN Raden Intan Lampung memotori konsolidasi akbar lintas kampus untuk menyikapi krisis pendidikan dan kesehatan di Provinsi Lampung. Bertajuk “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia”, pertemuan yang digelar di halaman belakang Rektorat Universitas Lampung pada Minggu (15/2/2026), menjadi panggung perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai abai.
Ketua BEM FDIK UINRIL, Muhammad Ibrohim, menegaskan bahwa konsolidasi ini merupakan respons atas karut-marut dunia pendidikan, terutama polemik SMA Siger Bandar Lampung yang dianggap sebagai puncak gunung es kegagalan birokrasi.
Ia menyebut institusi pendidikan tersebut bukan sekadar masalah administrasi, melainkan pelanggaran hak dasar kemanusiaan.
“Izin meluruskan kawan-kawan, yang terjadi di SMA Siger bukan hanya persoalan administrasi. Ada hal prinsip soal hak dasar kemanusiaan yang tidak didapati pelajar, serta guru-guru yang dieksploitasi dengan bahasa ‘tolong’ dan dimohon ikhlas mengabdi,” kata pria yang beken dipanggil Boim itu.
Ia juga menyoroti kontradiksi isu pendidikan nasional dengan realitas lokal. Ia membandingkan kasus kematian siswa SD di NTT akibat tak mampu membeli buku dengan kondisi di Bandar Lampung yang menurutnya tak kalah bobrok.
“Hadirnya SMA Siger secara nyata menunjukkan bobroknya sikap pemerintah terhadap pendidikan di kota ini,” tegas Boim yang sedari awal sudah konsen berbicara polemik SMA Siger Bandar Lampung.
Ia menilai pendidikan yang seharusnya menjadi hal prinsipil justru direduksi menjadi komoditas politik semata.
Konsolidasi ini disepakati sebagai gerakan kesadaran kolektif. Massa aksi secara tegas memberikan ultimatum kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan permasalahan yang telah lama merusak sistem pendidikan dan kesehatan.
Mahasiswa menekankan bahwa gerakan perubahan harus dilakukan segera agar sistem yang ada memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
“Tanpa perbaikan fundamental, mereka menilai visi Indonesia Emas 2045 hanyalah slogan kosong di tengah penderitaan rakyat kecil dan tenaga pendidikan,” tutupnya.
Untuk diketahui, diskusi panjang yang digalang BEM FDIK bersama Aliansi BEM SI dan mahasiswa se-Lampung ini menghasilkan delapan poin tuntutan utamaMenjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama.
- Mewujudkan sekolah gratis.
- Menambahkan dana pendidikan.
- Memindahkan siswa SMA Siger Bandar Lampung ke sekolah yang memiliki legalisasi.
- Menghentikan regulasi yang tidak berpihak kepada rakyat.
- Meningkatkan kesejahteraan guru honorer.
- Mendorong regulasi pajak progresif.
- Memberikan kepastian pendidikan bagi dokter spesialis. (*)







