Pramoedya.id: Pemerintah Provinsi Lampung mendorong penguatan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah pasar.
Sampah organik pasar yang mendominasi hingga 61 persen dinilai berpotensi besar diolah menjadi pupuk organik guna mendukung ketahanan pangan daerah.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menyampaikan hal itu saat menerima audiensi Yayasan Muda Inspirasi Restorasi Zakat Alam Provinsi Lampung di Ruang Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (18/8/2025).
Ketua Yayasan, Adyanta Karo Karo, memaparkan inisiatif uji coba pengolahan sampah pasar di Desa Fajar Baru, Lampung Selatan.
Sampah sisa sayur dan buah dari Pasar Jatimulyo dicacah dan difermentasi bersama kotoran hewan serta limbah kelapa muda untuk dijadikan pupuk.
Namun, Adyanta mengeluhkan belum adanya sistem pemilahan sejak dari sumbernya, sehingga sebagian sampah organik membusuk sebelum sempat diolah. Ia meminta Pemprov Lampung membantu pasokan sampah pasar serta rantai distribusi pupuk organik tersebut.
Menanggapi permintaan tersebut, Jihan mengapresiasi inisiatif pengolahan limbah pasar. Namun, ia menegaskan bahwa secara aturan eksekusi teknis dan pengelolaan sampah pasar berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota.
“Kami bisa mengorkestrasi, merekomendasikan, atau memediasi. Kami tidak bisa serta-merta secara penuh mengarahkan suplai harus kepada satu yayasan atau perusahaan karena secara aturan kewenangannya berada di bawah kabupaten/kota,” kata Jihan.
Jihan berjanji Pemprov Lampung akan memfasilitasi komunikasi antara yayasan dengan dinas terkait di tingkat kabupaten/kota yang memegang kendali wilayah pasar.
Selain itu, Pemprov Lampung siap menjembatani koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mendorong distribusi produk ke pasar, serta mengkaji peluang integrasi dengan Program Desa KIMUJA melalui Pupuk Hayati Cair (PHC).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Riski Sofyan, menyatakan siap menggelar sosialisasi bersama pemerintah kabupaten/kota guna mereplikasi model pengolahan sampah pasar dari Lampung Selatan ke daerah lain.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menekankan pentingnya uji efektivitas atau pembuatan petak percontohan (demplot) sebelum pupuk dilepas secara masif ke petani.
“Uji efektivitas ini untuk melihat sejauh mana dampaknya terhadap tanaman. Pilot project di Desa Fajar Baru bisa melibatkan kelompok tani atau kelompok wanita tani (KWT) agar manfaatnya langsung teruji,” tutup Elvira. (*)







