Pramoedya.id: Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ubama (PBNU) mulai diisi oleh delapan tokoh. Namun, Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Muhammad Mukri, menyatakan peta persaingan belum mengerucut.
Delapan nama yang beredar meliputi petahana Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum KH Zulfa Mustofa, Bendahara Umum Gudfan Arif, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).
Mukri menyatakan kondisi bursa saat ini masih dinamis.
“Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah,” kata Mukri saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp, Senin (20/07/2026).
Menurut dia, kemunculan banyak calon mencerminkan adanya penyampaian aspirasi dalam organisasi. Mengenai dinamika tersebut, Mukri menegaskan belum ada calon yang dapat dipastikan melampaui pesaing lainnya.
“Ya sekarang sih kalau ngomong mengerucut, belum,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perolehan dukungan baru akan terlihat saat muktamar berlangsung. Dalam pemilihan, setiap bakal calon harus memperoleh sedikitnya 99 dukungan untuk ditetapkan sebagai calon Ketua Umum.
“Kalau ternyata kurang dari situ, kan, enggak memenuhi untuk jadi calon,” jelas Mukri.
Mekanisme ini merujuk pada tata tertib Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2021. Saat itu, tahap penjaringan diikuti lima nama yakni Gus Yahya (327 suara), Said Aqil Siroj (203 suara), As’ad Said Ali (17 suara), Marzuki Mustamar (2 suara), dan Ramadhan Bayo (1 suara).
Hanya dua kandidat yang melampaui ambang 99 suara dan melaju ke tahap pemilihan akhir. Jika mekanisme serupa kembali diterapkan, kandidat yang tidak memenuhi syarat dukungan akan tereliminasi. Terkait konfigurasi dukungan, Mukri membuka kemungkinan adanya koalisi antar kelompok pendukung.
“Nanti bisa saja semacam koalisi,” urai Mukri.
PBNU mencatat sekitar 594 peserta dari unsur PCNU, PWNU, dan PCINU masuk dalam daftar sementara yang sedang menjalani verifikasi. Mengingat kedaulatan muktamar berada di tangan pengurus wilayah dan cabang, kemampuan kandidat dalam menjangkau basis massa daerah menjadi faktor penentu.
Di sisi lain, persiapan teknis terus berjalan untuk Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Penetapan lokasi tersebut diputuskan melalui rapat gabungan harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada (7/7/2026).
Mukri memastikan persiapan sarana dan prasarana telah selesai.
“Kalau masalah lokasi enggak ada masalah. Tinggal sekarang mempersiapkan materi-materi muktamar,” tutup Mukri. (*)







