Pemprov Lampung mengejar target penyelesaian perbaikan jalan Padang Cermin–Teluk Kiluan pada Agustus mendatang. Mengandalkan dana Inpres Rp48,2 miliar.
Pramoedya.id: Pemerintah Provinsi Lampung mulai memacu pengerjaan jalan ruas Padang Cermin–Teluk Kiluan, Kabupaten Pesawaran. Proyek yang ditargetkan rampung pada 17 Agustus 2026 ini diharapkan menjadi solusi kebuntuan akses menuju destinasi wisata bahari unggulan di pesisir Lampung.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut perbaikan ini bukan menggunakan dana daerah, melainkan skema Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah. “Artinya, pemerintah pusat memberikan perhatian besar untuk membantu perbaikan jalan provinsi di Lampung,” ujar Rahmat saat meninjau lokasi bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Rabu, 15 April 2026.
Pengerjaan jalan ini merupakan implementasi Inpres Nomor 11 Tahun 2025. Melalui skema kontrak tahun jamak (multi-years contract) 2025–2026, nilai proyek tercatat mencapai Rp48,2 miliar. Penanganan difokuskan pada enam segmen yang melintasi tiga kecamatan: Padang Cermin, Marga Punduh, dan Punduh Pidada.
Meski total panjang fungsional mencapai 31 kilometer, penanganan efektif dilakukan sepanjang 7,2 kilometer. Kontraktor menggunakan rigid pavement atau beton cor untuk memperkuat struktur jalan yang selama ini rentan rusak akibat kontur tanah dan beban kendaraan. Dengan perbaikan ini, tingkat kemantapan jalan diproyeksikan melonjak dari 83,80 persen ke angka 96,85 persen.
Selama ini, akses menuju Teluk Kiluan, yang dikenal sebagai habitat lumba-lumba hidung botol, kerap dikeluhkan wisatawan dan warga. Kondisi jalan yang buruk dianggap menjadi faktor utama lambatnya pertumbuhan ekonomi di pesisir Pesawaran.
Kondisi jalan di wilayah ini sempat menjadi sorotan tajam di media sosial. Nur, seorang guru di Desa Kampung Baru, menceritakan bagaimana warga sempat meluapkan kekecewaan melalui sindiran visual.
“Dulu rusaknya parah, sampai ada yang mengedit pakai AI seolah-olah jalan ini jadi kubangan sawah berisi ikan,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Selain faktor wisata, perbaikan ini mendesak bagi mobilitas harian. Banyak pelajar dilaporkan sering mengalami kecelakaan akibat jalan berlubang dan licin.
Bagi warga seperti Muhammad Hasyim, proyek ini menghapus kesan
“pembangunan yang tebang pilih”. Ia mengakui sebelumnya masyarakat merasa daerah mereka dianaktirikan dibanding wilayah tetangga. “Dulu di Pedada sudah dibangun, di sini belum. Sekarang kami berharap hasil bumi bisa lebih cepat terjual ke kota,” tambahnya.
Pemprov Lampung menargetkan konektivitas ini nantinya tersambung hingga ke wilayah Tanggamus untuk membentuk sabuk ekonomi pariwisata terintegrasi. (*)







