Pramoedya.id: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat penyerapan tenaga kerja sebanyak 35,5 ribu orang pada Mei 2026. Meski angka bekerja meningkat menjadi 4,95 juta orang, struktur pasar kerja di wilayah ini masih didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah dan sektor informal.
Data BPS menunjukkan sebanyak 91,54 persen dari total penduduk bekerja di Lampung merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat ke bawah. Sementara itu, porsi pekerja berpendidikan tinggi hanya berada di kisaran 8,46 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, mengatakan porsi terbesar penyerapan lapangan kerja masih bergantung pada sektor primer, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyerap 44,04 persen tenaga kerja.
“Penambahan tenaga kerja terutama terjadi pada sektor pertanian sebanyak 15,94 ribu orang, disusul industri pengolahan 8,18 ribu orang, dan perdagangan 4,74 ribu orang,” kata Ahmadriswan dalam rilis statistik resmi di Bandar Lampung, Rabu (5/8/2026).
Tingginya ketergantungan pada sektor tradisional ini berimbas pada minimnya porsi pekerja formal yang hanya tersisa 30,18 persen. Sebaliknya, sektor informal justru mendominasi pasar kerja Lampung dengan proporsi mencapai 69,82 persen.
Selain masalah kualitas pekerjaan, BPS juga mencatat kenaikan tipis pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,97 persen. Jurang pengangguran terbesar terjadi di kawasan perkotaan yang menyentuh angka 6,15 persen, berbanding jauh dengan wilayah perdesaan yang hanya 2,54 persen.
Ahmadriswan menilai pemerintah daerah menghadapi tantangan bukan sekadar menambah jumlah orang bekerja, melainkan menciptakan lapangan kerja yang produktif dan layak.
“Tantangan Lampung adalah memastikan pekerjaan tersebut produktif, berpendapatan memadai, dan memberikan perlindungan bagi pekerja. Penguatan industri, pendidikan vokasi, serta penguatan UMKM menjadi krusial,” tutup Ahmadriswan. (*)







